Bertens jago lapangan tanah yang jadi ancamaan di Charleston

Jakarta (ANTARA) – Juara bertahan Volvo Car Open Kiki Bertens telah berubah drastis dalam satu tahun terakhir dan menjadi ancaman bagi banyak pemain dalam turnamen di Charleston, AS pekan ini  jika dibandingkan pada gelaran yang sama tahun lalu.

Meski petenis peringkat enam dunia ini mendulang pujian di Charleston, namun dia mengaku tidak pernah lebih bahagia dari pada saat bermain di lapangan tanah.

“Bagi saya, ada lebih banyak kebebasan (bermain) di atas tanah karena bisa melakukan lebih banyak lagi. Jadi bagiku, lebih mudah untuk bermain di tanah dari pada kembali ke lapangan keras,” tutur petenis putri Belanda ini melansir wtatennis.com, Rabu.

Setelah memenangkan gelar premier pertamanya di Charleston musim semi tahun lalu, pemain berusia 27 tahun itu pun terus merangsek di sisa musim ini.

Saat itu menjadi musim terobosan bagi Bertens, ketika ia mencapai perempat final pertamanya di Wimbledon, memenangkan gelar terbesar dalam karirnya di Cincinnati, dan kemudian lolos ke Final WTA pertamanya di nomor tunggal putri, di mana ia maju ke semifinal.

Memasuki 2019, dia memenangkan gelar pertamanya musim ini di St. Petersburg dan menorehkan 16 putaran berturut-turut di Indian Wells dan Miami, menjadi hasil “Sunshine Double” terbaik dalam karirnya.

“Pasti berbeda dari beberapa tahun terakhir. Saya tahu jika tidak melakukannya dengan baik di musim tanding lapangan tanah, maka saya akan keluar dari Top 50 atau hal buruk lainnya. Sekarang itu tidak akan terjadi, saya merasa sediki lebih bebas,” tutur Bertens.

Kehebatan Bertens di lapangan tanah telah terbukti dengan baik, dan bagaimana ia menangani pertandingan yang akan datang melalui French Open akan menjadi salah satu alur cerita penting musim semi.

Sejak awal musim 2016, Bertens di lapangan tanah memiliki rata-rata kemenangan servis 75,6 persen dan 43 persen pukulan balik, sementara pada periode yang sama hanya 68,4/39,0 persen di lapangan keras dan 69,3/35,9 persen di rumput.

“Aku tumbuh (bermain) di tanah hijau. Beberapa tahun pertama itu adalah tanah liat merah tapi kemudian aku berlatih selama 10 tahun di tanah liat hijau, juga di dalam ruangan. Jadi aku cukup terbiasa dengan itu,” katanya.

Baca juga: Qatar Terbuka, Bertens lewati mimpi buruk kalahkan giorgi
Baca juga: Tundukkan Vekic, Bertens juarai turnamen St Petersburg

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019