Federer catatkan kemenangan ke-17 di pembukaan Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Sempat tertinggal di set pertama, petenis Swiss Roger Federer​​ akhirnya bisa menundukkan petenis Afrika Selatan Lloyd Harris dengan 3-6, 6-1, 6-2, 6-2 dalam ajang pembuka Wimbledon, menambah catatan kemenangan putaran pertamanya di turnamen tenis grand slam itu menjadi 17 kali berturut-turut.

Unggulan kedua itu bisa mematahkan enam servis milik Harris, petenis muda 22 tahun yang melakoni aksi pertamanya di Wimbledon, menurut laporan atptour.com, Rabu.

“Saya merasa bermain lambat dan dia bagus dalam mengembalikan pukulan. Tapi mungkin dengan pengalaman, saya tetap tenang. Saya tahu bahwa saya punya kelebihan yang bisa digunakan, trik-trik lain. Saya hanya perlu mengulur waktu,” tutur petenis berusia 37 tahun itu.

Dalam pertandingan ini, Harris sempat mengamankan set pertama, tapi Federer lebih tenang dan dengan cepat menyerang, yang langsung berdampak pada menurunnya permainan Harris.

Federer memenangkan 29 dari 31 poin bersih (94%) di pertandingan dan berakhir dengan 41 winners serta hanya melakukan 14 kesalahan.

Federer di putaran kedua akan bertemu Brit Jay Clarke untuk pertama kalinya.

Clarke mengalahkan petenis Amerika Noah Rubin 4-6, 7-5, 6-4, 6-4 pada putaran pertama.

“Jujur saja, saya sama sekali tidak memikirkannya. Saya tahu betapa sulitnya bermain dengan Federer. Jika bisa mengalahkannya maka itu adalah kemenangan yang bagus. Dia menjadi motivasi tambahan untuk dilewati,” tutur Clarke saat ditanya soal peluangnya melawan Federer.

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon
Baca juga: Wilander tidak favoritkan Federer juarai Wimbledon 2019

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Nadal atasi pertemuan pertama Sugita di pembukaan Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Rafael Nadal dengan mudah mengatasi pertemuan pertamanya dengan petenis kualifikasi asal Jepang Yuichi Sugita melalui skor 6-3, 6-1, 6-3.

“Itu awal yang baik bagi saya, menang dalam tiga set langsung melawan pemain yang tahu cara bermain di rumput. Dia pernah memenangkan sebuah turnamen, menang melawan petenis bagus di lapangan rumput. Jadi ini adalah awal yang positif bagi saya,” tutur Nadal mengutip atptour.com, Rabu.

Nadal tetap mampu menjaga konsistensi permainannya meski tidak turun ke lapangan sejak mengklaim gelar Roland Garros ke-12 di bulan lalu.

Baca juga: Kyrgios diprediksi bertemu Nadal pada putaran kedua Wimbledon

Baca juga: Nadal tak perlu pemanasan Wimbledon

Meski Sugita pernah berada di peringkat 247 ATP, ia adalah lawan yang sulit, dengan catatan memenangkan Antalya dua tahun lalu dan naik ke urutan ke-36.

Nadal mematahkan servis Sugita enam kali, sementara ia hanya dipatahkan satu kali, dan itu terjadi pada gim pertama pertandingan.

Hal yang paling mengesankan ialah Nadal memenangkan 46 persen dari poin servis pertamanya, membuat pemain Jepang berusia 30 tahun itu tidak mendapatkan banyak poin.

Sesuai prediksi, petenis Spanyol itu akan bertemu dengan petenis Australia Nick Kyrgios di putaran kedua.

Putaran kedua Wimbledon akan menjadi pertandingan ketujuh keduanya, dengan catatan kemenangan keduanya imbang 3-3. Kyrgios mengalahkan Nadal di Acapulco awal tahun ini, dan juga di Wimbledon tahun 2014.

“Saya akan bermain melawan pemain top berbakat, pemain yang sangat berbahaya. Dia lawan yang sangat berbahaya, saya tahu itu. Sehingga saya harus 100 persen. Putaran kedua sepertinya tidak mudah untuk dilalui,” kata Nadal.

Baca juga: Nadal nikmati kemenangan ke-12 French Open

Baca juga: Nadal tundukkan Thiem demi rekor gelar ke-12 French Open

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kyrgios diprediksi bertemu Nadal pada putaran kedua Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Setelah melewati pertandingan putaran pertama dengan sulit, petenis Australia Nick Kyrgios diprediksi akan bertemu lawan bebuyutannya yaitu Rafael Nadal pada putaran kedua turnamen tenis Wimbledon.

Pada putaran pertama, Kyrgios mengalahkan rekan senegaranya Jordan Thompson dengan skor 7-6(4), 3-6, 7-6(10), 0-6, 6-1 dalam waktu tiga jam dan 26 menit, demikian menurut atptour.com, Selasa.

Dalam pertandingan tersebut Kyrgios unggul secara teknis, namun nyatanya Thompson cukup lihai dalam mengambil keuntungan dari kesalahan yang kerap dilakukan petenis peringkat 43 itu.

Kyrgios yang kerap kehilangan fokus dengan cepat dibalas Thompson dengan mencetak angka.

Sadar dengan kesalahannya, Kyrgios mengunci posisi di sisi samping lapangan untuk menghasilkan pukulan pendek untuk memupuk balik angka dari Thompson.

Sementara itu, agar bisa bertemu Kyrgios, Nadal terlebih dulu harus mengalahkan Yuichi Sugita dari Jepang dalam pertandingan pembuka.

Jika mereka bertemu, itu akan menjadi pertandingan Head2Head FedEx ATP ketujuh mereka dengan catatan sebelumnya imbang 3-3.

Kyrgios sempat mengalahkan Nadal di Acapulco awal tahun ini dan di Wimbledon tahun 2014.

Baca juga: Barty melenggang lalui putaran pertama Wimbledon

Baca juga: Christopher Rungkat awali Wimbledon lawan unggulan 14
 

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Barty melenggang lalui putaran pertama Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Dalam pertandingan Grand Slam pertamanya sebagai peringkat satu dunia, petenis Australia Ashleigh Barty dengan mudah melewati petenis China Zheng Saisai dengan skor 6-4, 6-2 di putaran pembuka Wimbledon, Selasa.

Catatan kemenangan Barty pun bertambah usai pertandingan berdurasi 75 menit itu, menjadi 4-0 melawan peringkat ke-43, menurut laporan wtatennis.com, Selasa.

Barty memenangkan sebesar 86 persen poin pada servis pertamanya, dan mengonversi tiga dari enam break pointnya selama pertandingan, termasuk mencetak 16 winners dan 11 untuk Zheng.

Selanjutnya Barty akan menghadapi petenis Belgia Alison van Uytvanck di babak kedua, yang di putaran pertama mengalahkan juara Grand Slam dua kali Svetlana Kuznetsova dari Rusia dengan skor 6-4, 4-6, 6-2.

Barty sedangan dalam kondisi terbaiknya, bahkan memperpanjang catatan kemenangannya menjadi 13 pertandingan berturut-turut, meliputi gelar juara tunggal putri Grand Slam pertamanya di Roland Garros, serta perebutan gelarnya di Birmingham yang menariknya ke puncak peringkat WTA.

Baca juga: Azarenka kalahkan Cornet, maju ke putaran kedua

Baca juga: Christopher Rungkat awali Wimbledon lawan unggulan 14

Baca juga: Naomi Osaka juga terjungkal

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Petenis Indonesia amankan tiket putaran kedua Thamrin Cup

Jakarta (ANTARA) – Sejumlah petenis junior mengamankan langkah ke putaran kedua Thamrin Cup 2019, setelah mengatasi permainan lawan-lawannya dalam pertandingan putaran pertama yang dimainkan di Lapangan Tenis Gelora Mahasiswa Sumantri Brodjonegoro dan Klub Kelapa Gading, Jakarta, Selasa.

Petenis putri Niken Ferlyana Kusumaningtyas menundukkan petenis Malaysia Sze Xuan Lim dengan skor 2-6, 6-2, 6-1. Sementara Nadya Dhaneswara menang menang 6-2, 6-1 atas petenis Taiwan Hong Yu Chen.

Kemenangan juga diraih Fatima Andwidatu Wardoyo yang mengandaskan perlawanan petenis Malaysia Hui Yii Soo dengan skor 7-5, 6-7 (7), 6-1. Fitriana Sabrina mengalahkan kompatriotnya, Nur Rosida Mega Hadiati, dengan skor meyakinkan 6-1, 6-0.

Kemenangan juga menjadi milik Keishia Saridevi Sugiarta, Aurelia Azzahra Putri, Aulia Risma Widyaningsih, Cartika Wisesha Dewi Larasati, dan Felicia Halim.

Sementara pada kategori putra, terdapat sembilan petenis yang mengunci langkah ke putaran selanjutnya, yakni Rifqy Sukma Ramadan Sumiarsa, Lucky Chandra Kurniawan, Justin Kuo, Tegar Abdi Satrio Wibowo, Claudio Renardi Lumanao, Gunawan Trismuwantara, Daniel Gunawan, Muhammad Rizal Muzaqir, dan Jerall Yasin.

Berikut hasil-hasil pertandingan Thamrin Cup 2019 pada Selasa:

Putri
Diandra Puti Avantia vs Rachel Megan Peters (Inggris Raya) 4-6, 3-6
Ke Shuan Jang (Taiwan) vs Diah Ayu Novita Yosri Saputri (Indonesia) 6-0, 7-6 (3)
Nea Pieroeli (Indonesia) vs Lenien Jamir (India) 6-0, 7-6 (5)
Nadya Dhaneswara (Indonesia) vs Hang Yu Chen (Taiwan) 6-2, 6-1
Hui Yii Soo (Malaysia) vs Fatima Andwidatu Wardoyo (Indonesia) 5-7, (7)7-6, 1-6
Yuyun Chen (Taiwan) vs Carolina Martha Sanjaya (Indonesia) 6-0, 6-2
Vineetha Mummadi (India) vs Putu Kevalaih Pribadi (Indonesia) 6-2, 6-4
Justmin Da Costa (Indonesia) vs Fang An Lin (Taiwan) 2-6, 0-6
Nur Rosida Mega Hadiati (Indonesia) vs Fitriana Sabrina (Indonesia) 6-1, 6-0
Hsing Ju Sung (Taiwan) vs Anggi Dwi Hidayati (Indonesia) 6-4, 4-6, 6-3
Diandra Puti Avantia (Indonesia) vs Rachel Megan Peters (Inggris Raya) 4-6, 3-6
Yi Wendan Zhu (China) vs Keisha Saridevi Sugiarta (Indonesia) 0-6, 0-6
Aurelia Azzahra Putri (Indonesia) vs Dainhee Kim (Korea Selatan) 6-0, 6-0
Bella Ayu Septiani (Indonesia) vs Aulia Risma Widyaningsih (Indonesia) 0-6, 1-6
Cartika Wisesha Dewi Larasati (Indonesia) vs Samantha Edison (Indonesia) 6-2, 6-0
Felicia Halim (Indonesia) vs Jeanette Angela Hartono (Indonesia) 6-2, 6-1

Putra
Rifqy Sukma Ramadan Sumiarsa (Indonesia) vs Taentawan Taddeo (Thailand) 6-2, 6-2
Nathan Anthony Barki (Indonesia) vs Lucky Chandra Kurniawan (Indonesia) 2-6, 1-6
Justin Kuo (Indonesia) vs Jeremy Morgan Isman (Indonesia) 6-0, 6-0
Yoshinobu Nakatsuji (Jepang) vs Brandon Suryana (Indonesia) 6-3, 6-0
Akhilendran Indrabalan (India) vs Nicholas Eleazar Widyaputra (Indonesia) 6-4, 6-3
Nauvaldo Jati Agatra (Indonesia) vs Mitsuki Wei Kang Liong (Malaysia) (4)6-7, 6-7
Thomas Brun (Swiss) vs Owisa Makuta Annas (Indonesia) 6-0, 6-0
Faried Widyarohmashiansyah (Indonesia) vs Rohan Srivasta (India) 4-6, 6-4, 3-6
Louis Maha Vio Deo Tarigan (Indonesia) vs Arjun Sriram (AS) 1-6, 1-6
Kai I Wang (Taiwan) vs Tegar Abdi Satrio Wibowo (Indonesia) 5-7, retire
Claudio Renardi Lumanao (Indonesia) vs Eric Padgham (Australia) 7-6 (3), 2-6, 7-5
Gunawan Trismuwantara (Indonesia) vs Hayden Khoo Menon (Malaysia) 6-2, 6-4
Daniel Gunawan (Indonesia) vs Maenav Jain (India) 6-7 (3), 6-1, 6-2
Dhruv Tangri (India) vs Kareem Abdul Hakim (Indonesia) 7-6(4), 6-3
Cameron Austin Chang (AS) vs Muhammad Rizal Muzaqir (Indonesia) 5-7, 0-6
Jerall Yasin (Indonesia) vs Deepender Grewal (India) 4-6, 7-6 (0)

Baca juga: Indonesia borong gelar juara Thamrin Cup 2017

Baca juga: Rifanty bersiap hadapi turnamen ITF di Hawaii

Baca juga: Nadia/Arianne taklukkan pasangan Afsel untuk menjuarai Jakarta 15K

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Azarenka kalahkan Cornet, maju ke putaran kedua

Jakarta (ANTARA) – Untuk ke-12 kali dalam 13 penampilannya sepanjang karir, Victoria Azarenka maju ke putaran kedua turnemen tenis Wimbledon.

Petenis Belarusia itu mengalahkan Alizé Cornet dari Prancis untuk menutup pertandingan Senin di Lapangan 12, dengan kemenangan 6-4, 6-4, dalam waktu hampir 90 menit.

Dengan kemenangan tersebut, Azarenka meningkatkan rekor pertemuan (head-to-head) melawan Cornet menjadi 6-0, mencatat kemenangan dalam pertemuan pertama kedua pemain di lapangan rumput dan pertandingan pertama dalam lebih dari tiga tahun.

“Saya merasa kualitas pertandingan ini cukup baik. Putaran pertama bisa saja sulit, terutama di lapangan rumput. Menunggu seperti sepanjang hari untuk pertandingan ini juga perlu sedikit penyesuaian dan menegangkan. Anda ingin masuk ke lapangan dan bermain dan sebagainya,” kata Azarenka seperti dikutip dari laman WTA Tour, Selasa.

“Saya merasa pertandingan-pertandingan pertama adalah sesuatu yang Anda inginkan untuk mengawali turnamen dan semua pemain agak tegang melihat bagaimana Anda melakukannya.

“Saya merasa memulai pertandingan dengan sangat baik, dan saya sedikit tersendat pada set pertama, tetapi saya bangkit kembali dengan sangat baik dan seperti menginjak gas, dan benar-benar tidak membiarkan terkejar.”

Azarenka menempatkan dirinya memimpin saat ia mematahkan servis Cornet pada gim pertama masing-masing set, tapi perlu menahan beberapa perlawanan keras petenis Prancis itu untuk menang dua set langsung.

Cornet mematahkan servis pada break point keempatnya pada gim keenam set pertama, dan kemudian mempertahankan servisnya untuk unggul lebih dulu, namun Azarenka akhirnya memenangi 12 dari 14 poin terakhir untuk lolos pada set pertama.

Pada set kedua, Azarenka dipaksa menyelamatkan dua break point saat ia melakukan servis untuk menyudahi pertandingan, satu-satunya peluang bagi Cornet untuk bertahan pada set tersebut, namun Azarenka lolos dengan aman.

Dua kali juara Grand Slam itu menghasilkan hampir dua kali lebih banyak dari total winner Cornet dalam pertandingan tersebut, mencetak 28 dibanding 18 yang ditorehkan Cornet, dengan 22 kesalahan sendiri dibanding 17 yang dilakukan Cornet.

Selanjutnya Azarenka akan bertemu dengan petenis Australia Ajla Tomljanovic, yang hanya kehilangan empat gim untuk mengalahkan unggulan 29 dan perempat finalis 2018 Daria Kasatkina, 6-3, 6-1.

Baca juga: Azarenka sempat khawatir tutup karir gara-gara hamil

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christopher Rungkat awali Wimbledon lawan unggulan 14

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Christopher Rungkat yang berpasangan dengan Hsieh Cheng-Peng dari Taiwan akan mengawali laga mereka pada turnamen Grand Slam Wimbledon melawan unggulan 14 Oliver Marach/Jurgen Melzer dari Austria.

Kedua pasangan akan berlaga pada putaran pertama di lapangan rumput Wimbledon, Rabu (3/6).

“Saya telah memanfaatkan setiap peluang dengan maksimal selama dua tahun terakhir ini untuk memperbaiki teknik maupun mengasah pengalaman di lapangan,” ujar Christoper Rungkat yang sudah beberapa hari berada di Wimbledon itu.
 

Christo yang saat ini menempati peringkat ganda 69 dunia itu sempat mengikuti turnamen pemanasan pada ATP Challenger Tour, Nature Valley Open di Nottingham, Inggris.

Baca juga: Kejutan besar, Venus tumbang di tangan anak SMA

Namun sebagai pasangan unggulan kedua, Christo/Hsieh langsung tersingkir pada putaran pertama, kalah oleh pasangan tuan rumah yang mengikuti turnamen itu melalui fasilitas wildcard Liam Broady/Scott Clayton 6-7(1), 6-4, 6-10.

Pada Mei lalu, Christo/Hsieh juga berlaga pada Grand Slam tanah liat French Open di Roland Garros, Paris.

Pasangan ini berhasil melaju ke putaran kedua, namun kemudian dihentikan ganda tuan rumah Prancis Gregoire Barrere/Quentin Halys dalam tiga set 6-7(6), 6-3, 3-6.

“Pengalaman berlaga di Roland Garros tentunya menjadi pelajaran berharga. Saya menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi turnamen kali ini,” katanya.

Baca juga: Naomi Osaka juga terjungkal
 

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tsitsipas dan Zverev tersingkir pada putaran pertama Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Dua petenis muda, Stefanos Tsitsipas dan Alexander Zverev, secara mengejutkan tersingkir pada putaran pertama Wimbledon , yang berlangsung pada Selasa dini hari WIB.

Petenis Yunani Tsitsipas memasuki turnamen ini dengan status sebagai salah satu favorit untuk merusak dominasi “Tiga besar” (Novak Djokovic, Rafael Nadal, dan Roger Federer), namun yang terjadi adalah ia takluk 4-6, 6-3, 4-6, (8)7-6, 3-6 dari petenis Italia Thomas Fabbianno yang tampil gemilang di Lapangan Dua.

Tsitsipas menggagalkan dua match point pada tiebreak set keempat, namun Fabbiano bermain tanpa kenal lelah, dan ketika ia mematahkan serve lawan pada gim ketujuh set penentuan, kekalahan semakin dekat bagi petenis Yunani tersebut.

“Saya tidak akan layak mendapatkan kemenangan pada hari ini, bahkan meski saya menang, karena saya tidak bermain baik,” kata petenis 20 tahun itu, yang mencapai semifinal Australia Open tahun ini setelah menaklukkan Roger Federer, kepada para pewarta seperti dilansir Reuters.

Baca juga: Djokovic lewati rintangan pertama Philipp Kohlschreiber

Tsitsipas “didampingi” petenis muda lainnya untuk meninggalkan panggung Wimbledon, ketika petenis Jerman Zverev disingkirkan petenis kualifikasi asal Ceko Jiri Vesely, dengan skor 6-4, 3-6, 2-6, 5-7.

Petenis 22 tahun itu terlihat akan mengamankan kemenangan ketika ia memenangi set pertama, namun di luar perkiraan Vesely justru mampu bangkit.

Zverev tergelincir saat melakukan serve pada kedudukan 6-5, 30-15 di set keempat, membuat lawannya mendapatkan dua match point, dan bola voli backhandnya mengenai net untuk memastikan ia harus tersingkir lebih awal.

“Ini seperti pertandingan Grand Slam biasa bagi saya. Saya memulainya dengan baik, kemudian satu-dua hal tidak berjalan mulus, dan semuanya sedikit-sedikit menjadi berantakan,” tuturnya.

Baca juga: Kejutan besar, Venus tumbang di tangan anak SMA

Baca juga: Naomi Osaka juga terjungkal

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Naomi Osaka juga terjungkal

London, Inggris (ANTARA) – Ambisi Naomi Osaka meraih gelar Grand Slam ketiga berakhir prematur Senin waktu setempat ketika dia takluk kepada Kazakh Yulia Putintseva dengan 6-7 (4/7), 2-6 pada babak pertama Wimbledon yang membuatnya hampir menangis.

Petenis Jepang berusia 21 tahun yang menjadi unggulan kedua turnamen ini menjadi petenis unggulan dua teratas pertama yang tersisih dari babak pertama Wimbledon sejak Martina Hingis tersingkir pada 2001 ketika menyandang unggulan utama edisi ini.

Kekalahan ini menjadi pukulan terberat sang juara US Open dan Australia Open sampai harus mempersingkat konferensi pers pascalaga.

“Sudah ya? Saya merasa saya mau menangis,” kata dia seperti dikutip AFP.

Baca juga: Naomi Osaka kini merasa bebannya sudah lepas

Osaka pernah berkata dia merasa bebannya telah lepas setelah dia tidak lagi menjadi petenis nomor satu dunia bulan lalu. Tetapi perasaannya itu tidak terlihat saat menghadapi Putintseva yang berbakat itu di Centre Court.

Osaka mengaku akan belajar dari kekalahannya ini. Dia mengaku kekalahan dia dua pekan lalu melawan Putintseva di Birmingham telah menghantuinya di lapangan ketika dia menghadapi kembali lawannya itu di Wimbledon.

Putintseva yang kelahiran Rusia sebelumnya tak pernah tampil di Centre Court. “Saya sudah menuntaskan kerja bagus di sana dan saya menghadapi lawan hebat. Menakjubkan,” kata petenis berusia 24 tahun itu.

Mengaku tidak terlalu memikirkan catatan kemenangannya dari Osaka sebelum masuk gelanggang Centre Court, Putintseva berkata, “Sejujurnya setiap pertandingan itu adalah pertarungan yang saya tidak ketahui apa yang akan terjadi. Saya bermain sebaik-baiknya, cuma itu yang bisa saya lakukan.”

Baca juga: Djokovic lewati rintangan pertama Philipp Kohlschreiber

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kejutan besar, Venus tumbang di tangan anak SMA

London (ANTARA) – Cori Gauff membuat dalih sempurna telah membolos dari sekolahnya di sebuah SMA di Florida, Senin waktu setempat, ketika petenis remaja Amerika Serikat berusia 15 tahun itu menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Wimbledon dengan menumbangkan Venus Williams 6-4 6-4 pada babak pertama.

Berusia 39 tahun, Williams dianggap sebagai dinasti Wimbledon karena dia telah menjadi bagian dari keluarga All England Club selama hampir dua dekade, dengan menjadi juara tunggal sebanyak lima kali, termasuk dua kali sebelum Gauff dilahirkan.

Tetapi Gauff, petenis paling muda yang lolos ke undian utama dalam era profesional, tidak sedang berselera bermain menunggu nasib ketika dia menciptakan ironi besar akibat selisih umur lebih muda 24 tahun dan selisih peringkat sampai 269 level dari idolanya Venus Williams.

Bermain tanpa mengenal takut walau masih sangat muda, dia memaksa Williams menyerah.

“Saya sendiri tak tahu bagaimana menjelaskan perasaan saya,” kata Gauff yang menyapu air matanya begitu meninggalkan Court One, beberapa saat setelah kemenangan menakjubkannya itu, seperti dikutip Reuters.

“Saya sampai harus menenangkan diri saya sendiri, saya tak pernah bermain di lapangan sebesar ini, tetapi saya harus mengingatkan diri saya bahwa garis di lapangan ini sama saja, segala hal di sekitarnya mungkin lebih besar tetapi garisnya sama dan setelah selesai meraih poin saya cuma bilang pada diri saya untuk tetap tenang.”

Baca juga: Djokovic lewati rintangan pertama Philipp Kohlschreiber

“Saya tak menyangka ini bakal terjadi, sekarang saya sungguh hidup di alam mimpi. Saya bahagia sekali Wimbledon telah memberi saya kesempatan untuk bermain dan saya sungguh tak menyangka akan sejauh ini,” sambung petenis remaja ini, yang masuk Wimbledon dengan wildcard.

Sebelum pertandingan ini, petenis yang akrab dipanggil Coco itu berkata kepada follower-follower Instagram-nya: “Dua guru saya baru tahu saya ternyata main tenis setelah saya masuk undian utama di sini.”

Seandainya guru-guru dia di Florida perlu bukti apa yang sebenarnya dia lakukan, maka mereka hanya perlu menghidupkan layar televisi mereka untuk menyaksikan bagaimana Wimbledon dibuat gila oleh Coco Senin kemarin.

Sebuah break pada game kelima set pembuka, yang di dalamnya termasuk lob cantik ke arah Williams yang cuma bisa mematung, sudah cukup untuk membuatnya memenangkan set pertama.

Permainan tak bertenaga lawannya terus berlanjut pada set kedua dan si petenis remaja mengunci kemenangan pada match point keempat ketika forehand Williams tak bisa melewati net.

“Setelah pertandingan usai saya bilang padanya terima kasih untuk semua yang Anda berikan. Saya tak akan ada di sini jika bukan demi dia. Saya bilang padanya bahwa dia sangat menginspirasi dan bahwa saya selalu ini menyampaikannyaa kepada dia. Sekalipun saya sudah pernah bertemu dengan dia, saya kira saya baru berani (mengungkapkan hal itu kepada dia sekarang).”

Baca juga: Borna Coric mengundurkan diri dari Wimbledon karena cedera

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Enes Kanter gabung Celtics

Jakarta (ANTARA) – Pebasket asal Turki Enes Kanter dikabarkan sepakat bergabung dengan Boston Celtics setelah kontraknya di Portland Trail Blazers habis.

Manajer Kanter, Hank Fetic, Selasa dini hari WIB, mengungkapkan kesepakatan tersebut lewat akun twitter pribadinya, @hadisfetic, yang menyebutkan kliennya telah menyepakati kontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan pada tahun kedua di tangan pemain.

Sementara itu kolumnis The Athletics Shams Charania menyebut nilai kontrak Kanter di Celtics adalah sebesar 10 juta dolar AS (Rp141 miliar).

Musim lalu, Kanter tampil di dua klub yakni New York Knicks dan Portland Blazers.

Baca juga: Walker didekati Celtics usai negosiasi kontrak bersama Hornets buntu

Kontrak Kanter diputus oleh Knicks pada 7 Februari 2019 sesaat sebelum ia hijrah ke Trail Blazers dan melaju hingga final Wilayah Barat NBA untuk kalah empat pertandingan langsung dari Golden State Warriors.

Pada musim reguler Kanter tampil 23 kali untuk Trail Blazers dengan rata-rata 13,1 poin dan 8,6 rebound, namun penampilan puncaknya terjadi pada fase playoff.

Kanter yang sempat bermain dengan menahan sakit cedera bahunya memiliki rata-rata 11,4 poin dan 9,7 rebound selama playoff, yang merupakan catatan playoff terbaik sepanjang kariernya.

Di Celtics, Kanter berkesempatan berbagi lapangan dengan pemain All-Star Kemba Walkers yang baru saja bergabung dengan Boston setelah tak ditawari kontrak maksimal oleh tim lamanya Charlotte Hornets.

Baca juga: Blazers tambah kontrak Lillard Rp2,7 triliun, juga ikat Rodney Hood
Baca juga: Bursa pemain NBA, Nets kumpulkan bintang hingga Rose hijrah ke Pistons
Baca juga: Warriors boyong D’Angelo Russell dari Nets

Enes Kanter Beri Donasi 50 Siswa SD

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic lewati rintangan pertama Philipp Kohlschreiber

London, Inggris (ANTARA) – Juara bertahan Novak Djokovic mengawali kampanye perburuan gelar Wimbledon kelimanya dengan mencampakkan Philipp Kohlschreiber dari Jerman dengan 6-3, 7-5, 6-3.

Unggulan utama dan petenis nomor satu dunia terpaksa meminta istirahat lebih awal pada dua set pertama dan sempat ambruk di lapangan rumput Centre Court.

Djokovic yang sedang memburu gelar turnamen besar ke-16 kalinya, akan menghadapi Denis Kudla dari Amerika Serikat pada 32 besar.

Dia kini mendapat pelatih baru yang juga juara Wimbledon edisi 2001, Goran Ivanisevic yang juga orang Serbia.

Djokovic mengaku bahwa dia dan Ivanisevic adalah sahabat dekat.

“Saya selalu bercermin kepada Goran. Ketika dia juara di sini pada 2001, saya merasa saya adalah bagian dari itu karena dia berlatih di Jerman di tempat latihan yang sama dengan saya gunakan ketika saya berusia 13-14,” kata Djokovic seperti dilaporkan AFP.

“Saya merasa saya ikut menyumbang kemenangannya,” kata dia berseloroh.

Baca juga: Djokovic lalui pemanasan dengan rapat tujuh jam

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dara cantik lapangan tenis curahkan asa untuk RI 1

Jakarta (ANTARA) – Beberapa dara cantik penguasa lapangan tenis yang menyumbangkan berbagai prestasi mencurahkan asa mereka kepada Joko Widodo yang terpilih kembali menjadi Presiden Indonesia untuk periode 2019-2024.

Asa pertama datang dari petenis muda Rifanty Kahfiani yang pernah berhasil menundukkan unggulan teratas asal Thailand Nudnida Luangnam dan petenis Indonesia Jessy Rompies pada turnamen internasional Pelti Indonesia W15 Jakarta.

Petenis berumur 21 tahun tersebut berharap pemerintah membantu mempromosikan olahraga tenis, meski tidak populer, cabang olahraga yang digelutinya ini terbukti mampu mengukir prestasi.

“Harapan saya ke depannya tenis bisa lebih dikenal. Sehingga dengan semakin dikenal, Pak Jokowi bisa lihat dan mungkin membantu cari sponsor atau apa, sehingga tenis bisa lebih memasyarakat,” tutur petenis asal Bandung itu saat ditemui di lapangan Elite Epicentrum Club, Jakarta.

Petenis muda lain yang juga memiliki harapan sama dengan Rifanty adalah Janice Tjen. Ia mengatakan bahwa bagi petenis muda yang sedang berjuang menjajaki karier profesional, dibutuhkan dukungan sponsor agar ada yang membantu dalam pembiayaan untuk mengikuti berbagai turnamen.

“Iya paling kendalanya di sponsor, di biaya. Kita butuh banyak dana untuk bisa ikut banyak turnamen, apalagi yang internasional,” katanya.

Asa senada juga diutarakan petenis peraih medali emas di Asian Games 2018, Aldila Sutjiadi. Dara cantik itu juga berharap presiden dapat membantu sedikit mengikis citra tenis sebagai olahraga mahal.

“Semoga bisa lebih baik lagi perhatiannya kepada tenis, karena tenis memang butuh biaya besar untuk mengikuti berbagai turnamen,” kata Aldila.

Lebih lanjut, Aldila juga berharap Presiden dapat membantu agar tenis dan para petenis dapat lebih dikenal masyarakat luas.

Selain Rifanty, Janice, dan Aldila, petenis lain yang juga mengutarakan harapannya kepada presiden terpilih adalah Beatrice Gumulya, Jessy Rompies, dan Deria Nur Haliza. Mereka kompak meminta yang terbaik untuk cabang olahraga tenis, serta berharap akan segera ada bibit-bibit baru yang akan segera menggantikan posisi mereka.

Tak lupa, pelatih dari dara-dara cantik lapangan tersebut, yakni Pelatih Pelatnas PP Pelti Deddy Tedjamukti juga turut menyampaikan pesannya. Ia berharap presiden yang baru bisa memberikan fasilitas yang lebih memadai untuk para petenis agar mereka semakin bersemangat dalam berlatih, sehingga akan ada lebih banyak prestasi yang bisa dicapai.

“Harapan saya untuk dibuatkan lapangan tenis yang memenuhi standar international di sekitar Jakarta, juga bisa sebagai pusat TC tennis,” ujarnya.

Baca juga: Arianne bangga bertanding di Indonesia

Baca juga: Rifanty bersiap hadapi turnamen ITF di Hawaii

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rifanty bersiap hadapi turnamen ITF di Hawaii

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Indonesia Rifanty Kahfiani bersiap untuk mengikuti turnamen 60K ITF Women’s Circuit yang akan berlangsung di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, pada 8 Juli hingga 14 Juli mendatang.

Pada turnamen tersebut berhadiah total 60.000 dolar AS itu, Rifanty rencananya akan mengikuti nomor tunggal dan ganda. Bahkan ia mendapat wildcard pada sektor ganda sehingga dipastikan langsung menuju babak utama.

Rifanty mengatakan bahwa niatnya untuk bertanding di tingkat turnamen yang lebih tinggi tersebut berawal ketika seorang temannya yang berada di Hawaii mengajak untuk ikut bermain.

“Saya 6 Juli ke Hawaii main yang 60K. Kebetulan tim saya ada yang dari Hawaii, jadi dia ngajak main di sana,” ujarnya saat ditemui di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Minggu.

Petenis yang kini berusia 21 tahun tersebut juga tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Oregon, Amerika Serikat sejak Januari 2017. Rifanty mengaku bahwa ia juga bermain tenis untuk tim yang ada di sana.

“Kalau di sana setiap Minggu main, jadi kalau lagi summer begini kan libur terus ikut turnamen sebanyak mungkin. Saya juga main untuk universitas saya,” ujarnya.

Lebih lanjut, petenis asal Bandung tersebut mengatakan bahwa dalam waktu dekat ia ingin mencoba turnamen untuk kelas pro. Hal tersebut akan dilakukannya setelah ia lulus dari universitas, yakni satu setengah tahun lagi.

Sebelumnya Rifanty memberikan kejutan untuk cabang olahraga tenis di Indonesia. Ia mampu menunjukkan perkembangan yang sangat pesat ketika bermain di turnamen Pelti Indonesia W15 yang berlangsung pada Senin (24/6) sampai Minggu (30/6).

Dalam turnamen tersebut, petenis yang saat ini berada di posisi 764 peringkat ITF itu sempat mengalahkan beberapa unggulan yang jauh lebih berpengalaman. Seperti pada babak putaran kedua, Kamis (27/6), ia mampu membuat kewalahan petenis Thailand Nudnida Luangnam yang merupakan unggulan teratas dalam dua set berakhir dengan skor 6-2, 7-5.

Pada babak perempat final, Jumat (28/6), ia juga mampu menundukkan petenis unggulan Indonesia Jessy Rompies dalam dua set yang menghasilkan skor akhir 6-3, 7-6(6).

Selain itu, ia juga mampu melaju ke babak final menghadapi petenis Belanda Arianne Hartono. Meskipun pada akhirnya ia hanya bisa merebut posisi runner-up karena kalah dua set langsung 2-6, 3-6, namun perjalanan Rifanty menuju babak final tersebut dianggap sangat mengesankan.

Baca juga: Arianne bangga bertanding di Indonesia

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wilander tidak favoritkan Federer juarai Wimbledon 2019

Jakarta (ANTARA) – Legenda tenis dunia Mats Wilander tidak memfavoritkan Roger Federer untuk menjadi juara pada Wimbledon 2019, namun menurut dia, ajang tersebut dapat menjadi peluang terbaik petenis Swiss itu untuk memenangi gelar Grand Slam dia yang ke-21.

“Wimbledon adalah peluang terbaik (Federer)… Inilah satu-satunya peluang dia untuk menang,” kata Wilander seperti dikutip Reuters pada Minggu.

“Ia bukan favorit. Karena pertandingannya menggunakan format lima set, menurut saya kita tidak tahu bagaimana ia akan bereaksi terhadap sejumlah pertandingan lima set. Saya tidak yakin Federer mampu untuk memenangi pertandingan-pertandingan lima set lagi.”

Wilander tetap memasukkan Federer dalam tiga kandidat juara untuk ajang di Inggris tahun ini, namun bagi Wilander posisi Federer berada di bawah Novak Djokovic. Djokovic sendiri mengecap pengalaman pahit dalam Grand Slam sebelumnya, ketika ia harus tersingkir pada semifinal Prancis Open.

“Saya akan memilih Novak dan Roger dan Rafa (Nadal), pada dasarnya selalu seperti itu. Menurut saya Novak mengungguli dua (petenis) lainnya, karena apa yang terjadi di Prancis (Open),” tutur pemegang tujuh gelar Grand Slam ini.

Wilander yakin generasi petenis selanjutnya, termasuk Stefanos Tsitsipas dan Felix Auger Aliassime, dapat mengejutkan “Tiga Besar” tersebut suatu hari nanti, namun saat ini para petenis muda itu dipandangnya kurang konsisten untuk memainkan turnamen berformat pertandingan lima set.

“Tsitsipas, menurut saya 1-1 dengan Federer,” tambah Wilander. “Ia hanya beberapa kali bermain melawan para petenis terbaik, namun saat ini (generasi muda) tidak takut dengan kualitas orang-orang itu.”

“Mereka hanya belum cukup bagus untuk tampil konsisten melawan yang terbaik dalam pertandingan lima set. Mungkin ada sepuluh orang berusia 21 atau 22 dan di bawahnya yang dapat mengalahkan petenis tiga besar itu dalam satu pertandingan.”

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon

Baca juga: Federer tolak ide pelatih beri instruksi di lapangan

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Roger Federer berlatih jelang kejuaraan tenis Wimbledon

Petenis asal Swiss Roger Federer berlatih menjelang digelarnya kejuaraan Tenis Wimbledon di lapangan tenis All England, London, Inggris, Minggu (30/6/2019). Kejuaraan tenis WImbledon akan dimulai Senin (1/7/2019) dan berakhir pada Minggu (14/7/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Tony O’Brien/wsj.

Arianne bangga bertanding di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Petenis Belanda Arianne Hartono mengaku bangga dan senang karena telah mengikuti dua turnamen, yakni Pertamina 25K ITF Women’s Circuit dan Pelti Indonesia W15 yang berlangsung di Jakarta, Indonesia.

Arianne mengatakan bahwa mengikuti pertandingan yang diadakan di Indonesia merupakan sebuah kompetisi sekaligus berlibur. Pasalnya, meskipun Arianne merupakan atlet Belanda namun ternyata ia juga berdarah Indonesia.

“Kalau aku kesini rasanya hanya sedikit untuk permainan dan lebih berasa liburan gitu karena keluarga saya banyak yang di sini,” kata Arianne saat ditemui di Elite, Epicentrum Club, Minggu.

Petenis yang saat ini berusia 23 tahun tersebut merupakan keturunan Indonesia-Belanda karena sang ibu berasal dari Indonesia. Bahkan sebagian besar keluarganya juga merupakan petenis ternama di Indonesia, seperti Pelatih Pelatnas PP Pelti Deddy Tedjamukti, petenis legendaris Lukky Tedjamukti, dan Nadia Ravita.

Arianne mengaku bahwa saat kecil ia sering berkunjung ke Indonesia untuk berlibur dan mengunjungi teman serta keluarga besarnya.

“Waktu kecil saya pernah liburan ke sini, sampai akhirnya sekarang sering berkunjung untuk bertanding,” ujarnya.

Sebelumnya, pada turnamen Pelti Indonesia W15 Jakarta Arianne berhasil keluar menjadi juara utama di sektor ganda maupun tunggal. Di sektor tunggal ia sukses menundukkan petenis Indonesia Rifanty Kahfiani dalam dua set dengan skor akhir 6-2, 6-3 pada Minggu (30/6). Sedangkan di sektor ganda, ia bertandem dengan sepupunya Nadia Ravita mengalahkan ganda asal Afrika Selatan Lee Barnard dan Zani Barnard dengan skor 2-6, 6-4, 11-9 pada Sabtu (29/6).

Lebih lanjut, Arianne juga berhasil menuju babak final turnamen Pertamina 25K ITF Women’s Circuit Arianne pada Minggu (23/6) meskipun ia hanya mampu menjadi runner-up. Dalam babak final tersebut ia bertanding dengan petenis unggulan asal Jepang Risa Ozaki dengan skor 4-6, 1-6.

Arianne mengatakan bahwa berbagai kemenangan tersebut dipersembahkan untuk seluruh keluarga besarnya yang telah memberi dukungan penuh selama ia berada di Indonesia.

“Itu bagus kalau saya main di depan keluarga saya,” ujarnya.

Rencananya, ia akan kembali ke negara asalnya Belanda untuk mengikuti turnamen ITF W25K. Turnamen tersebut akan berlangsung di Den Haag mulai 1 Juli sampai 7 Juli mendatang.

Baca juga: Kalahkan Rifanty, Arianne juara Jakarta 15K
Baca juga: Arianne tak gentar hadapi Risa Ozaki di final Pertamina 25k

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rifanty tetap puas jadi runner-up di Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Indonesia Rifanty Kahfiani mengatakan bahwa ia tetap puas dalam meraih posisi runner-up atau juara kedua pada babak final turnamen tenis Pelti Indonesia W15 Jakarta yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Minggu.

Pada babak final tersebut, ia ditaklukan oleh petenis asal Belanda Arianne Hartono dalam pertandingan dua set yang menghasilkan skor akhir 2-6, 3-6. Penampilan Rifanty kali ini tidak seagresif pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ia tampak kewalahan dalam mengimbangi permainan Arianne.

Pada set pertama bola yang diumpan oleh Arianne sering tidak bisa dikembalikan, sampai servis yang ia lakukan pun beberapa kali keluar hingga menambahkan poin kepada lawannya. Masuk set kedua, Rifanty berusaha mengejar poin dengan meningkatkan permainannya, namun Arianne tetap bisa memegang kendali jalannya permainan hingga akhirnya Rifanty tetap tidak bisa unggul.

Petenis berusia 21 tahun tersebut mengakui kehebatan permainan Arianne. Menurutnya, Arianne adalah petenis yang tangguh dan konsisten serta memiliki pukulan yang khas.

Baca juga: Kalahkan Rifanty, Arianne juara Jakarta 15K

“Tadi Arianne menekan saya tapi dia sangat konsisten dan pukulannya khas sekali. Saya sudah berusaha untuk melakukan segala cara seperti panjangin bola, mix dan slice tapi tetap enggak bisa,” katanya.

Walaupun hanya mendapat posisi runner-up, namun petenis yang saat ini berada di posisi 764 peringkat ITF mengatakan bahwa pertemuannya dengan Arianne memberikan pelajaran yang berharga untuk selalu berusaha dan meningkatkan permainan diberbagai pertandingan berikutnya.

“Untuk kadi runner-up ini cukup puas dan senang sih. Meskipun enggak sesuai target. Tapi target sebenarnya bagi saya adalah bermain lebih baik dari sebelumnya dan memperbaiki kesalahan yang kemarin,” kata Rifanty usai penyerahan trofi.

Pada babak-babak sebelumnya, Rifanty sempat mengalahkan beberapa unggulan yang jauh lebih berpengalaman. Seperti pada babak putaran kedua, Kamis (27/6), ia mampu membuat kewalahan petenis Thailand Nudnida Luangnam yang merupakan unggulan teratas dengan mengalahkannya dalam dua set berakhir dengan skor 6-2, 7-5.

Pada babak perempat final, Jumat (28/6), ia juga mampu menundukkan petenis unggulan Indonesia Jessy Rompies dalam dua set yang menghasilkan skor akhir 6-3, 7-6(6).

Rencananya, dalam waktu dekat Rifanty akan mengikuti ajang ITF 60K yang berlangsung di Honolulu Hawaii pada 8 Juli hingga 14 Juli. Ia akan bermain di sektor tunggal maupun ganda. Bahkan Rifanty juga mendapat wildcard untuk sektor ganda tersebut.

Baca juga: Rifanty tumbangkan unggulan teratas turnamen Pelti Indonesia W15

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kalahkan Rifanty, Arianne juara Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis Belanda Arianne Hartono berhasil mengalahkan lawannya, Petenis muda asal Indonesia Rifanty Kahfiani pada final hingga menjuarai turnamen Pelti Indonesia W15 Jakarta yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Minggu.

Kemenangan cukup mudah didapat oleh petenis yang saat ini berada diperingkat ke-661 WTA tersebut. Arianne berhasil menundukkan Rifanty setelah melewati dua set 6-2, 6-3  yang berjalan cukup mulus.

Sejak set pertama Rifanty terlihat tidak bisa mengimbangi permainan Arianne dengan maksimal. Bola yang diumpan oleh Arianne sering tidak bisa ditangkap oleh Rifanty hingga servis Rifanty pun beberapa kali keluar sampai akhirnya memberikan poin kepada Arianne.

Di sisi lain meskipun cukup mudah dalam mengalahkan Rifanty, namun Arianne mengaku ada beberapa teknik permainan Rifanty yang tidak ia kuasai. Gaya bermain Rifanty yang cenderung pelan dan menggunakan bola tinggi membuat penampilan Arianne pada set kedua agak kurang maksimal.

“Permainannya Rifanty itu susah buat aku karena dia suka bola pelan dan bola tinggi, sedangkan aku lebih enak kalau bolanya di bawah,” ujarnya saat ditemui usai pertandingan.

Lebih lanjut, Arianne mengaku bahwa semua penampilannya di babak final sudah sangat maksimal. Ia sudah berusaha untuk lebih agresif dari pertandingan sebelumnya serta mengandalkan teknik menembak karena ia tahu itu adalah kelemahan Rifanty.

“Permainan dan kelincahan saya di pertandingan hari ini bagus, cukup untuk menang hari ini karena saya berusaha untuk lebih agresif dan direct,” katanya.

Petenis yang kini berusia 23 tahun itu mengatakan bahwa setelah ini ia akan kembali ke negara asalnya Belanda untuk mengikuti turnamen ITF W25K. Turnamen tersebut rencananya akan berlangsung di Den Haag mulai 1 Juli sampai 7 Juli mendatang.

“Habis ini aku ingin terusin permainan di 25K Belanda karena menurut saya permainan yang minggu lalu (Jakarta 25K) sudah bagus tapi saya mau improve,” katanya.

Baca juga: Nadia/Arianne taklukkan pasangan Afsel untuk menjuarai Jakarta 15K

Baca juga: Arianne akui Aldila lawan yang berat

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Borna Coric mengundurkan diri dari Wimbledon karena cedera

Jakarta (ANTARA) – Petenis Kroasia unggulan ke-14 Borna Coric harus mengundurkan diri dari Wimbledon pada Minggu pagi WIB, karena cedera yang terjadi pada perutnya, demikian dilansir Reuters.

Coric semestinya akan bertanding melawan petenis Slovenia Aljaz Bedene pada putaran pembukaan.

Unggulan ke-17 asal Italia Matteo Berrettini akan mengisi tempat Coric, sedangkan petenis Kanada Brayden Schnur mendapatkan tempat di putaran pertama sebagai “lucky loser.”

Coric mengalami cedera di Halle Open pada bulan ini, di mana ia harus mengundurkan diri dari pertandingan perempat finalnya melawan Pierre-Hugues Herbert.

Ia akan menerima uang sebesar separuh dari 45.000, yang semestinya ia dapatkan jika kalah di putaran pertama.

Petenis 22 tahun itu mencapai putaran kedua di Wimbledon saat melakukan debutnya empat tahun silam. Sebelum ia tiga kali berturut-turut tersingkir di putaran pertama pada Grand Slam ketiga dalam satu musim. Petenis peringkat 14 dunia ini menutup penampilannya di turnamen rumput tahun ini dengan tampil di semifinal ‘s-Hertogenbosch dan di perempat final Halle Open.

Baca juga: Djokovic lalui pemanasan dengan rapat tujuh jam
Baca juga: Federer tolak ide pelatih beri instruksi di lapangan

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fritz raih gelar ATP Tour pertama di Eastbourne

Jakarta (ANTARA) – Petenis Amerika Serikat Taylor meraih gelar ATP Tour pertamanya dengan menjuarai turnamen Eastbourne International 2019 dengan mengalahkan rekan senegaranya Sam Querrey 6-3, 6-4, dalam partai final yang berlangsung selama 61 menit di Devonshire Park Lawn Tenis Club, London, Inggris, Sabtu setempat.

Gelar itu hanya berjarak tiga tahun dari penampilan pertama Fritz di final ATP Tour dalam Memphis Open 2016, kala itu sebagai petenis peringkat 145 dunia dan mengikuti turnamen menggunakan fasilitas wildcard saat masih berusia 18 tahun.

“Ini sangat luar biasa. Saya bahkan hampir tidak mempercayainya. Saya masih berusaha untuk menerimanya,” kata Fritz dikutip dari laman ATP Tour, Minggu.

“Saya ingin memenangi gelar Tour sejak saya mencapai final ketika saya berusia 18 tahun. Rasanya seperti saya telah menunggu begitu lama. Aku sangat bahagia,” ujarnya menambahkan.

Fritz tampil begitu tenang seolah tak menunjukkan kegugupan melakoni final ATP Tour keduanya menghadapi Querrey yang punya rekam jejak 10 kali juara turnamen sekelas ATP Tour.

Ia mematahkan servis tanpa balas dalam return game pertamanya pada pertandingan tersebut, dan ia tidak pernah tertinggal. Itu adalah awal yang sangat kuat mengingat Querrey hanya kehilangan servis dua kali sepanjang minggu sebelum memasuki final.

Baca juga: Pliskova tumpas Kerber untuk juarai Eastbourne International

Tetapi meskipun kedua petenis Amerika itu berbagi kemenangan dalam empat kali pertemuan mereka sebelumnya, Fritz tampil memimpin dalam reli dari baseline dan lebih solid, sedangkan kesalahan sendiri pada saat-saat penting mengganggu Querrey.

Petenis veteran itu mendapat peluang untuk mengatur permainan menjadi lebih solid pada set kedua ketika ia memimpin 40-0 pada servisnya. Namun sejumlah kesalahan forehand membuat Fritz membalik permainan dan meraih break keduanya dalam pertandingan, dan memimpin laga.

Dan Fritz meraih kemenangan terbesarnya dengan menutup pertandingan dengan as, kemudian mengangkat kedua tangannya untuk merayaka keberhasilan.

“Luar biasa sulit. Saya harus memainkan yang terbaik hari ini untuk menang,” kata Fritz.

“Ini adalah turnamen pertama Sam dalam waktu yang lama, jadi selamat baginya untuk mencapai ke final setelah cedera dan keluar. Dia akan sangat berbahaya di Wimbledon, seperti biasanya,” ujarnya melengkapi.

Baca juga: Djokovic lalui pemanasan dengan rapat tujuh jam

Baca juga: Federer tolak ide pelatih beri instruksi di lapangan

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pliskova tumpas Kerber untuk juarai Eastbourne International

Jakarta (ANTARA) – Petenis nomor tiga dunia Karolina Pliskova meraih gelar Eastbourne International keduanya seusai menumpas jawara Wimbledon Angelique Kerber 6-1, 6-4, dalam partai final di Devonshire Park, London, Inggris, Sabtu (29/6) setempat.

Petenis Ceko itu tidak kehilangan satu set pun sepanjang pekan dan melaju melewati final tersebut dalam waktu sedikit lebih dari satu jam di lapangan untuk meraih gelar ketiganya tahun ini.

“Sepanjang pekan saya bermain cukup sempurna,” kata Pliskova dikutip dari AFP, Minggu.

“Tapi tidak semua pertandingan semudah seperti yang terlihat pada skornya, terutama hari ini,” ujarnya menambahkan.

Baca juga: Barty mundur dari Eastbourne karena cedera lengan

Kerber akan menuju London untuk mempertahankan gelar Wimbledon-nya pekan depan sebagai salah satu yang difavoritkan, namun kemenangan di Eastbourne International melambungkan harapan Pliskova bakal mampu mengakhiri penantian panjangnya menjuarai Grand Slam.

“Saya mengusahakan yang terbaik tapi kamu pantas menang hari ini,” kata Kerber.

“Kembali sebagai juara bertahan akan menjadi momen spesial melangkah ke lapangan utama lagi. Saya merasa baik, saya bermain bagus saat ini dan semoga saya bisa melanjutkan permainan saya dari tahun lalu,” ujar petenis Jerman itu melengkapi.

Pliskova langsung memimpin 4-0 saat servis Kerber dipatahkan tiga kali dalam set pembuka yang berlangsung cepat.

Kerber dipatahkan lagi pada gim pembuka set kedua dan itu terbukti menentukan saat Pliskova menjalani pertandingan secara dominan untuk membuat rekor pertemuannya (head-to-head) melawan Kerber menjadi 7-5.

Baca juga: Gauff mengingatkan Serena kepada masa kecilnya

Baca juga: Murray cari mitra ganda campuran, Serena lowong

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic lalui pemanasan dengan rapat tujuh jam

Jakarta (ANTARA) – Novak Djokovic melakukan pemanasan untuk mempertahankan gelar juara Wimbledon bukan dengan berlatih di lapangan, melainkan berkutat selama tujuh jam di ruang rapat membahas politik tenis.

Selain menjadi petenis nomor satu dunia dan pemegang 15 gelar Grand Slam, petenis berusia 32 tahun ini adalah juga presiden Dewan Pemain ATP.

Ini adalah lembaga perwakilan berkuasa yang juga kadang-kadang menentukan siapa bertemu siapa.

“Saya kira dalam industri mana pun, rapat tujuh jam secara reguler adalah tak bisa diterima karena tidak efisien,” kata Djokovic seperti dikutip AFP. “Hanya ada satu kejadian malam tadi, yang dibahas hingga lewat tengah malam dan diawali sejak pukul lima (sore).”

Djokovic sama-sama dijagokan menjadi juara Wimbledon dengan para bintang lainnya seperti Roger Federer dan Rafael Nadal.

Ketidaksepakatan yang belakangan terjadi berpusat kepada keputusan mencopot kepala eksekutif ATP Chris Kermode yang menjadi tokoh berpengaruh dalam dunia tenis.

“Sudah pasti saya telah mempertimbangkan berbagai opsi. Saya juga sudah mempertimbangkan untuk mundur. Saya kira tim saya menginginkan saya mengundurkan diri, sejujurnya. Itu sudah pasti,” sambung Djokovic.

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon

Suasana hatinya tak kunjung baik ketika para pemain seperti Jamie Murray dan Robin Haase serta pelatih Dani Vallverdu mengundurkan diri dari badan ATP itu.

Dia mungkin telah dibuat frustasi oleh politik, tetapi Djokovic tiba di Wimbledon tahun ini dengan kerangka pikiran yang lebih baik dibandingkan dengan 12 bulan lalu.

Setahun lalu itu peringkat dia berada di luar 20 besar yang untuk pertama kali dialaminya dalam kurun satu dekade. Dia juga harus berjuang keras melawani cedera siku, sehingga harus realistis dalam mengejar target trofi keempatnya di Wimbledon saat itu.

Tapi dia merajalela di lapangan, mengalahkan Nadal dalam tempo lima jam 16 menit pada babak semifinal sebelum menaklukkan Kevin Anderson dalam final.

“Sungguh berbeda. Tentunya saya mendekati Wimbledon tahun ini sebagai juara bertahan, Nomor 1 di dunia,” kata dia seperti dikutip AFP.

“Tahun lalu saya terlempar dari 20 besar setelah French Open. Turun bermain setelah dioperasi, tak bisa konsisten, sehingga menjadi lompatan besar bagi saya, menjadi juara di Wimbledon tahun lalu.

“Itu memberi semacam dorongan kepada saya. Setelah itu, segalanya meningkat, menjuarai Cincinnati untuk pertama kalinya, US Open. Sebuah Grand Slam bisa dengan pasti mengubah karir seseorang dalam waktu mingguan.”

Baca juga: Federer tolak ide pelatih beri instruksi di lapangan

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Murray cari mitra ganda campuran, Serena lowong

London (ANTARA) – Serena Williams meramaikan pergunjingan mengenai kemitraan tim impian dengan petenis pujaan tuan rumah Inggris, Andy Murray, setelah Sabtu waktu setempat mengumumkan kebersediaannya untuk bermain pada ganda campuran Wimbledon.

Murray pekan lalu kembali bermain setelah absen lima bulan karena cedera, untuk menjuarai nomor ganda Queen’s Club bersama Feliciano Lopez dan kini berpasangan dengan Pierre-Hugues Herbert di Wimbledon.

Petenis berusia 32 tahun yang dua kali menjuarai nomor tunggal putra di Wimbledon itu juga berencana bermain pada ganda campuran setelah dia terus membaik setelah menjalani operasi pinggul Februari silam. Dia tidak bermain pada nomor tunggal putra.

Murray ditolak oleh petenis nomor satu dunia Ash Barty tetapi Serena yang berusia 37 tahun yang sedang memburu gelar Grand Slam ke-24 di Wimbledon, membuka pintu untuk pendekatan lebih jauh.

“Saya lowong. Saya merasa lebih baik sekarang, jadi sudah pasti saya lowong,” kata Williams, yang waktu bertanding tahun ini dibatasi pada lima turnamen karena masalah cedera, menjawab wartawan ketika ditanya apakah dia mau berpasangan dengan Murray.

“Saya maksudkan, kita harus tunggu dan lihat nanti.”

Baca juga: Naomi Osaka kini merasa bebannya sudah lepas

Murray sendiri sudah berbicara dengan sejumlah pemain tetapi memahami nomor tunggal adalah prioritas para pemain itu.

Ketika ditanya ketersediaan Serena, Murray menjawab, “Jika saya harus bermain ganda campuran, yang memang rencananya, Anda sudah pasti ingin bermain dengan orang yang ingin di sana untuk keseluruhan event, dan orang itu ada di sini untuk memenangkan pertandingan dan menjuarai event itu.”

“Tak diragukan lagi dia adalah petenis terbaik. Akan menjadi mitra yang sangat solid,” kata Murray sembari tersenyum.

Williams yang menjuarai ganda campuran Wimbledon bersama Max Mirnyi pada 1998, tidak pernah lagi turun pada pertandingan kompetitif sejak kalah pada babak ketika French Open dari Sofia Kenin.

Menjadi unggulan kesebelas, dia akan memulai ambisinya menjuarai nomor tunggal Wimbledon kedelapan kalinya dengan melawan petenis Italia Giulia Gatto-Monticone.

Kendati tidak bermain pada turnamen lapangan rumput pemanasan menjelang Wimbledon, Serena optimistis bugar. “Saya cuma ingin melakukan yang terbaik yang saya bisa, sekarang saya ada di sini. Saya tahu bagaimana bermain tenis.”

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gauff mengingatkan Serena kepada masa kecilnya

Jakarta (ANTARA) – Legenda tenis Amerika Serikat Serena Williams mengungkapkan bahwa melihat rekan senegaranya Cori Gauff yang masih berusia 15 tahun bersama ayahnya, telah mengingatkan dia kepada dirinya pada hari pertama menjajal tenis.

Mantan nomor satu dunia berusia 37 tahun yang sedang memburu gelar juara Grand Slam ke-24 dalam Wimbledon tahun ini, bersama kakaknya Venus dilatih sejak usia empat tahun oleh ayah mereka, Richard.

Pekan ini, pada babak pertama Wimbledon, Venus yang berusia 39 tahun akan ditantang Gauff yang menjadi petenis paling muda yang lolos ke kualifikasi Wimbledon.

“Dia gadis yang fantastis,” kata Serena dalam jumpa pers pra-Wimbledon. “Dia sangat keras bekerja. Setiap waktu saya bekerja, saya menyaksikan dia di sana bekerja, berlatih, dia dan ayahnya. Itu mengingatkan saya kepada masa di mana saya di luar sana bersama ayah saya.”

“Saya tak tahan untuk melihat ke dalam diri saya dan bangga serta bahagia demi dia (Gauff). Ya, sungguh senang melihatnya,” kata Serena seperti dikutip AFP.

Serena juga melihat ada kesamaan antara Venus si juara Wimbledon lima kali dengan Gauff yang berselisih peringkat 257 level di bawah dia.

“Ini momen agung untuk dia (Gauff) danr Venus,” kata Serena.

“Dia menghadapi pemain yang sungguh mengingatkan saya kepada Venus, tubuhnya dan segalanya. Ini akan menjadi pertandingan menarik. Saya mungkin menontonnya tetapi saya selalu gugup menyaksikan Venus.”

Serena yang memburu gelar juara Wimbledon kedelapan kalinya baru mengetahui petenis Australia Ashleigh Barty kini penyandang status nomor satu dunia. “Wow, hebat itu,” kata dia tentang si juara baru French Open.

Serena yakin Barty bisa bertahan sebagai petenis nomor satu setelah merampasnya dari Naomi Osaka.

Baca juga: Naomi Osaka kini merasa bebannya sudah lepas

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Federer tolak ide pelatih beri instruksi di lapangan

Jakarta (ANTARA) – Roger Federer mengatakan ia akan menentang ide membolehkan pelatih memberikan instruksi di lapangan, sebagaimana yang telah terjadi pada tenis putri.

Tur WTA membolehkan petenis berkomunikasi dengan pelatih mereka pada poin-poin tertentu, dan AS Terbuka telah mempertimbangkan untuk membolehkan petenis mendapat instruksi dari boks pemain di Flushing Meadows tahun ini.

“Saya tidak tahu kabar terakhir. Di Halle, saya dengar Anda dapat berbicara kepada para pemain dari boks pemain di AS Terbuka,” kata Federer di Wimbledon seperti dilansir Reuters, Sabtu waktu setempat.

“Itu mungkin tidak akan terjadi lagi. Maka belum ada yang pasti. Namun dalam opini saya, semestinya tidak ada pemberian instruksi semacam itu dalam tenis.”

Bagi Federer, tenis menjadi unik karena setiap petenis harus berpikir sepanjang pertandingan dan mengubah-ubah taktik, tanpa mesti selalu dijejali instruksi dari pelatih.

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon

“Menurut saya, para petenis mendapatkan masukan (sebelum pertandingan) kemudian tergantung seberapa banyak ia dapat mengingatnya, bagaimana ia dapat mengatasinya, menanganinya sendiri,” tutur Federer.

Bagi peraih 20 gelar Grand Slam ini, tidak adanya instruksi dari pelatih di lapangan membuat tenis semakin adil bagi semua pihak.

“Sejujurnya menurut saya hal itu (pemberian instruksi pelatih) tidak diperlukan. Kemudian kita masuk lebih dalam ke olahraga di mana saya mungkin dapat menerima instruksi lebih banyak daripada yang lain. Apakah itu adil? Menurut saya, tidak adanya instruksi pelatih membuat semua orang berada dalam posisi sejajar.”

Petenis Swiss berusia 37 tahun ini akan menghadapi petenis Afrika Selatan Lloyd Harris pada Selasa pada pertandingan pertamanya dalam Wimbledon tahun ini. Di turnamen lapangan rumput itu, Federer mengincar gelar kesembilannya.

Baca juga: Naomi Osaka kini merasa bebannya sudah lepas

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Nadia/Arianne taklukkan pasangan Afsel untuk menjuarai Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Pasangan Nadia Ravita/ Arianne Hartono menaklukkan pasangan asal Afrika Selatan Lee Barnard/Zani Barnard untuk membawa mereka menjuarai turnamen Pelti Indonesia W15 kategori ganda.

Pada pertandingan final yang dimainkan di Elite Club Epicentrum, Jakarta, Sabtu, Nadia/Arianne sempat mengalami kesulitan pada awal permainan sebelum akhirnya mampu mengamankan kemenangan 2-6, 6-4, 11-9.

Pada set pertama yang hanya berlangsung 31 menit, pengembalian Nadia/Arienne kerap menyangkut di net atau keluar lapangan permainan. Mereka hanya mampu menyamakan kedudukan pada skor 2-2, sebelum lawannya menyapu bersih gim di set pertama.

Permainan pasangan Indonesia/Belanda ini membaik pada set kedua. Arianne bahkan sempat melepaskan ace pada gim keenam. Namun lawan tidak mengendurkan permainan, kedudukan imbang sempat terjadi sebanyak lima kali.

Menjelang berakhirnya set kedua, Nadia/Arianne tampil semakin agresif. Hasilnya berbuah positif saat mereka memenangi set itu dan memaksakan tiebreak.

Pada tiebreak, Nadia/Arienna sempat tertinggal sampai 0-4. Tetapi mereka perlahan-lahan mampu menemukan ketenangan dan mengejar ketertinggalan. Situasi semakin menegangkan saat skor menunjukkan 8-8 dan 9-9, namun akhirnya pasangan ini mampu mengamankan keunggulan dua poin.

Baca juga: Rifanty tumbangkan unggulan teratas turnamen Pelti Indonesia W15

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Nadia/Arianne sempat gugup saat tampil di final

Jakarta (ANTARA) – Pasangan petenis Nadia Ravita/Arianne Hartono mengaku sempat gugup saat tampil pada final Pelti Indonesia W15, yang dimainkan di Elite Club Epicentrum, Jakarta, Sabtu sore.

Rasa gugup tersebut sempat membuat mereka tertinggal dari pasangan asal Afrika Selatan Lee Barnard/Zani Barnard pada set pertama, sebelum kemudian bangkit dan memenangi set kedua serta tiebreak dengan skor 2-6, 6-4, 11-9.

“Jujur saya tadi grogi pas awal-awal. Return gak ada yang masuk. Kaki saya kayak nempel di tanah,” kata Nadia saat ditemui setelah pertandingan.

Menurut Arianne, rasa gugup tersebut lebih disebabkan mereka sangat ingin mengamankan kemenangan. Namun setelah menyadari bahwa mereka harus tenang, mereka sedikit mengubah strategi permainan.

“Abis itu, kita berusaha masukin bola dulu. Terus kita coba maju duluan dari dia. Karena kalau semakin dekat net, peluang untuk mendapatkan poin lebih besar,” tutur Arieanne.

Bagi Arianne, pasangan asal Afsel yang menjadi lawan mereka tidak tampil luar biasa. Jadi meski sempat tertinggal, mereka tetap menerapkan strategi permainan yang sudah disepakati.

“Lawan kita kan mainnya gitu aja sih. Gak ada yang istimewa gitu. Makanya kita terus maju sesuai rencana,” ujar Arianne.

Baca juga: Nadia/Arianne taklukkan pasangan Afsel untuk menjuarai Jakarta 15K

Baca juga: Arianne akui Aldila lawan yang berat

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Arianne akui Aldila lawan yang berat

Jakarta (ANTARA) – Petenis Belanda berdarah Indonesia Arianne Hartono mengakui bahwa lawannya di semifinal Jakarta 15K, Aldila Soetjiadi, merupakan lawan yang berat.

“Hari ini pertandingannya tough, karena Aldila mainnya strategically tough sama mental tough juga,” kata Arianne kepada para pewarta setelah memastikan diri melangkah ke final setelah menang 7-5, 6-4 dalam pertandingan yang dimainkan di Elite Club Epicentrum, Jakarta, Sabtu siang WIB.

Pada set kedua, Arianne mampu menahan Aldila untuk tidak pernah berada dalam posisi unggul gim, salah satu kuncinya, dia mampu membaca permainan sang lawan dengan cepat.

“Set kedua nyari lagi sih, tapi kan sudah biasa dengan bolanya dia. Apalagi kalau dia serve kedua, aku bisa attack terus,” tutur dara 23 tahun ini.

Lawan Arianne di final adalah petenis muda Indonesia, Rifanti Kahfiani. Meski unggul jam terbang, Arianne sama sekali tidak menganggap enteng lawannya tersebut.

“Tipe permainan dia lebih susah buat aku, karena dia suka mengubah tempo permainan, terus suka pake bola slice, dan bola-bola tinggi,” tuturnya.

Pertandingan final Jakarta 15K akan diselenggarakan Minggu, di Elite Club Epicentrum, Jakarta.

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rifanti melaju ke final Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Rifanti Kahfiani melaju ke final Pelti Indonesia W15K setelah menang 6-3, 6-4 atas petenis Jepang Michika Ozeki dalam pertandingan semifinal yang berlangsung di Elite Club Epicentrum, Jakarta, Sabtu siang.

Pada set pertama yang berlangsung selama 44 menit, Rifanti mengandalkan sejumlah variasi pukulan untuk mematikan permainan lawannya.

Set kedua berlangsung lebih ketat dengan saling kejar-mengejar poin. Rifanti sempat memimpin 3-1 sebelum kemudian Ozeki membalikkan situasi menjadi 4-3. Namun itu adalah terakhir kalinya Ozeki mampu memenangi gim, sebab sisa gim pada set tersebut menjadi milik Rifanti.

“Di set kedua, (lawannya) lebih konsisten, bolanya lebih ‘nonjok-nonjok’. Saya juga banyak melakukan unforced error. Sama karena bola-bola saya pendek, jadi banyak keserang,” kata Rifanti saat ditemui setelah pertandingan.

Sayangnya langkah Rifanti gagal disamai oleh petenis Indonesia lainnya, Aldila Sutjiadi. Peraih medali emas Asian Games 2019 di nomor ganda campuran itu harus mengakui keunggulan petenis Belanda, Arianne Hartono, yang menang 7-5, 6-4.

Laga pada set pertama berlangsung ketat, kedudukan sempat imbang 5-5, sebelum Arianne mengamankan set pertama yang berlangsung selama satu jam tersebut.

Aldila gagal mengembangkan permainan pada set kedua. Ia tidak pernah menggenggam keunggulan, dan tertinggal 1-2, 2-3, 3-4, dan 4-5 sebelum Arianne mengunci kemenangan pada gim kesepuluh.

Baca juga: Dua petenis Indonesia lolos ke semifinal Jakarta 15K

Baca juga: Rifanty gunakan strategi khusus kalahkan unggulan teratas Jakarta 15K

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua petenis Indonesia lolos ke semifinal Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Dua petenis Indonesia berhasil lolos ke semifinal Pelti Indonesia W15 Jakarta, setelah mengatasi lawan-lawannya pada putaran perempat final yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Jumat siang.

Petenis yang meraih medali emas Asian Games 2018 di kategori ganda campuran, Aldila Sutjiadi, mengungguli Sakura Hondo asal Jepang dengan kemenangan meyakinkan, 6-1, 6-3.

Aldila menuturkan bahwa salah satu kunci kemenangannya adalah memaksa lawan melakukan kesalahan-kesalahan.

“Pada set pertama saya bermain cukup baik sehingga membuat lawan melakukan unforced error. Pada set kedua, lawan sempat membaik permainannya, tapi saya berhasil membuat dia melakukan kesalahan-kesalahan,” kata Aldila saat ditemui setelah pertandingan.

Sementara itu, pada pertemuan antara sesama petenis Indonesia, Rifanti Kahfiani mampu mengatasi Jessy Rompies dengan skor 6-3, 7-6 (6).

“Sempat bingung juga dengan permainan dia. Cuma ya pada akhir permainan, (saya) berusaha sabar, gak cepat-cepat matikan permainan lawan. Sehingga bisa dapat kemenangan pada hari ini,” tutur Rifanti.

Meski menang, Rifanti mengaku masih akan mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi, termasuk mempertajam permainannya.

“Tadi slice pendek saya kurang keluar, jadi nanti sore mau latihan mukul heavy ball dan slice juga. Supaya persiapannya mantap,” ujarnya.

Pada semifinal, Aldila akan ditantang petenis Belanda Arianne Hartono yang menang 6-2, 6-3 atas petenis Jepang Ramu Ueda dalam laga perempat final lainnya. Sedangkan Rifanti akan bertemu Michika Ozeki asal Jepang yang menyingkirkan petenis China Yexin Wa dengan kemenangan 3-6, 6-4, 6-2.

Baca juga: Jessy taklukan petenis Aljazair di putaran kedua turnamen Jakarta 15K

Baca juga: Aldila melaju ke perempat final Jakarta 15K

Baca juga: Rifanty gunakan strategi khusus kalahkan unggulan teratas Jakarta 15K

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jessy taklukan petenis Aljazair di putaran kedua turnamen Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Jessy Rompies berhasil menaklukkan petenis Aljazair Ines Ibbou pada putaran kedua turnamen Pelti Indonesia W15 Jakarta yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Kamis.

Langkah Jessy akan berlanjut ke babak perempat final setelah mengalahkan Ines dalam permainan yang berjalan cukup panjang. Tiga set yang dilaluinya selama hampir tiga jam tersebut akhirnya berakhir dengan skor 6-2, 3-6, 7-5.

Pada set pertama yang berlangsung lebih dari setengah jam itu dilaluinya dengan mudah karena Ines belum menampakkan permainan yang agresif. Namun, pada set kedua tiba-tiba Jessy tertinggal cukup jauh.

Jessy mengatakan bahwa Ines semakin menunjukkan permainan yang bagus sampai akhirnya ia tidak bisa mengimbangi.

Set kedua Ines memimpin hingga membuat kedudukan mereka imbang. Berlanjut dengan babak penentuan, yakni set ketiga, pada gim awal Jessy masih tetap tidak bisa mengimbangi Ines. Ia pun sempat tertinggal 2-5 di set ketiga itu.

“Aku kaget sih maksudnya sudah sempat hopeless banget, ketinggalan 2-5. Awal-awal saya ikutin permainan dia dan balik-balik terus saya cuma di belakang saja jadi enggak ada agresifnya,” katanya.

Baca juga: Aldila melaju ke perempat final Jakarta 15K

Baca juga: Rifanty tumbangkan unggulan teratas turnamen Pelti Indonesia W15

Namun semangat Jessy tidak terpatahkan, ia tetap berusaha mengejar poin secara perlahan. Meskipun ia mengaku bahwa tenaganya sudah benar-benar habis di set ketiga, namun ia tetap optimistis untuk menampilkan yang terbaik selagi ia masih mampu.

“Sudah kayak aduh bisa enggak nih menang, sudah hopeless sekali pokoknya,” ujarnya.

“Akhirnya kayak ada suara dalam diri sendiri untuk positif, satu-satu coba terus, fight, berjuang poin demi poin,” lanjutnya.

Perjuangan Jessy di gim-gim akhir ternyata membuahkan hasil, satu per satu poin bisa ia raih. Jessy semakin agresif dengan mengandalkan modal keyakinan bahwa ia mampu memenangkan pertandingan tersebut.

“Pas set ketiga yang ketinggalan 2-5 itu saya semakin agresif dan modal yakin saja karena sudah nothing to lose. Saya sudah capek sudah lah apapun hasilnya yang penting saya main yang benar,” tuturnya.

“Eh akhirnya balik dia yang banyak salah. Lalu aku coba untuk terus konsisten,“ katanya.

Di babak perempat final yang akan berlangsung pada Jumat (28/6), Jessy akan bertemu dengan petenis muda Indonesia Rifanty Kahfiani. Rifanty berhasil mengalahkan petenis unggulan teratas asal Thailand Nudnida Luangnam dalam dua set 6-2, 7-5.

Baca juga: PP Pelti jadikan ITF Jakarta ajang persiapan jelang SEA Games 2019

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

ITF luncurkan format baru peserta Fed Cup

Jakarta (ANTARA) – Federasi Tenis Internasional (ITF) meluncurkan format baru pertandingan Fed Cup dengan memperluas jumlah peserta dari delapan menjadi 20 negara untuk bersaing menjadi juara dunia setiap tahunnya.

Selain itu, ITF juga memutuskan Budapest Hungaria untuk menjadi tuan rumah Fed Cup oleh BNP Paribas selama tiga tahun untuk periode 2020-2022, melansir laporan wtatennis.com, Kamis.

Sebanyak 12 negara sudah memenuhi syarat untuk Final Piala Fed, yang selanjutnya akan ikut bersaing memperebutkan total hadiah lebih dari Rp254 miliar, dengan pembagian Rp169 miliar untuk pemain dan Rp84 miliar untuk asosiasi nasional.

Baca juga: Apresiasi BRI Life kepada Tim Tenis Fed Cup Indonesia 2018 melalui perlindungan jiwa senilai Rp. 500 juta

Enam belas negara akan bersaing di kualifikasi Fed Cup 2020 pada 7-8 Februari dengan mekanisme kandang-tandang selama lima pertandingan untuk mendapatkan satu dari delapan posisi di partai final untuk bergabung dengan finalis tahun sebelumnya, yaitu Prancis, Australia, tuan rumah Hungaria, dan satu negara “wildcard” yang akan diumumkan.

16 negara berikut yang ditetapkan untuk mengikuti kualifikasi Fed Cup 2020, yaitu Belarusia, Belgia, Brasil, Kanada, Republik Ceko, Jerman, Inggris, Jepang, Kazakhstan, Latvia, Rumania , Rusia, Slovakia, Spanyol, Swiss, dan Amerika Serikat.

Partai final akan menampilkan format “round-robin”, yaitu setiap negara akan berhadapan dengan negara lainnya secara lengkap, dengan terdiri dari empat grup yang diisi tiga tim per grup.

Dua negara teratas akan dijamin mendapat tempat di final tahun berikutnya, sementara negara-negara yang mencapai peringkat 3-10 akan bertarung pada kualifikasi tahun berikutnya.

Semua pertandingan akan terdiri dari dua tunggal dan satu ganda.

Format baru ini disetujui oleh Dewan ITF setelah proses tinjauan dan konsultasi yang luas dengan asosiasi nasional, Asosiasi Tenis Wanita (WTA) dan Dewan Pemain WTA.

Baca juga: Halep boikot Fed Cup jika sistem “home-away” diganti
Baca juga: Tim Fed Indonesia takluk dari Korea Selatan

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jessy taklukan petenis Algeria di putaran kedua turnamen Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Jessy Rompies berhasil menaklukkan petenis Algeria Ines Ibbou pada putaran kedua turnamen Pelti Indonesia W15 Jakarta yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Kamis.

Langkah Jessy akan berlanjut ke babak perempat final setelah mengalahkan Ines dalam permainan yang berjalan cukup panjang. Tiga set yang dilaluinya selama hampir tiga jam tersebut akhirnya berakhir dengan skor 6-2, 3-6, 7-5.

Pada set pertama yang berlangsung lebih dari setengah jam itu dilaluinya dengan mudah karena Ines belum menampakkan permainan yang agresif. Namun, pada set kedua tiba-tiba Jessy tertinggal cukup jauh.

Jessy mengatakan bahwa Ines semakin menunjukkan permainan yang bagus sampai akhirnya ia tidak bisa mengimbangi.

Set kedua Ines memimpin hingga membuat kedudukan mereka imbang. Berlanjut dengan babak penentuan, yakni set ketiga, pada gim awal Jessy masih tetap tidak bisa mengimbangi Ines. Ia pun sempat tertinggal 2-5 di set ketiga itu.

“Aku kaget sih maksudnya sudah sempat hopeless banget, ketinggalan 2-5. Awal-awal saya ikutin permainan dia dan balik-balik terus saya cuma di belakang saja jadi enggak ada agresifnya,” katanya.

Baca juga: Aldila melaju ke perempat final Jakarta 15K

Baca juga: Rifanty tumbangkan unggulan teratas turnamen Pelti Indonesia W15

Namun semangat Jessy tidak terpatahkan, ia tetap berusaha mengejar poin secara perlahan. Meskipun ia mengaku bahwa tenaganya sudah benar-benar habis di set ketiga, namun ia tetap optimistis untuk menampilkan yang terbaik selagi ia masih mampu.

“Sudah kayak aduh bisa enggak nih menang, sudah hopeless sekali pokoknya,” ujarnya.

“Akhirnya kayak ada suara dalam diri sendiri untuk positif, satu-satu coba terus, fight, berjuang poin demi poin,” lanjutnya.

Perjuangan Jessy di gim-gim akhir ternyata membuahkan hasil, satu per satu poin bisa ia raih. Jessy semakin agresif dengan mengandalkan modal keyakinan bahwa ia mampu memenangkan pertandingan tersebut.

“Pas set ketiga yang ketinggalan 2-5 itu saya semakin agresif dan modal yakin saja karena sudah nothing to lose. Saya sudah capek sudah lah apapun hasilnya yang penting saya main yang benar,” tuturnya.

“Eh akhirnya balik dia yang banyak salah. Lalu aku coba untuk terus konsisten,“ katanya.

Di babak perempat final yang akan berlangsung pada Jumat (28/6), Jessy akan bertemu dengan petenis muda Indonesia Rifanty Kahfiani. Rifanty berhasil mengalahkan petenis unggulan teratas asal Thailand Nudnida Luangnam dalam dua set 6-2, 7-5.

Baca juga: PP Pelti jadikan ITF Jakarta ajang persiapan jelang SEA Games 2019

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aldila melaju ke perempat final Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis unggulan Indonesia Aldila Sutjiadi melaju ke babak perempat final ajang Pelti Indonesia W15 Jakarta setelah mengalahkan petenis India Mihika Yadav pada putaran kedua yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Kamis.

Aldila berhasil menundukkan Mihika dalam dua set dengan skor telak 6-0, 6-2. Pada set pertama Aldila sangat menguasai lapangan dan sangat agresif dalam mengembalikan bola dari lawan. Bahkan, hampir semua servisnya pada set pertama juga nyaris tidak ada yang gagal.

“Set pertama sih aku bermain cukup bagus dan tidak terlalu banyak melakukan kesalahan. Bola masuk semua tapi dari lawannya sendiri yang sering tidak bisa mengejar bola,” katanya usai bertanding.

Namun, pada set kedua petenis berusia 24 tahun tersebut terlihat mulai sedikit tidak bisa mengimbangi permainan Mihika yang mulai agresif dengan menampilkan beberapa pukulan yang membuat Aldila cukup terkejut.

Selain itu, penampilannya pada gim awal set kedua juga tampak tidak begitu agresif. Bahkan beberapa dari servis yang ia lakukan pun bolanya dinyatakan keluar sehingga menambah poin untuk lawan.

“Di set kedua dia beberapa ada pukulan tidak terduga jadi aku agak enggak bisa mengimbangi sedikit karena pas awal kan aman-aman saja,” ujarnya.

Baca juga: Aldila targetkan tembus peringkat 300 WTA

Baca juga: Aldila siap rebut juara Jakarta 15K

Aldila juga mengaku lawan yang ia temui pada Jakarta 15K jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan para petenis yang bermain di Jakarta 25K beberapa waktu lalu.

“Yang tadi sih enggak terlalu kesusahan seperti yang 25K karena memang pemain-pemain 25K sama rata jadi pasti lebih sulit. situ. Kalau 15K mungkin pas di perempat final besok akan ada banyak tantangan karena yang unggulan-unggulan pada kumpul,” paparnya.

Aldila melanjutkan, saat ini ia sedang bersemangat untuk mengikuti berbagai turnamen internasional, termasuk Jakarta 15K meskipun level dari turnamen ini merupakan yang paling rendah. Hal tersebut dilakukannya demi mengejar targetnya, yaitu masuk top 300 pada akhir tahun ini.

“Ini sebenarnya buat persiapan karier profesional tenis aku juga ya, jadi memang sekarang goal utama aku ingin tembus top 300. Mudah-mudahan dengan ikut banyak turnamen dapat meningkatkan permainan dan mencapai target,” katanya.

Selain itu, pada turnamen 15K ini ia berharap bisa kembali menjadi juara utama seperti ajang 15K tahun 2018 yang berlangsung di Solo.

“Targetnya ingin juara karena tahun kemarin kan juara juga 15.000 dolar AS yang di Solo dan semoga tahun ini bisa mengulang lagi,” katanya.

Jakarta 15K merupakan kejuaraan khusus petenis putri yang masuk dalam kalender Federasi Tenis Internasional (ITF) World Tennis Tour. Turnamen yang berlangsung mulai 24 Juni hingga 30 Juni 2019 ini menyediakan hadiah total sebesar 15.000 dolar AS.

Baca juga: Aldila siap balas Peangtarn di SEA Games 2019

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rifanty tumbangkan unggulan teratas turnamen Pelti Indonesia W15

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Indonesia Rifanty Kahfiani berhasil menumbangkan unggulan teratas Nudnida Luangnam dari Thailand pada putaran kedua turnamen tenis Pelti Indonesia W15 Jakarta yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Kamis.

Rifanty melaju ke perempat final setelah mengalahkan Nudnida dalam dua set langsung 6-2, 7-5. Pada set pertama ia terlihat cukup dapat mengimbangi pemain peringkat 195 di WTA tersebut. Sedangkan pada set kedua Rifanty sempat ketinggalan 0-3, namun kemudian dia berhasil menyusul bahkan unggul 7-5.

Rifanty mengatakan bahwa dalam melawan unggulan teratas harus dibutuhkan strategi khusus. Ia mempelajari strategi khusus tersebut dengan melihat kebiasaan gaya bermain Nudnida pada pertandingan sebelumnya.

“Dia kan mainnya suka tembak-tembak gitu, nah kalau saya pakai strategi yang nembak-nembak juga enggak bakal kayak gini hasilnya. Terus saya ubah ritmenya jadi main lepas saja seperti enggak ada beban,” katanya.

Petenis yang kini berusia 21 tahun tersebut mengaku bahwa sebenarnya dia tidak berekspektasi lebih untuk pertandingan ini meskipun ia tetap optimistis.

“Ekspektasi enggak sih cuma saya tadi enggak fokus harus menang atau apa. Saya fokusnya improve dari hari ke hari. Kalau menang itu bonusnya,” katanya.

Rifanty yang saat ini berada di peringkat 1078 WTA mengaku cukup siap menghadapi pertandingan perempat final melawan rekan senegaranya Jessy Rompies pada Jumat (28/6). Ia mengatakan bahwa dirinya belum pernah bertanding melawan Jessy di nomor tunggal.

“Melihat permainan Kak Jessy mungkin hampir mirip-mirip ya sama pemain Thailand tadi. Pintar-pintar saja lah besok mengatur strateginya kalau ketemu Kak Jessy,” ujarnya.
 

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rifanty gunakan strategi khusus kalahkan unggulan teratas Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Rifanty Kahfiani menggunakan strategi khusus dalam mengalahkan petenis Thailand Nudnida Luangnam, unggulan teratas pada ajang Pelti Indonesia W15 Jakarta yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Kamis.

Sebelumnya, Rifanty berhasil menundukkan Nudnida pada putaran kedua dalam dua set dengan skor akhir 6-2, 7-5. Pertandingan tersebut merupakan pertemuan pertamanya dengan petenis berumur 32 tahun itu.

Ia mengatakan bahwa kemenangan berhasil ia dapatkan setelah ia menggunakan strategi khusus yang dipelajari dengan melihat kebiasaan gaya bermain Nudnida pada pertandingan sebelumnya.

“Minggu kemarin saya lihat dia mainnya kayak gimana. Terus dia mainnya cenderung tembak-tembak terus kan,” katanya.

Melihat Nudnida yang bermain cenderung menggunakan teknik menembak dalam bermain, Rifanty justru memilih untuk bermain lepas. Hal tersebut menjadi strategi khusus yang membawanya berhasil mengungguli petenis yang kini berada di peringkat 195 WTA itu.

Baca juga: Empat petenis Indonesia melaju ke putaran kedua ajang Jakarta 15K

“Nah kalau saya pakai strategi yang nembak-nembak juga enggak bakal kayak gini hasilnya karena dia kuat kalau main tembak-tembak. Akhirnya saya memilih untuk main lepas saja seperti enggak ada beban,” katanya.

Meskipun begitu, pada set kedua Rifanty mengaku sempat mencoba untuk mengikuti cara bermain Nudnida. Namun, ia justru sempat tertinggal poin di set kedua hingga 0-3.

“Set keduanya saya sempat ubah permainan sedikit malah nembak-nembak kayak dia, justru ketinggalan 0-3. Tapi pas 0-2 saya sudah mikir sih kalau main kayak gini bakal enggak bisa,” ujarnya.

Ia mengaku setelah menyadari tidak akan bisa mengimbangi Nudnida jika menggunakan teknik tembakan dalam mengembalikan bola. Akhirnya petenis peringkat 1.078 WTA itu mencoba untuk kembali mengubah ritme bermainnya.

“Saya ubah lagi permainan ke set pertama, saya ubah ritmenya pakai spin tinggi terus ‘drop shot’ gitu efektif sekali. Alhamdulillah bisa bangkit terus bisa nyentuh kemenangan di set kedua,” tuturnya.

Di balik kemenangannya di putaran kedua, sebenarnya petenis berumur 21 tahun tersebut tidak pernah terpikir akan bisa mengalahkan unggulan teratas asal Thailand itu. Ia mengaku dirinya hanya berusaha untuk bisa mendapat hasil yang terbaik.

“Ekspektasi enggak sih, cuma saya tadi enggak fokus harus menang atau apa, saya fokusnya improve dari hari ke hari. Kalau menang itu bonusnya,” katanya.

Rencananya, Rifanty akan melanjutkan langkahnya ke babak perempat final ajang Jakarta 15K dengan melawan petenis unggulan asal Indonesia Jessy Rompies pada Jumat (28/6).

Baca juga: Rifanty tumbangkan unggulan teratas turnamen Pelti Indonesia W15
Baca juga: Aldila siap rebut juara Jakarta 15K

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

John McEnroe akui tenis putra AS masih sulit bersaing di level elite

Jakarta (ANTARA) – Legenda tenis AS, John McEnroe, mengakui tenis putra AS masih sulit bersaing di level elite dunia, terutama karena para sejawatnya tidak menampilkan level permainan terbaiknya.

“Saya pikir peluangnya sangat kecil,” kata McEnroe saat ditanyai mengenai peluang petenis putra AS menjuarai ajang Wimbledon pada tahun ini, seperti dilansir Reuters.

“Isner telah lama absen… Maka ia kurang kesempatan bermain. Dan orang-orang lain, apakah itu (Reily) Opelka, yang merupakan versi muda dari Isner atau (Frances) Tiafoe, masih kesulitan. Bagi saya, sepertinya tidak ada petenis putra yang benar-benar siap untuk maju dan menggebrak.”

Dalam situasi normal, para penggemar tenis AS akan berharap Isner dapat berjaya di Wimbledon sekaligus mengakhiri puasa gelar AS selama 19 di All England Club. Sayangnya, pemilik servis keras asal Texas itu sudah absen bermain sejak ia mengalami cedera kaki saat dikalahkan Rofer Federer di Miami Open pada Mare.

Menurut McEnroe, hal lain yang menjadi penyebab sulitnya petenis putra AS menembus jajaran elite dunia adalah popularitas tenis di AS tergerus oleh sepak bola dan bola basket.

“Kami telah terlihat seperti ini selama bertahun-tahun atau selama beberapa dekade, namun atlet-atlet kami kelihatannya lebih ingin bermain sepak bola dan bola basket. Sepak bola tumbuh dengan baik, maka kami perlu mencari atlet-atlet lain,” tuturnya.

“Tenis lebih mahal daripada sebelumnya. Maka aksesibilitas merupakan faktor besar.”

Tetapi sosok kelahiran Jerman ini tidak patah arang terhadap masa depan tenis putra AS. Kuncinya adalah menarik atlet-atlet berbakat alam seperti Tiafoe, yang memang memiliki kecepatan dan kekuatan yang dibutuhkan di tenis modern.

“Mereka (atlet-atlet muda) akan menjadi para petenis yang berbahaya, namun pada sebagian besar atlet saat ini, semakin cepat permainan mereka, semakin besar peluang mereka untuk melejit.”

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon

Baca juga: Naomi Osaka kini merasa bebannya sudah lepas

Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Naomi Osaka kini merasa bebannya sudah lepas

Jakarta (ANTARA) – Setelah beban menyandang status nomor satu dunia lepas, Naomi Osaka kini menatap Wimbledon dengan perasaan yang sudah tidak lagi menanggung beban berat dan dia berharap mendapatkan undian bermain yang lebih bagus pada Wimbledon tahun ini.

Petenis bintang asal Jepang berusia 21 tahun itu harus mengalami kenyataan bahwa impiannya untuk merebut gelar Grand Slam ketiga kali berturut-turut musnah setelah tersingkir di Roland Garros pada babak ketiga French Open.

Dia mengaku kekalahan melawan Katerina Siniakova yang saat itu berperingkat 42, justru hal terbaik yang dapat terjadi pada pemain yang tidak nyaman menjadi puncak sorotan tersebut.

Sejak itu, dia kehilangan status nomor satu dunia dan akan memasuki Wimbledon pekan depan dengan predikat nomor dua dunia. Osaka justru senang dengan status barunya ini.

Baca juga: Barty gusur Osaka dari peringkat teratas dunia

“Sepanjang musim turnamen tanah liat saya, status nomor satu itu menjadi masalah dan itu terbukti karena saya tertekan sepanjang waktu,” kata Osaka ketika ditanya bagaimana perasaan menjadi pemain nomor satu dunia yang sedang memburu gelar juara di Prancis untuk menyandingkan gelar juara US dan Australia Open yang sudah lebih dulu diraihnya.

Baca juga: Tidak ada lapangan rumput? Tidak masalah bagi Djokovic

Kini Osaka mengaku senang turun gelanggang dengan tidak menyandang beban berat yaitu sebagai pemain nomor satu dunia.

Pada French Open lalu, Osaka mengeluhkan tekanan yang dihadapinya sehingga dia diserang sakit kepala stres dan kelelahan terus-terusan.

Tapi, menjelang undian Wimbledon esok Jumat (28/6), sakit kepala tampaknya belum hilang dari dia karena pada dua Wimbledon sebelumnya dia tersisih dari turnamen ini sejak babak ketiga, setelah mendapat undian yang tidak menguntungkan.

Pada 2017 dia dikalahkan juara Wimbledon lima kali Venus Williams yang saat itu juga melangkah ke final. Tahun lalu, dia dikalahkan Angelique Kerber yang akhirnya menjadi juara edisi itu. Melawan Kerber, Osaka hanya memenangkan enam gim.

Osaka hanya satu kali memenangi pertandingan turnamen lapangan rumput selama musim panas ini. “Saya tidak terlalu nyaman dengan lapangan rumput,” aku Osaka seperti dikutip AFP..

Baca juga: Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon
 

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Federer dipromosikan jadi unggulan kedua di Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Komite “All England Lawn Tennis Club” telah mengumumkan sebanyak 32 petenis unggulan di nomor tunggal dan 16 unggulan di nomor ganda di turnamen Wimbledon yang dimulai pada Senin, 1 Juli.

Hal yang paling mencolok dari pengumuman tersebut ialah dimasukkannya peringkat ketiga dunia (ATP Ranking) Roger Federer menjadi unggulan kedua di turnamen tersebut.

Mantan juara delapan kali itu dipromosikan menjadi unggulan kedua, menggeser juara 2008 dan 2010, Rafael Nadal, dikutip atptour.com, Rabu.

Novak Djokovic yang berada pada nomor 21 dunia pada turnamen tahun lalu, kini menjadi unggulan teratas dan akan berusaha menambah mahkota Wimbledon dari tahun 2011, 2014, 2015 dan 2018.

Runner-up tahun lalu yaitu Kevin Anderson, dinobatkan sebagai unggulan keempat, meskipun berada di peringkat kedelapan dunia.

Sedangkan finalis Wimbledon 2017 dan peringkat 18 dunia, Marin Cilic dipromosikan menjadi unggulan ke-13.

Sejak 2002 turnamen tersebut telah menggunakan pranata penomoran unggulan yang unik, dengan memperhitungkan hasil pertandingan di lapangan rumput sebelumnya dalam periode dua tahun.

Baca juga: Federer merasa muda kembali usai juarai Noventi Open

Baca juga: Federer cetak kemenangan ke-10 Noventi Open

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tidak ada lapangan rumput? Tidak masalah bagi Djokovic

Jakarta (ANTARA) – Kekurangan lapangan rumput di Serbia? Tidak masalah, kata petenis nomor satu dunia Novak Djokovic yang akan mempertahankan gelar juara turnamen tenis Wimbledon yang digelar di lapangan rumput All England Club, London, pada 1-14 Juli mendatang.

“Tolong carikan untuk saya lapangan rumput di Beograd dan saya akan latihan di sana,” kata Djokovic berseloroh ketika ditanya minggu lalu oleh wartawan mengapa ia memilih komplek lapangan keras di Ibukota Serbia itu untuk mempersiapkan diri.

“Kami tidak punya (lapangan rumput) di Serbia. Saya benar-benar berharap kami akan membangun lapangan rumput secepatnya, tapi untuk saat ini berlatih di lapangan keras sudah cukup buat saya,” katanya seperti dikutip Reuters.

“Alasan saya berlatih di sini saat ini karena kecepatan dan gerakan di permukaan lapangan sama dengan lapangan rumput,” kata Djokovic.

Djokovic, yang mengincar juara Wimbledon untuk kelima kalinya, atau gelar juara Grand Slam ke-16, berencana untuk tampil hanya di satu atau dua pertandingan lapangan rumput sebagai pemanasan.

Ketika ditanya mengapa ia mengubah rutinitas persiapan tahun ini dengan melewatkan turnamen Queens di London, Djokovic menegaskan bahwa ia memilih pendekatan berbeda karena terdapat banyak pilihan yang bisa ia pilih.

“Situasinya memang berbeda tahun ini karena saya tidak banyak bertanding dibanding tahun lalu akibat cedera dan operasi siku,” katanya.

“Saya melorot ke peringkat 22 ATP Tour, tapi istirahat secara intensif memberi saya cukup waktu untuk persiapan menghadapi Wimbledon dengan mengikuti turnamen Queens. Tapi tahun ini, panjangnya persiapan untuk turnamen tanah liat membuat saya memilih absen di Queens dan langsung ke Wimbledon,” katanya menambahkan.

Djokovic tampak berlatih pukulan baseline bersama rekan senegara Viktor Troicki, sahabat dekatnya yang juga sesama anggota Tim Piala Davis Serbia pada 2010 yang tampil sebagai juara.

“Saya tidak terlalu kecewa karena saya memilih untuk pulang ke Beograd kali ini untuk menemui keluarga dari French Open ke London,” katanya.

Setelah kehilangan peluang untuk memenangi empat gelar juara Grand Slam untuk kedua kali dalam karirnya ketika dikalahkan Dominic Thiem di semifinal French Open bulan lalu, Djokovic mengaku bahwa ia akan menghadapi Wimbledon kali ini tanpa ada beban.

“Saya punya beban berat sebelum French Open dengan target merebut empat gelar juara grand slam secara beruntun, tapi setelah kalah, saya akan bertanding di Wimbledon tanpa banyak beban karena saya harus memulai lagi dari awal,” katanya.

Baca juga: Djokovic menangi gelar Wimbledon untuk keempat kalinya

Baca juga: Thiem tundukkan Djokovic usai dua hari bertanding

Baca juga: Hujan hentikan pertandingan semifinal Djokovic vs Thiem

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wozniacki hadapi Sabalenka setelah sisihkan Petkovic

Jakarta (ANTARA) – Juara bertahan Caroline Wozniacki melanjutkan perjalanannya pada turnamen Nature Valley International 2019 di Eastbourne, Inggris, dengan menyingkirkan pemain 10 peringkat teratas asal Jerman Andrea Petkovic dalam dua set 6-4, 6-4, Selasa.

Selanjutnya, petenis Denmark yang menjadi unggulan 11 itu akan menghadapi unggulan delapan Aryna Sabalenka yang mengalahkan Tamara Zidansek 6-2, 6-3.

“Saya senang bisa melewatinya,” kata Wozniacki dikutip dari laman WTA Tour, Rabu. “Mulai agak gelap pada akhirnya, sehingga saya senang bahwa saya bisa menyelesaikannya.”

Pertemuan dengan Sabalenka akan mengulang final tahun lalu yang membawa Wozniacki meraih gelar.

Wozniacki mempunyai pengalaman cukup mengesankan di Eastbourne setelah kedua gelar yang diraih Wozniacki pada lapangan rumput diperolehnya di Eastbourne (2009, 2018), turnamen tempat ia juga mencapai final pada 2017 dan mencapai semifinal pada 2013-2015.

Pada tahun lalu, Wozniacki mengalahkan petenis Belarusia Sabalenka dalam dua set 7-5, 7-6(5). Namun Sabalenka membalasnya beberapa pekan kemudian di Toronto, bangkit dari kehilangan satu set untuk menang 5-7, 6-2, 7-6(4) dalam pertemuan paling mutakhir kedua pemain.

“Saya melawan dia di sini pada final tahun lalu, maka saya tahu ini akan menjadi pertandingan yang sulit,” kata Wozniacki. “Saya menantikannya.”

Baca juga: Keys juarai Charleston setelah taklukkan Wozniacki
Baca juga: Wozniacki mundur dari Qatar Terbuka

 

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kerber taklukkan Stosur di Eastbourne

Jakarta (ANTARA) – Juara Wimbledon Angelique Kerber melanjutkan penampilan mengesankan dengan kemenangan 6-4 6-4 atas petenis Australia Sam Stosur dalam pertandingan pemanasan di Eastbourne, Selasa.

Petenis kidal asal Jerman, Kerber, dua kali menjadi runner-up di Eastbourne, mendapat perlawanan keras dari mantan juara AS Terbuka itu tetapi dia mampu mematahkan servis empat kali dalam perjalanannya menuju kemenangan sekaligus memastikan tiket babak 16 besar.

Kerber, unggulan keempat yang mencapai semifinal di Mallorca pekan lalu setelah mengalahkan Maria Sharapova, selanjutnya akan menghadapi petenis Swedia Rebecca Peterson setelah dia mengalahkan Lesia Tsurenko.

Sementara itu, mantan petenis nomor satu dunia Simona Halep juga tampil mengesankan ketika ia membuka turnamen Eastbourne-nya dengan mengalahkan Hsieh Su-Wei asal Taiwan 6-2, 6-2 6-0 dalam waktu kurang dari satu jam.

“Rasanya sangat baik karena saya bermain bagus malam ini,” ujar Halep, yang selanjutnya akan menghadapi Polona Hercog, sebagaimana dikutip dari Reuters, Rabu.

Dalam pertandingan hari itu, mantan juara Perancis Terbuka dan semifinalis di Wimbledon tahun lalu, Jelena Ostapenko, , mengalahkan petenis Amerika Sloane Stephens 1-6 6-0 6-3.

Favorit tuan rumah, Johanna Konta, maju ke babak 16 besar setelah mengalahkan petenis Yunani, Maria Sakkari, 6-4 7-6 (4).

Petenis Belanda Kiki Bertens, unggulan tiga, juga membukukan kemenangan yang solid setelah mengalahkan petenis Kazakhstan Yulia Putintseva 6-4 6-1.
Baca juga: Federer cetak kemenangan ke-10 Noventi Open
 

Pewarta: Junaydi Suswanto
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Federer merasa muda kembali usai juarai Noventi Open

Jakarta (ANTARA) – Gelar juara ke-10 yang dicatatkan Roger Federer di turnamen Noventi Open Jerman membuat petenis asal Swiss tersebut merasa lebih muda dibandingkan putri kembarnya.

“Saya mendapatkan angka (kemenangan) 10 sebelum putriku, mereka baru akan berusia 10 tahun pada bulan Juli. Saya merasa muda lagi untuk sekarang, tapi saat di rumah akan merasa tua lagi,” tutur Federer melansir atptour.com, Selasa.

Meski unggulan ketiga itu berusia 37 tahun, cara bermainnya tidak mencerminkan umurnya yang sudah senior.

Kemenangan di Halle tersebut merupakan yang pertama bagi Federer merebut 10 gelar di satu turnamen, dan menjadi kemenangan ketiganya tahun ini, yang memberinya total 102 piala tingkat tur.

“Jelas itu terasa baik ketika semuanya berakhir, karena sebelumnya tidak memikirkan bahwa akan menang untuk kesepuluh kalinya di sini,” pungkas Federer.

Turnamen tersebut bukan langkah mudah bagi Federer, yang membutuhkan tiga set untuk mengalahkan mantan petenis nomor lima dunia Jo-Wilfried Tsonga di babak kedua dan unggulan ketujuh Roberto Bautista Agut di perempat final.

Ia menilai 2019 merupakan tahun yang luar biasa, dimana ia menjadi pemain pertama yang mengklaim tiga gelar tingkat tur dalam satu tahun, termasuk rekor catatan kemenangan 32-4 serta persentase kemenangan terbaik dari siapa pun di ATP Tour dengan 88,9 persen.

Hasil ini menempatkan Federer di posisi kuat menuju Wimbledon, yang sudah ia menangi delapan kali. Namun ia enggan terlalu memikirkan langkahnya di Wimbledon dan ingin menikmati waktu istirahatnya bersama keluarga.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Baghdatis akan pensiun setelah tampil di Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Petenis asal Siprus Marcos Baghdatis, finalis Australia Open 2006, mengumumkan rencananya untuk pensiun setelah berlaga di Wimbledon dengan alasan usia dan kekuatan fisik yang menurun.

Mantan peringkat delapan dunia ini menyampaikan rencananya tersebut melalui akun media sosialnya di hari Senin, dengan menulis: “Saya ingin meluangkan waktu untuk menulis kepada Anda semua dan memberi tahu bahwa Wimbledon akan menjadi turnamen terakhir saya sebagai petenis profesional,”.

Petenis berusia 34 tahun ini mengikuti turnamen ATP Tour terakhirnya di Dubai Duty Free Tennis Championships pada Februari lalu.

“Saya sangat berterima kasih kepada All England Club karena memberi saya ‘wildcard’ utama dan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada olahraga yang sangat saya cintai dan telah menjadi bagian besar dalam hidup saya selama 30 tahun terakhir. Keputusan ini tidak mudah. Sulit bagi saya, terutama secara fisik, untuk terus berada di tempat yang saya sukai ini,” kata Baghdatis.

Baghdatis tercatat pernah mencapai final Australia Open 2006 (kalah dari Federer) dan semifinal Wimbledon di tahun yang sama (kalah dari Nadal), berada di Top 100 selama 12 musim berturut-turut antara 2005 dan 2016.

Dia juga menorehkan catatan pertandingan tunggal putra dengan 348-273, yang mencakup empat gelar ATP Tour dari 14 final tingkat tur.

“Meskipun saya ingin terus bermain, batasan tubuh mencegah saya untuk bertahan dan bermain pada tingkat tinggi, terutama dua tahun terakhir sangat sulit bagi saya akibat cedera dan rasa sakit yang berulang. Selain itu, saya akan lebih bersemangat untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga di rumah,” tulisnya.

Mantan nomor satu dunia junior di akhir tahun 2003 itu menikah dengan mantan pemain WTA Karolina Sprem pada Juli 2012 dan dikaruniai dua anak perempuan, Zahara dan India, serta anak ketiga yang akan segera lahir.

Meski mengumumkan berhenti dari laga di lapangan, Baghdatis juga menyampaikan akan tetap terlibat dalam dunia tenis meski dalam peran yang berbeda.

“Terima kasih, terutama kepada ibu dan ayah saya yang mendukung saya sejak usia tiga tahun untuk bermain tenis. Terima kasih karena selalu percaya padaku dan mendorongku untuk menjadi lebih baik. Tim, teman dekat, dan para penggemar di seluruh dunia. Kalian membuat saya merasa diterima di setiap kota dan negara yang pernah saya kunjungi,” tulis Baghdatis.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemulihan cedera paksa Bianca Andreescu absen di Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Petenis muda Kanada yang sedang menanjak Bianca Andreescu akan absen pada Wimbledon saat ia melanjutkan pemulihan dari cedera bahu yang memaksanya keluar dari French Open, kata Tennis Canada, Senin waktu setempat.

“Sayangnya, karena rehabilitasi bahu dan pemulihan yang sedang berlangsung, Bianca Andreescu telah mengundurkan diri dari Wimbledon,” kata federasi tersebut melalui Twitter, dikutip AFP, Selasa.
 

Andreescu, yang berusia 19 tahun pada 16 Juni lalu, menarik diri dari French Open setelah mengalahkan Marie Bouzkova dalam tiga set pada putaran pertama, memberi petenis Amerika Sofia Kenin kemenangan tanpa tanding ke putaran ketiga.

Di Roland Garros, ia memainkan turnamen pertamanya sejak mundur dari pertandingan babak 16 besar di Miami Maret lalu karena cedera bahu kanan.

Sepekan sebelumnya, Andreescu mengatasi Angelique Kerber pada final di Indian Wells untuk menjadi petenis dengan wild card pertama yang memenangi gelar WTA di gurun California.

Ia berperingkat 60 saat memasuki turnamen di Indian Wells, kemudian melejit ke urutan 24 dan menempati ranking 25 pada Senin (24/6).

Baca juga: Cedera bahu paksa Andreescu mengundurkan diri

Baca juga: Andreescu jaga asa Kanada

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Halep boikot Fed Cup jika sistem “home-away” diganti

Jakarta (ANTARA) – Mantan petenis nomor satu dunia dari Rumania Simona Halep mengaku tetap cinta pada format Fed Cup saat ini, dan kemungkinan akan memboikot turnamen tenis beregu putri dunia itu jika sistem home-away diubah.

Federasi Tenis Internasional (ITF) berencana membuat keputusan besar akhir pekan ini mengenai kemungkinan mengubah sistem pertandingan Fed Cup menjadi sebuah turnamen tunggal yang diadakan di satu kota.

Jika perubahan itu berlaku, maka kesempatan Halep untuk bermain di depan publiknya sendiri semakin tipis.

“Saya cinta Fed Cup, dan saya tidak pernah ingin menggantinya,” kata Halep kepada wartawan saat mengikuti kejuaraan tenis Eastbourne, Senin waktu setempat, sebagai pemanasan menuju Wimbledon.

“Jika Fed Cup diganti, saya tidak ingin main lagi (di turnamen itu). Saya suka dengan format yang sekarang, jadi jika itu diubah maka akan berat, karena Fed Cup adalah wahana untuk bermain di kandang sendiri dan kandang lawan,” kata Halep seperti dikutip Reuters.

Halep, 27 tahun, telah tampil 19 kali untuk Rumania di Fed Cup dan sempat mengantar tim negaranya hingga semifinal tahun ini.

Baca juga: Tim Fed Indonesia takluk dari Korea Selatan dan Baca juga: Simona Halep umumkan kembali dilatih Daniel Dobre

David Jacobs gondol emas pertama bagi Para-Tenis Meja

Pewarta: Teguh Handoko
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Barty mundur dari Eastbourne karena cedera lengan

Jakarta (ANTARA) – Petenis yang baru saja menyandang status nomor satu dunia, Ashleigh Barty, mengundurkan diri dari Eastbourne International pekan ini karena cedera tangannya kambuh tetapi diharapkan sudah sepenuhnya bugar kembali untuk Wimbledon.

Juara French Open itu merangsek ke puncak peringkat dunia untuk pertama kalinya setelah menjuarai Birmingham Classic akhir pekan lalu.

Namun perjalanan 12 kali menang berturut-turut terjegal oleh cedera lamanya itu yang diyakini Barty bisa diatasi dalam waktu singkat sebelum musim ketiga Grand Slam itu mulai 1 Juli nanti.

“Ini cedera yang harus kami atasi sejak saya berusia 16 tahun,” kata Barty seperti dikutip AFP.

“Saya kira kami akan membaik demi Wimbledon, kami hanya perlu memastikan bahwa kami mengatasi cedera ini dengan benar dalam tiga atau empat hari ke depan guna meyakinkan bahwa saya sepenuhnya sehat pekan depan.”

Baca juga: Barty gusur Osaka dari peringkat teratas dunia

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

ITF World Tennis Tour di Jakarta akan jadi pemanasan SEA GAMES 2019

ANTARA – Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PP Pelti) menjadikan turnamen ITF World Tennis Tour 2019 sebagai pemanasan jelang SEA GAMES 2019. Turnamen yang diggelar 17 – 30 Juni tersebut adalah program PELTI untuk mengukur kemampuan diri serta lawan, sekaligus penentu nama-nama petarung Indonesia yang akan berlaga di SEA GAMES 2019. (Astrid Faidlatul Habibah/ Fahrul Marwansyah/ Ardi Irawan)

Aldila targetkan tembus peringkat 300 WTA

Butuh banyak waktu untuk bertanding supaya bisa dapat poin

Jakarta (ANTARA) – Petenis putri andalan Indonesia, Aldila Sutjiadi, menargetkan hingga tahun 2020 mendatang mampu menembus peringkat 300 untuk sektor tunggal dan 200 di sektor ganda WTA.

“Sekarang sih goal utama aku mau tembus top 300 di nomor tunggal sampai tahun 2020 dan akhir tahun ini gandanya tembus top 200. Tapi ya kalau bisa sih tahun ini sudah tercapai semua,” kata Aldila saat ditemui di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Senin.

Dalam upaya memenuhi target hingga tahun 2020, Aldila mengaku saat ini ia sedang bersemangat untuk mengikuti berbagai turnamen tenis kelas internasional. Hal tersebut dilakukannya untuk bisa mengumpulkan poin sehingga bisa tembus sesuai target.

“Aku butuh banyak waktu untuk bertanding supaya bisa dapat poin banyak dan bisa tembus,” ujarnya.

Tidak hanya untuk mengumpulkan poin, aktif bertanding di banyak turnamen juga menjadi salah satu cara Aldila untuk mengetahui potensi diri serta melatih tingkat rasa percaya dirinya. Seperti mengikuti turnamen Jakarta 15K yang merupakan kompetisi tenis skala paling rendah.

“Memang ini levelnya paling rendah tapi juga bisa dijadikan latihan buat aku meningkatkan percaya diriku kedepannya,” tuturnya.

Alasan Aldila memilih tahun 2020 sebagai waktu paling maksimal dalam mencapai targetnya adalah karena di 2020 terdapat ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) sehingga hal itu bisa dijadikannya sebagai evaluasi dan tolak ukur.

“Targetnya sampai dilihat main 2020 kan ada PON tuh, setelah itu dilihat bagaimana main tenis aku apakah masih bisa tembus terus atau stuck baru dievaluasi lagi,” katanya.

Aldila yang saat ini sedang berada di peringkat ke 455 untuk sektor tunggal dan 220 di sektor ganda WTA menyebutkan bahwa dirinya ingin menjadi seorang petenis yang profesional. Oleh karena itu ia selalu memiliki list turnamen yang harus diikuti, termasuk SEA Games, Jakarta 25K, dan Jakarta 15K.

“Ya turnamen ini masih salah satu dalam list karier profesional aku ya karena untuk menjadi professional tennis player aku butuh mengikuti turnamen,” jelas Aldila.

“Jadi SEA Games ya dijadikan turnamen untuk menunjang karier aku. Aku mengikuti pertandingan saja dan sekarang masih fokus di turnamen internasional karena SEA Games masih bulan November,” lanjutnya.

Meski Aldila tidak terlalu fokus mempersiapkan SEA Games 2019, ia mengaku bahwa sudah ada beberapa nama atlet yang akan menjadi saingan terberatnya di SEA Games mendatang, seperti petenis asal Thailand.

“Ya mungkin paling kuat Thailand meskipun kita juga belum tahu list nama siapa saja yang mereka turunkan, tapi kan kemungkinan yang kuat Luksika Kumkhum, Peangtarn, dan beberapa junior juga yang bagus. Jadi ya bakal ketat pertandingannya melawan Thailand,” katanya.

Dalam waktu dekat ini, Aldila akan mengikuti turnamen 15K ITF Women’s Circuit Jakarta 2019 yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta. Turnamen yang berlangsung mulai 24 Juni hingga 30 Juni 2019 ini menyediakan hadiah total sebesar 15.000 dolar AS.

Baca juga: Aldila siap rebut juara Jakarta 15K

Baca juga: Peangtarn hentikan Aldila pada Pertamina 25K Jakarta

Baca juga: Aldila juara ganda Singapore W25 dan ke final nomor tunggal

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aldila siap rebut juara Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis tunggal putri Indonesia Aldila Sutjiadi mengaku siap merebut juara utama di ajang 15K ITF Women’s Circuit Jakarta 2019 yang dilangsungkan di Elite Epicentrum Club, Jakarta, pada 24-30 Juni 2019.

Aldila mengatakan turnamen Jakarta 15k merupakan salah satu ajang kompetisi yang masuk dalam list karier profesionalnya, meskipun skala turnamen ini paling kecil, ia akan tetap berusaha keras untuk memenuhi targetnya menjadi juara di sektor tunggal.

“Ya turnamen ini masih salah satu dalam list karier profesional aku meskipun ini levelnya paling rendah, tapi di turnamen ini tetap jadi juara di tunggal,” katanya saat ditemui usai latihan, Senin.

Ia melanjutkan bergabung dalam turnamen Jakarta 15K juga merupakan salah satu cara lain dalam berlatih tenis serta dapat meningkatkan rasa percaya diri untuk menghadapi turnamen-turnamen berikutnya.

“Sekarang memang lagi butuh untuk sering ikut turnamen internasional buat ngumpulin poin, termasuk Jakarta 15K ini,” ujarnya.

Baca juga: Aldila siap balas Peangtarn di SEA Games 2019

Sebelumnya, petenis yang saat ini berada di peringkat 455 WTA nomor tunggal tersebut juga mengikuti turnamen serupa, yaitu Jakarta 25k. Aldila berkontribusi di sektor tunggal maupun ganda.

Namun, langkah Aldila di nomor tunggal terhenti di babak 16 besar setelah petenis Thailand Peangtarn Plipuech menundukkannya dalam tiga set dengan skor akhir 6-1, 4-6, 2-6. Di nomor ganda ia pun juga terhenti di babak semifinal setelah bersama Hiroko Kuwata dikalahkan oleh Junri Namagita serta Haruka Kaji dalam tiga set dengan skor 7-5, 0-6, 7-10.

Jakarta 15K merupakan kejuaraan khusus petenis putri yang masuk dalam kalender Federasi Tenis Internasional (ITF) World Tennis Tour. Turnamen yang berlangsung mulai 24 Juni hingga 30 Juni 2019 ini menyediakan hadiah total sebesar 15.000 dolar AS.

Ajang berskala internasional ini diikuti oleh berbagai negara, seperti Indonesia, Jepang, Tiongkok, India, Korea Selatan, Hongkong, Thailand, Singapura, Australia, Afrika Selatan, Aljazair, Belanda, serta Amerika Serikat.

Baca juga: Deria pastikan lebih baik di Jakarta 15K
Baca juga: PP Pelti jadikan ITF Jakarta ajang persiapan jelang SEA Games 2019

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Deria pastikan lebih baik di Jakarta 15K

Jakarta (ANTARA) – Petenis putri Pelatnas Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) Deria Nur Haliza memastikan dirinya akan bertanding lebih baik lagi di turnamen 15K ITF Women’s Circuit Jakarta 2019 yang berlangsung di Elite Epicentrum Club, Jakarta.

Sebelumnya, Deria juga mengikuti turnamen serupa, namun tingkatnya lebih tinggi dari Jakarta 15K, yaitu Pertamina Jakarta 25K yang berlangsung pada 17-23 Juni 2019. Di turnamen tersebut langkah Deria terhenti di babak 32 besar setelah Beatrice Gumulya berhasil menundukkannya dalam dua set dengan skor akhir 4-6, 4-6.

Deria mengakui pada turnamen tersebut ia sering melakukan kesalahan, seperti terlalu bermain aman, sering tidak fokus, serta tidak agresif dalam menangkap bola.

Ia mengatakan pelatihnya, Deddy Tedjamukti, telah memberikan saran dan kritik membangun agar kesalahan yang ia perbuat tidak terulang di turnamen-turnamen berikutnya, seperti Jakarta 15K dan SEA Games 2019.

“Catatannya sih jangan lebih banyak mati sendiri, lebih konsisten, dan lebih agresif juga,” kata Deria saat ditemui di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Senin.

Baca juga: Deria targetkan emas di SEA Games 2019
Baca juga: Deria ingin ikuti langkah Yayuk Basuki

Petenis yang kini berusia 22 tahun itu mengaku segala persiapan sudah dilakukannya, mulai dari mengikuti training camp sejak 20 Mei bersama PP Pelti maupun bergabung di berbagai kompetisi tenis.

“Persiapan sih biasa saja ya, latihan gitu. Kalau taktik emang enggak bisa diterapkan ke semua petenis, karena tiap orang kan beda-beda cara mainnya,” katanya.

Meskipun tidak menyatakan secara gamblang tentang targetnya di kompetisi Jakarta 15K maupun SEA Games 2019, Deria yang sempat mengikuti SEA Games dan terhenti di putaran kedua tersebut mengatakan saat ini ia hanya bisa berusaha dan bekerja keras agar keinginannya bisa tercapai.

“Targetnya sih ingin lebih tinggi, di 15K juga di SEA Games. Keinginannya pasti dapat medali. Tapi yang pasti target harus paling tinggi, meskipun pelatih sendiri enggak pernah nargetin aku. Tapi minta aku agar main lebih baik lagi,” ujarnya.

Rencananya, Deria akan bermain di turnamen Jakarta 15K pada Rabu (26/6) mendatang. Turnamen 15K ITF Women’s Circuit Jakarta 2019 tersebut berhadiah total 15.000 dolar AS dan berlangsung mulai 24 Juni sampai 30 Juni 2019.

Baca juga: PP Pelti jadikan ITF Jakarta ajang persiapan jelang SEA Games 2019

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PP Pelti jadikan ITF Jakarta ajang persiapan jelang SEA Games 2019

Jakarta (ANTARA) – Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PP Pelti) menjadikan turnamen ITF World Tennis Tour yang berlangsung di Jakarta sebagai salah satu ajang persiapan bagi para petenis Indonesia menjelang SEA Games 2019 yang akan berlangsung di Fillipina pada 30 November hingga 11 Desember mendatang.

“Turnamen ini menjadi evaluasi untuk SEA Games nanti, ini juga persiapan kita dalam rangka SEA Games, jadi kita bisa tahu posisinya siapa saja di tunggal dan ganda,” kata Ketua Umum PP Pelti Rildo Anwar saat ditemui di Elite Epicentrum Club, Jakarta, Senin.

Rildo mengatakan turnamen tersebut merupakan salah satu program yang diselenggarakan Pelti agar para petenis Indonesia bisa mengukur kemampuan masing-masing serta mengetahui kelemahan dan kekurangan petenis selama berlatih.

“Pelti memperbanyak turnamen agar memberi kesempatan kepada pemain untuk bisa membuktikan dirinya selama latihan,” kata Rildo.

“Kalau kita ukur kemampuan pemain kan dari turnamen yang diikuti. Ya kita harapkan makin bergairah lagi tenis di Indonesia ini,” katanya.

Selain itu, turnamen-turnamen tersebut juga menjadi bahan pertimbangan PP Pelti dalam menentukan nama-nama petenis Indonesia yang akan diturunkan di ajang SEA Games mendatang.

“Kita sedang mempersiapkan SEA Games, nanti kita evaluasi siapa yang kita turunkan di partai tunggal maupun ganda dan ganda campuran,” katanya.

Rildo mengatakan turnamen ITF Jakarta ini juga menjadi pertimbangan dalam menurunkan para petenis junior karena pada Jakarta 25K banyak petenis junior yang diturunkan ke lapangan dan cukup memiliki modal untuk melaju ke SEA Games mendatang.

“Berdasarkan ketentuan yang disampaikan oleh Kemenpora bahwa harus ada pemain junior yang masuk tim dan itu juga akan di evaluasi. Termasuk Janice Tjen kan dia kemarin 25K dapat wildcard, kalau yang 15K ini rencananya Ani,” tuturnya.

Baca juga: Ganda Jessy/Beatrice akui main aman di final Pertamina 25k
Baca juga: Petenis Jepang Risa Ozaki juara turnamen Jakarta 25k

Senada dengan Rildo, Wakil Ketua Umum PP Pelti Sutikno Mulyadi juga mengatakan meskipun training camp sudah dilakukan sejak 20 Mei 2019 di Wisma Sanita Penjomponhan, Jakarta, para petenis tetap membutuhkan persiapan ekstra, yakni dengan menerjunkan mereka langsung ke sebuah turnamen.

“Pertama kan kelas 25K ya jadi di situ tentunya tantangan lebih berat, secara teknis sebetulnya beberapa pemain kita bisa mengimbangi. Hanya masalah pengalaman bertanding yang harus diperbanyak karena kalahnya hampir di rubber set semua, itu yang kita harus antisipasi di training camp,” kata Sutikno.

Lebih lanjut, Presiden Asian Tennis Federation Anil Khanna juga mengapresiasi para petenis Indonesia yang bermain di turnamen 25K maupun 15K. Ia berharap Indonesia bisa melaju hingga 500.000 dolar AS pada 2020.

“Saya pikir Pelti sudah melaksanakan turnamen dengan sangat baik, pencapaian yang sangat baik untuk para pemain junior karena mempunyai kemajuan dan modal yang bagus untuk ke depannya,” kata Anil Khanna.

ITF World Tennis Tour yang diadakan di Jakarta terbagi menjadi dua turnamen berdasarkan besaran hadiah utama, yakni 25K ITF Women’s Circuit Jakarta 2019 berlangsung sejak 17 Juni hingga 23 Juni 2019 dengan total hadiah 25.000 dolar AS dan 15K ITF Women’s Circuit Jakarta 2019 berhadiah total 15.000 dolar AS yang berlangsung pada 24-30 Juni 2019 di Elite Club Epicentrum, Jakarta.

Baca juga: Ganda Jepang Junri/Haruka menang di ajang Jakarta 25k

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Boris Becker lelang trofi untuk bayar utang

Padang (ANTARA) – Trofi dan cenderamata pribadi milik bintang tenis Jerman Boris Becker akan dilelang secara daring (online) mulai Senin oleh perusahaan Inggris Wyles Hardy untuk membayar sebagian utang sang juara yang bangkrut.

Dikutip dari AFP, Senin, juara termuda dalam sejarah Wimbledon, yang meraih gelar pertama dari tiga gelar pada usia baru 17 tahun, melelang 82 jenis barang, termasuk medali, piala, jam tangan dan foto.

Penjualan akan berakhir pada 11 Juli, kata Wyles Hardy dalam lamannya.

Beberapa trofi yang ditawarkan termasuk replika Challenge Cup yang dianugerahkan kepada Becker menyusul salah satu kemenangan di Wimbledon, dan replika berukuran tigaperempat Renshaw Cup yang diberikan setelah ia menjadi juara tunggal Grand Slam termuda.

Medali finalis Wimbledon dari 1990, ketika ia dikalahkan oleh petenis Swedia Stefan Edberg, dan replika piala perak AS Open yang dibuat oleh pembuat perhiasan Tiffany atas kemenangannya pada 1989 atas Ivan Lendl, juga akan termasuk yang dijual.

Mantan petenis berusia 51 tahun yang banyak hutang itu dinyatakan bangkrut pada 2017.

Pada Juni 2018, ia mengklaim mendapat status diplomatik dan karenanya memiliki kekebalan, sehingga menghentikan penjualan trofi dan suvenir pribadi pada saat-saat terakhir.

Mantan petenis nomor satu dunia itu mengklaim bahwa ia ditunjuk oleh Presiden Republik Afrika Tengah sebagai “atase” olahraga, budaya dan kemanusiaan bagi Uni Eropa.

Namun Menteri Luar Negeri Afrika Tengah menjawab bahwa paspor yang dicap oleh Becker itu palsu, berasal dari “paspor kosong yang dicuri tahun 2014”.

Tawaran sangat substansial

Becker akhirnya mengakhiri episode ganjil itu pada Desember dengan melepaskan hak imunitasnya di pengadilan London yang khusus untuk kasus-kasus kepailitan, yang membawa rumah lelang itu mengembalikan trofi-trofi tersebut ke pasar.

Upaya pertama “menarik tawaran-tawaran yang sangat besar,” kata Mark Ford, salah satu dari tiga wali kebangkrutan Becker, dalam satu pernyataan.

Akan tetapi, penjualan itu tidak akan cukup untuk menutup utang yang nilainya jutaan pound itu.

Becker sudah mengalami masalah hukum dengan pengadilan di Spanyol atas utang yang belum dibayar untuk pengerjaan villanya di Mallorca.

Pastor yang menikahkannya pada 2009 juga membawanya ke pengadilan di Swiss dan pengadilan Jerman pada 2002 memberinya dua tahun penangguhan hukuman dan denda sebesar 500.000 euro (570.000 dolar) atas 1,7 juta euro pajak yang belum dibayar.

Juara enam kali Grand Slam, yang dijuluki “Boom Boom” Becker untuk servisnya yang sangat kencang, memenangi 49 gelar dan lebih dari 20 juta euro hadiah uang selama karirnya.

Ia sekarang fokus pada aktivitas tenisnya, terutama menjadi komentator, saat ia berusaha memanfaatkan ketenarannya untuk menghapus utang-utangnya.

Baca juga: Boris Becker kritik Djokovic usai akhiri kerja sama

Baca juga: Djokovic persembahkan trofinya untuk Boris Becker

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Barty gusur Osaka dari peringkat teratas dunia

Jakarta (ANTARA) – Berikut adalah data dan fakta mengenai Ashleigh Barty yang akan segera menjadi petenis putri pertama Australia dalam 43 tahun terakhir yang menjadi petenis nomor satu dunia, menggusur Naomi Osaka,

Petenis berusia 23 tahun itu mengalahkan Julia Goerges 6-3 7-5 di final turnamen Nature Valley Classic di Birmingham, Minggu, demikan Reuters. Hal itu berarti ketika ranking WTA terbaru diumumkan pada Senin, maka Barty akan menggusur petenis asal Jepang itu.

Lahir: 24 April 1996 di Ipswich, Australia (usia 23)

Gelar Grand Slam: 1 (Perancis Terbuka 2019)

Mulai bermain tenis pada usia lima tahun ketika orang tuanya Robert dan Josie memperkenalkan kepadanya olahraga tersebut.

Pada 2011, meraih gelar juara tunggal putri Wimbledon di kelompok junior

Ayahnya adalah suku asli Australia, Ngarigo, yang diturunkan oleh salah satu neneknya, dan Barty adalah pendukung kampanye untuk penduduk asli Australia.

Setelah mengawali karir di sirkuit ITF di Australia pada 2010, Barty untuk pertama kali tampil di turnamen WTA, yaitu dengan mengikuti babak kualifikasi AS Terbuka pada tahun berikutnya.

Selama 2012, dia meraih empat gelar juara di kategori tunggal dan dua di nomor ganda sirkuit ITF.

Pada 2013, Barty meraih satu gelar juara di nomor ganda turnamen WTA dan sebanyak tiga kali mencapai final ganda Grand Slam bersama Casey Dellacqua (Australian Terbuka, Wimbledon, AS Terbuka). Ia juga merebut dua gelar di nomor ganda turnamen ITF.

Setelah kembali meraih gelar juara di nomor ganda WTA pada 2014, ia sempat istirahat dari tenis setelah mengikuti AS Terbuka untuk bergabung dengan tim kriket Brisbane Heat, sebelum kembali ke tenis pada 2016.

Pernah menembus peringkat 20 besar pada 2017, meraih gelar juara tunggal WTA di Kuala Lumpur sebagai pemain kualifikasi, ia kemudian terus melaju untuk meraih dua gelar juara tunggal di Birmingham dan Wuhan sebelum kemudian menjadi petenis nomor satu Australia.

Barty meraih gelar tunggal WTA di Nottingham dan Zhuhai untuk mengakhiri 2018 dengan menempati peringkat 15 dunia. Ia juga meraih empat gelar juara di nomor ganda.

Dia mengawali 2019 dengan menjadi juara di Miami pada Maret lalu, sebelum merebut tropi Grand Slam untuk pertama kalinya di Perancis Terbuka.

Kemudian meraih gelar juara ketiga sepanjang 2019 di Birmingham dan akan menggusur petenis Jepang Naomi Osaka di peringkat teratas pada Senin (24/6) untuk menyamai prestasi pendahulunya Evonne Goolagong pada 1976.

Baca juga: Barty ratu baru Roland Garros

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Federer cetak kemenangan ke-10 Noventi Open

Jakarta (ANTARA) – Roger Federer membuat sejarah pada hari Minggu di Halle, Jerman, dengan mencetak gelar juara ke-10 Noventi Open setelah mengalahkan David Goffin 7-6(2), 6-1.

Ini adalah pertama kalinya Federer mendapatkan 10 piala dalam sebuah turnamen, bersama dengan Rafael Nadal sebagai satu-satunya pemain di Era Open yang mencapai prestasi tersebut.

“Ini luar biasa. Pada beberapa alasan saya berpikir tidak akan berhasil. Tapi saya tidak terlalu memikirkannya dan hanya memikirkan pertandingan demi pertandingan, karena babak kedua dan perempat begitu sulit sehingga tidak menyangka bisa menang,” kata Federer melansir atptour.com, Minggu.

Kemenangan ini adalah gelar tingkat tur ke-102 Federer, selisih tujuh piala dari rekor Jimmy Connors sebanyak 109, dan menjadi kemenangan tingkat tur ke-19 bintang Swiss itu di atas lapangan rumput.

“Ini pertama kalinya saya bisa memenangkan gelar 10 kali di satu tempat, jelas ini momen yang sangat spesial dalam karir saya,” pungkas Federer.

Sang juara membawa pulang hadiah sebesar Rp6,9 miliar dan 500 poin peringkat ATP.

Sedangkan Goffin, yang berusaha untuk mengklaim mahkota pertamanya sejak 2017 di Tokyo, mendapat Rp3,4 miliar dan 300 poin.

Baca juga: Federer akan hadapi Goffin di final ke-13 Noventi Open

David Jacobs gondol emas pertama bagi Para-Tenis Meja

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019