Kalahkan Matthew Ebden, Isner melaju ke semifinal Newport

Jakarta (ANTARA) – Juara tiga kali John Isner melaju ke semifinal turnamen tenis lapangan rumput ATP di Newport, Rhode Island, AS setelah menaklukkan petenis Australia Matthew Ebden 4-6, 6-3, 6-4, Jumat (Sabtu dinihari WIB).

Seperti dikutip dari AFP, petenis tuan rumah AS, yang tampil dengan fasilitas wild card setelah sembuh dari cedera kaki, di babak empat besar akan berhadapan dengan unggulan keempat asal Perancis Ugo Humbert yang pada pertandingan lainnya menyingkirkan Ilya Ivashka asal Belarusia a 7-5, 3-6, 6-2. Humbert, petenis berusia 20 tahun itu saat ini menghuni peringkat 48 besar dunia.

Isner, 34, harus istirahat total selama tiga bulan setelah mengalami cedera pada kaki kiri saat dikalahkan Roger Federer di partai final turnamen Miamipada Maret lalu.

Ia tidak tampil di turnamen Perancis Terbuka dan hanya melangkah sampai babak kedua Wimbledon baru-baru ini.

Pada pertandingan menghadapi Ebden yang merupakan ulangan final Newport 2017 yang dimenanginya, Isner berhasil menghunjamkan 24 servis as.

Unggulan ketujuh Alexander Bublik asal Kazakhstan juga mencapai babak semifinal setelah menjungkalkan petenis tuan rumah AS Tennys Sandgren 0-6, 6-3, 6-0.

Bublik, who kehilangan 10 dari 12 point di set pertama, tapi hanya kehilangan lima poin pada set ketiga, di semifinal akan menghadapi petenis Spanyol Marcel Granollers, yang menang 6-3, 6-0 atas petenis Jerman Mischa Zverev 6-3, 6-0 pada pertandingan yang sempat terhenti akibat hujan.

Baca juga: John Isner ungkap jenis kelamin anaknya melalui pukulan servis

Baca juga: Meski kalah, Isner tidak kecewa

Baca juga: Ditinggal sahabat, Isner sulit fokus bertanding

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gagal di Wimbledon, Kerber pisah dari pelatih

Jakarta (ANTARA) – Mantan petenis putri nomor satu dunia, Angelique Kerber, memutuskan berpisah dari pelatihnya Rainer Schuttler dua pekan setelah ia tersingkir secara mengejutkan di kejuaraan Wimbledon 2019.

Lewat akun twitter pribadinya pada Jumat malam WIB keputusannya didasari keinginan untuk memulai sesuatu yang baru.

“Untuk bergerak maju, perubahan bukanlah hal mudah — terlebih ketika Anda merasakan bekerja sama dengan orang hebat seperti Rainer. Namun untuk saat ini, kami sepakat waktu yang tepat untuk awal yang baru,” cuitnya lewat akun @AngeliqueKerber.

“Ia telah menjadi teman dan saya berterima kasih atas kerja keras dan dedikasinya dalam beberapa bulan terakhir,” tulisnya lagi.

Kerber yang memasuki Wimbledon 2019 sebagai juara bertahan mendapati langkahnya terhenti di putaran kedua dikalahkan oleh Lauren Davis, petenis yang berada di luar peringkat 250 besar dunia hingga awal tahun ini.

Petenis asal Jerman yang memenangi US Open dan Australian Open 2016 kini melorot ke peringkat ke-13 dunia setelah tahun yang tak begitu mengesankan sejauh ini.

Kekalahan di Wimbledon bukan satu-satunya hasil mengecewakan bagi Kerber tahun ini, sebab di Australia Open ia disingkirkan dua set langsung oleh petenis non-unggulan Daniele Collins di babak 16 besar dan langsung angkat koper di putaran pertama French Open.

Baca juga: Juara bertahan Angelique Kerber tumbang

Baca juga: Halep siap gantikan Serena jadi ratu tenis dunia

Baca juga: Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic puji kualitas Halep di final Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Juara tunggal putra Wimbledon lima kali Novak Djokovic memuji kualitas Simona Halep setelah meraih gelar pertamanya di “The Championships”.

Halep, pemenang French Open 2017, menambah daftar kemenangan keduanya di tingkat Grand Slam setelah hasil spektakuler mengalahkan Serena Williams di final tunggal putri dengan skor 6-2, 6-2.

“Dia mendapatkan semuanya. Dari permainan, semangat juang, dan kini pengalaman. Sangat mengesankan bagaimana dia bermain di final Wimbledon pertamanya melawan petenis hebat, yang merupakan pesaing sengit yang telah memenangkan Wimbledon berkali-kali,” kata Djokovic mengutip wtatennis.com, Kamis.

Djokovic mengutarakan penilaiannya tersebut saat menghadiri kegiatan “Champions Dinner”.

“Luar biasa mengetahui bahwa negara-negara kecil seperti Rumania dan Serbia melakukan hal yang sangat baik di panggung dunia. Selamat!,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Halep juga tak ketinggalan memberikan pujian kepada Djokovic yang sudah melewati putaran final bersejarah melawan Roger Federer.

“Dia adalah juara yang hebat. Saya selalu belajar dari para juara dan berusaha meningkatkan sebanyak yang saya bisa. Jika bisa santai di lapangan, maka ada peluang lebih besar untuk memenangkan pertandingan,” tutur Halep.

Kemenangan pertama petenis berusia 27 tahun di London ini telah mendorongnya ke peringkat empat WTA dan masuk ke urutan kedua menuju WTA Finals Shenzhen.

Baca juga: Djokovic: Kemenangan di Wimbledon menyita kekuatan mental

Baca juga: Halep siap gantikan Serena jadi ratu tenis dunia

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

WTA umumkan 102 calon peserta US Open

Jakarta (ANTARA) – Sebanyak 102 petenis yang terdaftar dalam Asosiasi Tenis Wanita (WTA) peringkat teratas langsung dimasukkan ke dalam kandidat peserta US Open bulan depan, menurut informasi Asosiasi Tenis Amerika Serikat (USTA) yang dirangkum wtatennis.com, Kamis.

Dari daftar tersebut, termasuk di antaranya ialah juara bertahan Naomi Osaka yang mengalahkan Serena Williams di final 2018, dan petenis peringkat pertama Ashleigh Barty.

Keduanya masuk dalam jajaran 13 petenis pemenang Grand Slam di lapangan secara keseluruhan.

Pemenang dari lima US Open sebelumnya juga turut masuk dalam daftar, mereka antara lain juara 2017, Sloane Stephens, juara dua kali Venus Williams, juara 2016 Angelique Kerber dan juara 2006 Maria Sharapova.

Juara utama tambahan tahun ini termasuk trio mantan peringkat satu, yaitu juara Australia Open dua kali Victoria Azarenka, juara Grand Slam dua kali Garbine Muguruza, dan juara Australia Open 2018 Caroline Wozniacki, serta juara French Open 2017 Jelena Ostapenko.

Sementara juara US Open 2004 Svetlana Kuznetsova menjadi pemain pertama yang berada di luar daftar tersebut, dan baru bisa dicalonkan menjadi peserta jika ada kandidat lain yang batal atau mengundurkan diri.

Dua petenis menggunakan penilaian peringkat khusus untuk masuk ke undian utama, yaitu peringkat ke-43 Catherine “CiCi” Bellis dan peringkat ke-100 Colleen “CoCo” Vandeweghe.

Amerika Serikat memiliki 15 petenis putri yang memenuhi syarat untuk masuk langsung ke undian utama US Open dan menjadi negara dengan peserta terbanyak dibanding negara lain.

Baca juga: Halep duduki peringkat dua Shenzhen WTA Finals

Baca juga: WTA umumkan Shiseido jadi sponsor utama WTA Finals Shenzhen

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Di Stadion Bucharest, Halep pamerkan trofi Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Juara tunggal putri Wimbledon, Simona Halep, memamerkan trofi kemenangan Grand Slam keduanya di Stadion Nasional Bucharest Rumania pada Rabu waktu setempat.

“Saya masih bekerja keras setiap hari, setiap pertandingan, setiap turnamen. Itulah sebabnya saya mampu memenangkan turnamen ini. Saya mencoba profesional, senang dengan apa yang saya capai dua minggu ini. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya memenangkan Wimbledon. Ini sangat istimewa,” ujar Halep melansir wtatennis.com, Kamis.

Mantan petenis nomor satu dunia ini membawa pulang gelar Grand Slam keduanya setelah menundukkan Serena Williams, juara Grand Slam 23 kali, di putaran final.

Tahun lalu, Halep juga berkesempatan memamerkan piala Grans Slam pertamanya yang didapat dari French Open (Roland Garros) 2018.

Selain itu, saat Halep mendarat di Bandara Internasional Henry Coanda di Bucharest, ia langsung menerima penghargaan tertinggi negara Bintang Rumania dan didapuk untuk menjadi pembawa bendera negaranya untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Halep terakhir kali mengikuti pertandingan tenis di tingkat Olimpiade pada tahun 2012 di London, arena yang kini ia menangi dalam ajang Wimbledon.

Saat itu, dia langsung kalah di putaran pertama oleh petenis Kazakhstan Yaroslava Shvedova.

Baca juga: Halep siap gantikan Serena jadi ratu tenis dunia

Baca juga: Halep terima anugerah tertinggi “Bintang Rumania”
 

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

WTA umumkan Shiseido jadi sponsor utama WTA Finals Shenzhen

Jakarta (ANTARA) – Asosiasi Tenis Wanita (WTA) mengumumkan perusahaan kecantikan terkenal di dunia Shiseido (Gemdale Group) akan menjadi sponsor utama WTA Finals Shenzhen, sehingga turnamen akhir musim yang akan dilaksanakan pada 27 Oktober-3 November itu menjadi “Shiseido WTA Finals Shenzhen”.

Kerja sama sponsor itu diumumkan pada konferensi pers yang diadakan pada hari Rabu di Hilton Nanshan di Shenzhen, China, dihadiri perwakilan Asosiasi Tenis China, Pemerintah Kota Shenzhen, Grup Gemdale, Shiseido, dan WTA, menurut wtatennis.com, Rabu.

“Kami sangat senang menyambut Shiseido sebagai sponsor acara unggulan WTA. Kami percaya para penggemar akan mendapatkan suguhan nyata dan menantikan tahun pertama yang hebat dari Final Shiseido WTA Shenzhen,” kata Ketua dan CEO WTA Steve Simon.

Bersamaan dengan itu, WTA juga secara resmi mengumumkan hadiah uang yang ditawarkan di Shiseido WTA Finals Shenzhen, yang mencapai lebih dari Rp195 miliar atau dua kali lipat jumlah yang ditawarkan tahun lalu.

Jika juara di Shiseido WTA Finals Shenzhen memenangkan semua pertandingan tunggal, ia akan membawa pulang hadiah total Rp66 miliar, jumlah hadiah juara terbesar di tenis profesional pada tahun 2019.

Sementara untuk nomor ganda, juara bisa menerima hadiah Rp13,9 miliar jika tak terkalahkan hingga putaran final.

Shiseido WTA Finals Shenzhen akan digelar mulai 27 Oktober hingga 3 November di Pusat Olahraga Teluk Shenzhen, menampilkan delapan pemain tunggal teratas dan tim ganda yang berhasil mengumpulkan poin dari 53 turnamen WTA dan empat turnamen Grand Slam sepanjang tahun 2019.

Tahun ini, baik nomor tunggal maupun ganda akan menampilkan format “round robin” dengan babak knock-out dari babak semifinal.

Baca juga: Halep duduki peringkat dua Shenzhen WTA Finals

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Halep duduki peringkat dua Shenzhen WTA Finals

Jakarta (ANTARA) – Mantan petenis nomor satu dunia Simona Halep kini menduduki urutan kedua untuk agenda WTA Finals di Shenzhen setelah memenangi Grand Slam keduanya di Wimbledon pekan lalu.

Dia melompat sebanyak lima peringkat dan hanya selisih 458 poin untuk akhirnya berada tepat di belakang juara French Open Ashleigh Barty yang mempunyai 4.885 poin, menurut laporan wtatennis.com, Rabu.

Kemenangan itu menjadi gelar juara pertama petenis Rumania itu pada musim ini, yang sebelumnya hanya menyabet gelar runner-up di Doha dan Madrid.

Di tempat lain, kejuaraan Wimbledon telah memberikan dampak kuat pada perolehan poin sejumlah petenis untuk memperebutkan posisi delapan besar di WTA Finals Shenzhen.

Perempat finalis Wimbledon Johanna Konta masuk ke daftar sementara peserta WTA Finals untuk pertama kalinya di posisi terakhir, dengan didukung poin dari semifinal French Open.

Dengan 2.448 poin, Konta menggeser posisi Marketa Vondrousova dari elit delapan besar.

Selanjutnya di posisi ketujuh ada Belinda Bencic dengan 2.758 poin, posisi keenam Naomi Osaka 3.156 poin, Kiki Bertens di posisi kelima dengan 3.276 poin, Petra Kvitova di posisi keempat dengan 3.765 poin, dan Karolina Pliskova dengan 4.166 yang berada di belakang Halep sebagai petenis ketiga.

Baca juga: Halep terima anugerah tertinggi “Bintang Rumania”

Baca juga: Halep siap gantikan Serena jadi ratu tenis dunia

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Halep terima anugerah tertinggi “Bintang Rumania”

Jakarta (ANTARA) – Juara tunggal putri Wimbledon Simona Halep akan menerima bintang penghargaan tertinggi dari Rumania yaitu “Steaua Romaniei” atau Bintang Rumania usai sebagai apresiasi pemerintah atas keberhasilannya menjuarai Grand Slam dan menjadi petenis nomor satu dunia.

Tidak hanya itu, berdasarkan informasi dari Kantor Administrasi Kepresidenan Rumania,  Halep juga dinobatkan untuk menjadi pembawa bendera negaranya pada Olimpiade Tokyo 2020.

Surat keputusan penghargaan tersebut menyebutkan, “Sebagai hasil dari kinerja luar biasa pada turnamen tenis Wimbledon dan sebagai tanda pengakuan dan penghargaan kepada seluruh kiprahnya, Presiden Rumania Klaus Iohannis memutuskan untuk memberikan penghargaan tertinggi dari Negara Rumania Penghargaan Nasional Bintang Romania dengan pangkat Ksatria, kepada petenis Simona Halep. Melalui dedikasi, pengabdian dan profesionalismenya, yang dikonfirmasi di lapangan tenis dan di luar lapangan, Simona Halep telah mempromosikan nama negara di seluruh dunia. Simona Halep adalah model bagi generasi muda, dan keterlibatannya dalam mempopulerkan tenis kepada anak-anak adalah keuntungan besar untuk olahraga Rumania,”.

Baca juga: Halep siap gantikan Serena jadi ratu tenis dunia

Wali kota Bucharest Gabriela Firea mengumumkan bahwa acara perayaan akan diadakan Rabu ini di pusat kota untuk menghormati Halep.

Namun sebelum itu, juara Grand Slam dua kali ini ingin menikmati masa istirahatnya usai bertanding di Wimbledon.

“Saya akan beristirahat selama beberapa hari, menikmati kemenangan. Saya punya tujuan utama setiap minggu, setiap turnamen penting, dan saya selalu menginginkan yang maksimal,” tutur Halep dalam wtatennis.com.

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christo kalah di Swedia, Jessy/Beatrice tersisih di Swiss

Jakarta (ANTARA) – Dua ganda yang melibatkan petenis Indonesia pada turnamen di Swedia dan Swiss langsung tersisih pada putaran pertama kedua turnamen itu, Selasa waktu setempat.

Petenis putra Christopher Rungkat yang berpasangan dengan Hsieh Cheng-Peng dari Taiwan, menurut laman resmi ATP Tour, Rabu, dikalahkan oleh Treat Huey dari Filipina dan petenis Denmark Frederik Nielsen pada putaran pertama Swedish Open di Bastad, Swedia.

Christo dan Hsieh yang menjadi unggulan keempat itu menyerah dua set langsung 1-6, 4-6 pada pasangan Treat dan Frederik itu.

Sementara itu, ganda putri Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya yang bertanding pada turnamen Ladies Championships Lausanne di Lausanne, Swiss, juga langsung menyerah pada putaran pertama.

Menurut laman WTA Tour, Jessy/Beatrice kalah oleh unggulan pertama Monique Adamczak dari Australia dan Han Xinyun dari China juga dalam dua set langsung 4-6, 0-6.

Baca juga: Indonesia perlu belajar soal dukungan petenis ke Taiwan, kata Christo dan Christo, Jakarta dan hilangnya kompleks tenis bersejarah

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Posisi “Big Titles” Federer terancam Djokovic

Jakarta (ANTARA) – Novak Djokovic yang mengalahkan Roger Federer di putaran final Wimbledon pada hari Minggu dan berhasil meraih gelar juara kelimanya, kini juga akan melampaui gelar Federer di papan teratas “Big Titles”.

Petenis Serbia berusia 32 tahun itu memenangkan mahkota Grand Slam ke-16 dan pertandingan turnamen besarnya ke-54, kemenangan kombinasi dari Grand Slam, Nitto ATP Finals, dan ATP Masters 1000.

Sementara Federer, masih memiliki empat kemenangan lebih banyak di Grand Slam dari Djokovic dengan 20 kali menang dan satu keunggulan di Nitto ATP Finals jika dibandingkan Djokovic yang memiliki lima kemenangan di ATP FInals.

Namun Djokovic unggul lima gelar Masters 1000 lebih banyak dibanding Federer dengan skor 33-28, menempatkan posisinya bersaing di peringkat “Big Titles”.

Petenis peringkat satu dunia ini juga memiliki rasio kemenangan yang paling mengesankan dibanding petenis tiga besar, dengan memenangkan satu turnamen besar dari setiap tiga turnamen (3,3), lebih baik dari Rafael Nadal yang 3,5 dan Federer 4,2.

Baca juga: Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah

Djokovic secara khusus telah berjaya selama 12 bulan terakhir, sejak Juli 2018 telah memenangkan tujuh turnamen, yaitu empat Grand Slam dan tiga gelar Master 1000.

Dalam periode waktu yang sama, Federer hanya menyabet satu gelar di Miami Open 2019, sedangkan Nadal tiga gelar di Toronto 2018, Italia Open 2019, dan French Open 2019.

Ketiganya bersaing satu sama lain untuk mendapatkan gelar terbesar dalam tenis, namun nyatanya mereka juga saling memotivasi satu sama lain dengan prestasi mereka, menurut atptour.com.

Baca juga: Federer ratapi pupusnya peluang di depan mata

Baca juga: Djokovic petenis tunggal putra kedua yang lolos ATP Final
 

Kisah Christopher Rungkat tembus babak utama Wimbledon

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic petenis tunggal putra kedua yang lolos ATP Final

Jakarta (ANTARA) – Petenis Serbia Novak DJokovic menjadi petenis tunggal putra kedua yang berhasil lolos ke Nitto ATP Final London, mengikuti jejak Rafael Nadal yang sebelumnya terlebih dulu mengamankan posisinya di turnamen tersebut.

Djokovic lolos dengan 6.725 poin usai memenangkan gelar kelimanya di Wimbledon, unggul 500 poin atas Nadal yang mencetak 6.225 poin usai masuk di perempat final, menurut data atptour.com, Selasa.

Baca juga: Zverev taklukkan Federer di semifinal ATP Finals

Djokovic akan bertaruh di turnamen ATP Finalnya yang keenam di tahun 2019, sementara Nadal akan mengikuti yang kelima.

Sementara Roger Federer, mantan juara enam kali Nitto ATP Finals, berada di urutan berikutnya untuk mengamankan tempat di turnamen akhir musim yang ke-17 kalinya dengan modal 5.060 poin setelah kalah dari Djokovic di final Wimbledon.

Petenis lainnya seperti Dominic Thiem, runner-up French Open (Roland Garros), dan Stefanos Tsitsipas yang berusaha untuk ikut pertama kalinya, berada dalam posisi yang kuat di dalam lima pesaing teratas dengan poin masing-masing 3.315 dan 2.995.

Tiga petenis lainnya yang akan bersaing untuk posisi delapan besar di Nitto ATP Finals ialah Kei Nishikori, yang naik satu peringkat ke posisi enam dengan 2.070 poin, Roberto Bautista Agut naik lima peringkat ke urutan tujuh dengan 1.980 poin, dan Daniil Medvedev di posisi kedelapan dengan 1.855 poin.

Baca juga: Gantikan London, Turin tuan rumah finals ATP tahun 2021-2025

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priska idolakan Halep tapi berfoto bersama Serena

Jakarta (ANTARA) – Petenis junior putri Indonesia Priska Madelyn Nugroho menceritakan pengalaman serunya ketika mengikuti turnamen Wimbledon 2019 yang salah satunya bertemu dengan finalis turnamen Grand Slam edisi 2019 itu, Serena Williams.

“Untuk foto kemarin kebetulan hanya bisa berfoto dengan Serena dan (Novak) Djokovic,” kata Priska kepada ANTARA usai latihan di Tennis Centre Court, Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin.

Serena dan Djokovic ternyata bukan petenis idola Priska karena petenis muda yang terhenti pada perempat final Wimbledon junior 2019 itu justru mengidolakan petenis putri Rumania Simona Halep dan petenis putra Swiss Roger Federer.

“Suka sama Halep karena dia kan postur tubuhnya tidak besar sama kayak saya. Maksudnya dia memberikan harapan untuk orang yang tidak berpostur tubuh besar untuk bisa bermain tenis. Attitude (sikap) dia di dalam dan luar lapangan juga bagus,” kata remaja yang sudah mulai bermain tenis sejak usia tujuh tahun itu.

Priska mengharapkan suatu hari nanti bisa bertemu dan bertanding dengan petenis idolanya ini.

“Ya kalau mereka masih main tenis dan aku juga masih main, pengen sih bisa bermain lawan mereka,” kata Priska.

Baca juga: Priska Nugroho dipastikan turun di SEA Games 2019

Salah satu wakil Indonesia pada Wimbledon 2019 itu mengaku senang  bertemu langsung dengan petenis-petenis top dunia dan berfoto bersama mereka.

Petenis berusia 16 tahun itu mengatakan kesempatan berfoto dengan pemain tenis top dunia sangat besar apalagi mereka latihan bersama mereka.

“Tapi kita harus jaga jarak dari mereka, memang sudah dikasih tahu untuk tidak mengganggu privasi mereka. Kalau mereka lagi free baru boleh,” tutur Priska.

Bermain pada turnamen selevel Wimbledon, Priska mengaku sangat bangga karena bisa bertemu dan bertanding dengan petenis top dunia dalam seluruh pertandingan yang dinilainya berat itu.

“Persaingannya berat semua dari first round. Aku main tiga set semua sampai akhirnya kalah di perempat final,” ujar dia.

Baca juga: Priska Nugroho siap berlaga di U.S Open 2019

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priska Nugroho dipastikan turun di SEA Games 2019

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Pelti Rildo Anwar mengatakan Petenis junior Indonesia Priska Madelyn Nugroho dipastikan akan turun pada kejuaraan SEA Games 2019 Desember mendatang.

“Priska sudah dipastikan masuk di SEA Games 2019 karena memang dia pemain junior yang punya talenta cukup baik,” kata Rildo saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin.

Rildo mengungkapkan, meskipun Priska masih junior tapi prestasinya saat ini cukup membanggakan apalagi dia berhasil bisa menjadi salah satu dari dua petenis Indonesia yang bertanding di Wimbledon 2019 serta masuk ke dalam babak perempat final, yang sudah cukup untuk bisa menjadi syarat turun berlaga di SEA Games.

Terlebih saat ini, petenis berumur 16 tahun itu berada di peringkat 28 ITF junior.

Terkait seleksi atlet tenis yang akan maju di SEA Games 2019, Rildo mengungkapkan akan dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap petenis-petenis Indonesia yang dinilai mempunyai prestasi yang baik.

Ia mencontohkan petenis Rifanty Kahfiani yang beberapa waktu lalu mengalahkan Jessy Rompies pada Pertamina 25K Women’s Circuit 2019 dinilai Rildo merupakan hal yang mengejutkan sehingga Rifanty dinilai layak untuk turun di SEA Games.

“Kemarin Rifanty ternyata mengalahkan Jessy. Rifanty kita tawarkan tapi kita sesuaikan dengan jadwal ujiannya. Hasil dari evaluasi dari pemain-pemain ini akan ditetapkan,”ucapnya.

Pada kejuaraan SEA Games nanti, Rildo mengatakan 10 petenis terbaik akan diturunkan, dengan rincian lima untuk kategori putra dan lima untuk putri baik dari petenis junior maupun senior.

Sementara itu, Priska, ketika ditanya terkait persiapannya di SEA Games, mengatakan dirinya akan berusaha maksimal meskipun saat ini ia sedang mempersiapkan turnamen internasional lain yaitu kejuaraan di China dan U.S Open September mendatang.

“Aku akan tetap ikut kejuaraan lain. Kalau untuk SEA Games aku belum tahu calon lawannya siapa tapi aku akan berusaha yang terbaik,” ucap Priska.

Baca juga: Priska Nugroho siap berlaga di U.S Open 2019

Baca juga: Priska Nugroho diramalkan jadi ‘the next’ Angelique Widjaja

ITF World Tennis Tour di Jakarta akan jadi pemanasan SEA GAMES 2019

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priska Nugroho siap berlaga di U.S Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Petenis junior Indonesia Priska Madelyn Nugroho akan kembali berlaga pada kejuaraan Grand Slam yakni U.S Open yang diselenggarakan September mendatang.

“Masih ada satu Grand Slam lagi yaitu U.S Open nanti bulan September,” kata Priska ketika ditemui usai latihan di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin.

U.S Open adalah Grand Slam terakhir dari empat rangkaian dalam satu musim. Turnamen pada lapangan keras ini diadakan pada bulan Agustus atau September setiap tahunnya.

Lebih lanjut Priska mengungkapkan kejuaraan U.S Open dengan tipe lapangan keras itu diharapkan dapat memberikan peluang lebih karena ia merasa cocok dengan jenis lapangan tersebut.

“Sebenarnya kali ini main di hard court dan itu sudah surface yang normal menurutku jadi persiapan yang terbaik aja,” tuturnya.

Sebelum melaju ke U.S Open, Priska mengatakan akan lebih dulu mengikuti kejuaraan tenis junior di Nanjing, China pada Agustus mendatang.

Setelah menjadi salah satu dari dua petenis asal Indonesia yang ikut dalam turnamen Wimbledon 2019, bahkan berhasil masuk ke babak perempat final, Priska mengakui banyak mendapatkan pelajaran saat bertanding.

“Lebih banyak belajar dari pertandingan kemarin. Ke depannya aku selalu coba untuk main lebih agresif,” ucap gadis 16 tahun itu.

Selain itu, dengan mengikuti semakin banyak pertandingan internasional, Priska berharap dapat terus mengasah kemampuannya agar lebih baik.

“Yang lebih penting bisa lebih solid dan agresif dalam important point. Itu yang harus ditingkatkan,” tuturnya.

Kejuaraan di China dan U.S Open ini akan menjadi pertandingannya yang kesebelas setelah sebelumnya ia mengikuti beberapa turnamen seperti French Open dan Australia Open 2019.

Baca juga: Priska Nugroho diramalkan jadi ‘the next’ Angelique Widjaja

Baca juga: Priska tersingkir di perempat final

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priska Nugroho diramalkan jadi ‘the next’ Angelique Widjaja

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Pelti, Rildo Anwar mengatakan Priska Madelyn Nugroho berpeluang menggantikan dan mengulang pencapaian salah satu petenis terbaik Indonesia, Angelique “Angie” Widjaja.

“Priska ini satu contoh yang kita tunggu-tunggu. Yang dulu sudah lama ada Angie, sekarang ada Priska dan mudah-mudahan Priska bisa lebih baik lagi di pertandingan selanjutnya,” kata Rildo saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin.

Hal tersebut disampaikan Rildo setelah prestasi Priska yang berhasil menorehkan catatan impresif dengan maju hingga babak perempat final Wimbledon Junior 2019.

Ia mengatakan Priska yang kini menjadi satu-satunya wakil Indonesia selain Christopher Rungkat pada Grand Slam yang berlangsung di Inggris tersebut telah menunjukkan prestasinya yang menurutnya membanggakan.

Baca juga: Priska nikmati pertandingan lapangan rumput Wimbledon

Dengan prestasi di Wimbledon kemarin, Priska yang bergabung dengan Grand Slam Development Fund Team (GSDF), sebuah tim asuhan Federasi Tenis Internasional (ITF) itu bahkan mendapat pujian dari presiden ITF.

“Kami juga dapat ucapan salut dari ITF atas prestasi Priska yang mereka lihat langsung di Wimbledon. Mereka anggap dia sebagai rising star,” tuturnya.

Dengan demikian, Priska yang saat ini berada di peringkat 28 junior ITF itu diharapkan bisa memperoleh prestasi seperti Angie yang sempat menjuarai Wimbledon Junior 2001 dan menempati peringkat 1 ITF.

Selain itu, dukungan dan pujian ITF tersebut juga diharapkan Rildo dapat memotivasi para petenis junior lainnya untuk menuai prestasi seperti Priska.

Baca juga: Priska cetak prestasi ke perempat final junior

Sebelumnya Priska juga sempat mengikuti kejuaraan Autralia Open 2019 dan French Open 2019 kategori junior meskipun harus terhenti di 16 dan 32 besar.

Namun menurut Priska, kejuaraan Junior Wimbledon 2019 merupakan prestasi terbaiknya karena berhasil masuk ke perempat final.

“Sejauh ini bisa masuk perempat final di Wimbledon memang pencapaian terbaikku dan targetku juga jadi aku bangga,” kata Priska.

Baca juga: Priska tersingkir di perempat final

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Strycova capai gelar peringkat pertama ganda putri

Jakarta (ANTARA) – Petenis Ceko Barbora Strycova, yang memenangkan gelar Grand Slam pertamanya di Wimbledon berpasangan dengan Hsieh Su-wei (Taiwan) untuk gelar ganda putri, akan menjadi petenis putri ke-43 yang akan mencapai gelar peringkat pertama dunia WTA untuk nomor ganda putri.

Pada hari Minggu WTA mengumumkan bahwa Strycova akan naik ke “WTA World No.1” di nomor ganda untuk pertama kalinya dalam karirnya saat format peringkat resmi dikeluarkan hari Senin 15 Juli.

“Merupakan kehormatan besar untuk menjadi pemain ganda nomor satu dunia. Saya sangat senang memenangkan Grand Slam pertama saya dan saya tidak mungkin berhasil di sini tanpa Hsieh yang luar biasa. Kami telah melakukan begitu banyak aksi dan saya bangga dengan semua pencapaian kami bersama,” tutur Strycova melansir wtatennis.com, Senin.

Dengan merebut gelar ganda Grand Slam perdananya di Wimbledon, bersama mantan pemain ganda nomor satu Hsieh, Strycova menjadi wanita ketujuh yang mewakili Republik Ceko yang mencapai peringkat tersebut.

Dia bergabung dengan rekan senegaranya Helena Sukova, Jana Novotna, Kveta Peschke, Lucie Safarova, Barbora Krejcikova dan Katerina Siniakova dalam posisi puncak itu.

Strycova merebut posisi tersebut dari Kristina Mladenovic, yang telah menahan gelar peringkat pertama dunia selama lima minggu terakhir.

Di usianya yang ke-33 tahun dan 109 hari, Strycova menjadi pemain tertua kedua yang debut sebagai “World No.1” di nomor ganda setelah Kveta Peschke pada 2011 yang kala itu berusia 35 tahun, 361 hari.

Selama 12 bulan terakhir Strycova telah mengangkat enam piala ganda WTA dari delapan final, termasuk gelar di Connecticut Open 2018 di New Haven dan China Open di Beijing, Dubai Open 2019, Mutua Madrid Open, Birmingham Open, dan Wimbledon.

“Meraih peringkat pertama di nomor ganda adalah cerminan dari kerja keras dan dedikasi yang telah dilakukan Barbora. Selamat kepada Barbora atas pencapaian yang sangat istimewa ini yang menyoroti kariernya yang luar biasa di tunggal maupun ganda,” ujar Ketua dan CEO WTA Steve Simon.

Baca juga: Strycova amankan semifinal Grand Slam pertamanya di Wimbledon

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

Penerjemah: Roy Rosa Bachtiar
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Reaksi tokoh ternama dalam pertandingan Djokovic-Federer di Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Pertandingan putaran final Wimbledon yang epik di hari Minggu antara Novak Djokovic dan Roger Federer menumbuhkan decak kagum bagi para penggemar setianya yang berlatar dari beragam kalangan, termasuk para pesohor jagat hiburan hingga keluarga kerajaan Inggris.

Pertandingan itu tidak hanya mengundang minat keluarga kerajaan hingga petenis legendaris Rod Laver untuk menyaksikannya secara langsung di arena, namun juga mengundang komentar di ranah media sosial.

Akun Twitter @KensingtonRoyal milik keluarga Pangeran William misalnya, menuliskan “Benar-benar final Wimbledon yang hebat dan memukau dari @DjokerNole dan @rogerfederer! Selamat atas gelar kelima bagi Novak di Wimbledon!”, Minggu waktu setempat.

Petenis legendaris asal Australia Rod Laver juga tak luput memberikan cuitan di Twitter, yang menulis “Sebuah final yang hebat, selamat @DjokerNole untuk gelar Wimbledon kelima. Kamu dan @rogerfederer mencapai tingkat tertinggi hari ini. Sebuah pertandingan menegangkan yang tak bisa dibandingkan di kejuaraan lapangan rumput. Terima kasih untuk pertarungan hebat, jujur, dan ganas. Roket!”

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Baca juga: Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah

Aktor Hollywood kenamaan Hugh Jackman yang dikenal menggemari tenis juga ikut berkomentar.

Aktor yang dikenal berkat aktingnya sebagai “Wolverine” di X-Men series ini berkomentar, “Sungguh pertandingan yang epik di tunggal putra Kejuaraan Wimbledon,”.

Peringkat satu dunia Djokovic tidak hanya berhasil meraih piala kelimanya di Wimbledon usai mengalahkan peringkat tiga Federer, namun juga mencetak sejarah dengan melakoni final Wimbledon terlama yang mencapai empat jam 57 menit.

Petenis Serbia itu mengukuhkan skor 7-6(7/5), 1-6, 7-6(7/4), 4-6, 13-12(7/3) atas Federer yang sudah memegang delapan kali gelar juara di kejuaraan ini.

Baca juga: Federer ratapi pupusnya peluang di depan mata

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic: Kemenangan di Wimbledon menyita kekuatan mental

Jakarta (ANTARA) – Novak Djokovic telah bertanding dalam beberapa pertandingan paling berkesan dan menantang dalam sejarah Era Terbuka, termasuk final Australia Open 2012 ketika ia mengalahkan Rafael Nadal dalam pertandingan final Grand Slam terpanjang dalam sejarah, yaitu lima jam 53 menit.

Namun, tidak ada pertandingan yang lebih banyak menyita kekuatan mental Djokovic daripada final Wimbledon melawan Roger Federer pada hari Minggu (14/7).

“Itu mungkin pertandingan yang paling berat dan paling menuntut secara mental yang pernah saya ikuti. Saya menjalani pertandingan paling berat secara fisik melawan Nadal di final Australia yang berlangsung hampir enam jam. Tetapi secara mental ini adalah tingkat yang berbeda,” kata Djokovic saat diwawancari atptour.com, Senin.

Petenis Serbia itu menyelamatkan dua poin pertandingan dan memenangkan kejuaraan Wimbledon kelimanya dengan skor 7-6(5), 1-6, 7-6(4), 4-6, 13-12(3) dalam empat jam 57 menit, final tunggal putra terpanjang dalam sejarah Wimbledon (sejak 1877), atau sembilan menit lebih lama dari final di tahun 2008 antara Nadal dan Roger Federer.

“Aku jelas sangat senang untuk berada di sini sebagai pemenang. Padahal butuh satu pukulan lagi sehingga saya bisa kalah. Tapi pertandingan ini punya segalanya, bisa saja ini jadi (kemenangan) miliknya,” pungkas Djokovic.

Djokovic, yang telah memenangkan empat dari lima kejuaraan besar terakhir, kini hanya selisih dua gelar Grand Slam dari Rafael Nadal (18) dan empat dari Federer (20).

Ia pun mengakui bahwa konstestasi mereka bertiga sebagai “Top Three” turut andil dalam dorongannya untuk terus berkembang.

“Kami membuat tumbuh dan berkembang satu sama lain. Kedua orang itu mungkin salah satu alasan terbesar saya masih bersaing di tingkat ini. Fakta bahwa mereka membuat sejarah di olahraga ini ikut memotivasi saya juga, menginspirasi saya untuk mencoba melakukan apa yang telah mereka lakukan, apa yang telah mereka capai, dan bahkan mencoba melampauinya,” katanya.

Baca juga: Reaksi tokoh ternama dalam pertandingan Djokovic-Federer di Wimbledon

Baca juga: Lima fakta final tunggal putra Wimbledon

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Halep siap gantikan Serena jadi ratu tenis dunia

London, Inggris (ANTARA) – Manakala Simona Halep merebut gelar juara Wimbledon sulit memungkiri perasaan mengenai hadirnya ratu baru dalam tenis putri dunia, tulis koran Inggris, Daily Mail, dalam lamannya.

Setelah menghentikan Serena untuk memenangkan gelar Grand Slam kedua dan gelar Wimbledon pertamanya, Halep terlihat siap mengenakan mantel dominasi tenis dunia.

Naomi Osaka dan Angelique Kerber memang punya momen sendiri-sendiri, tetapi tidak ada yang sekonsisten Halep.

Petenis Rumania berusia 27 tahun ini telah empat kali mencapai final Grand Slam dalam tiga tahun terakhir dan merebut gelar juara paling sedikit satu kali sejak 2013.

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

“Saya cuma bisa senang dan yakin bahwa saya akan bermain di mana-mana. Menjuarai Wimbledon bisa menjadi pemicu yang bagus untuk mentalitas saya dalam turnamen-turnamen mendatang tetapi besok adalah hari yang baru dan kami mulai bekerja lagi,” sambung Halep.

Menurut Daily Mail, Halep seperti wanita yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan tempatnya di tenis.

Ambisi Serena menjadi juara Grand Slam ke-24 kalinya sehingga tinggal satu gelar lagi untuk menyamai pencapaian Margaret Court, jalan terus.

Serena yang sudah berusia 37 tahun kini dituntut lebih sering lagi bermain pada berbagai turnamen dan sekaligus meningkatkan staminanya.

Baca juga: Djokovic tak menyangka bisa lima kali juara
 

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Federer ratapi pupusnya peluang di depan mata

London, Inggris (ANTARA) – Roger Federer mengaku tidak mempercayai dirinya bisa sampai membuang cuma-cuma dua match point yang bisa memastikan dia menjuarai Wimbledon kesembilan kalinya, setelah ditaklukkan Novak Djokovic dalam pertandingan final tunggal putra Wimbledon paling lama dalam sejarah turnamen ini.

Legenda Swiss berusia 37 tahun itu meratapi “peluang yang hilang” ketika dia dua kali nyaris menyelesaikan pertandingan dengan match point sewaktu mengambil serve pada gim ke-16 pada set penentuan sehingga kalah 7-6 (7/5), 1-6, 7-6 (7/4), 4-6, 13-12 (7/3).

Yang menakjubkan adalah ini kali kedua Federer melewati final paling panjang di Wimbledon yang sama-sama berakhir dengan kekalahan, saat menghadapi Rafael Nadal pada 2008.

Federer, yang kelihatan emosional saat berdiri bersama istri dan anak-anaknya di bangku pemain setelah kekalahan itu, mengungkapkan tak bisa memastikan apakah kalah dalam set seperti itu lebih menyakitkan ketimbang kalah straight set.

Baca juga: Lima petenis paling sering juara Grand Slam

“Sulit diungkapkan. Saya tak tahu jika perasaan karena kalah 2-2-2 lebih baik dibandingkan dengan kekalahan ini. Pada akhirnya itu sama sekali tidak jadi masalah,” kata Federer seperti dikutip AFP.

“Anda mungkin merasakan lebih kecewa, sedih, marah besar. Saya tak tahu apa yang saya rasakan sekarang,” sambung dia. “Saya cuma merasakan bahwa peluang luar biasa ini pupus, saya tak mempercayai hal ini.”

Federer yang kalah pada lima pertemuan terakhirnya dengan Djokovic dalam Grand Slams, terakhir kali mengalahkan petenis Serbia itu dalam Wimbledon 2012 menyatakan, pertandingan itu lepas dari genggamanya ketika dia gagal menuntaskan dua match point.

Baca juga: Fakta singkat pertarungan Djokovic vs Federer

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lima petenis paling sering juara Grand Slam

London, Inggris (ANTARA) – Juara bertahan Novak Djokovic merenggut gelar juara tunggal putra Wimbledon kelimanya setelah menaklukkan juara Wimbledon delapan kali Roger Federer dalam final paling lama dalam sejarah. Rekornya selisih empat gelar Grand Slam di bawah catatan Federer dengan 16 kali juara Grand Slam.

Kemenangan ini membuat Djokovic tinggal empat gelar lagi untuk menyamai pencapaian Federer menjadi juara Grand Slama sebanyak 18 kali. Djokovic menyudahi perlawanan Federer dengan 7-6 (7/5), 1-6, 7-6 (7/4), 4-6, 13-12 (7/3) dalam final paling lama dalam sejarah yang diakhiri dengan tie-break bersejarah.

Berikut daftar petenis putra yang paling sering menjuarai Grand Slam, seperti dicatat Reuters.

Baca juga: Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah

20 – Roger Federer (Swiss) – Australia Open (6), French Open (1), Wimbledon (8), US Open (5)

18 – Rafa Nadal (Spanyol) – Australia Open (1), French Open (12), Wimbledon (2), US Open (3)

16 – Novak Djokovic (Serbia) – Australia Open (7), French Open (1), Wimbledon (5), US Open (3)

14 – Pete Sampras (Amerika Serikat) – Australia Open (2), Wimbledon (7), US Open (5)

12 – Roy Emerson (Australia) – Australia Open (6), French Open (2), Wimbledon (2), US Open (2)

Baca juga: Djokovic tak menyangka bisa lima kali juara

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fakta singkat pertarungan Djokovic vs Federer

London, Inggris (ANTARA) – Juara bertahan Novak Djokovic merenggut gelar juara tunggal putra Wimbledon kelimanya Minggu waktu setempat setelah menaklukkan juara Wimbledon delapan kali Roger Federer 7-6 (7/5), 1-6, 7-6 (7/4), 4-6, 13-12 (7/3) dalam final paling lama dalam sejarah yang diakhiri dengan tie-break bersejarah.

Berikut statistik kunci pertemuan di antara dua dari tiga petenis utama dunia (Big Three) yang tuntas Senin dini hari WIB ini, seperti dicatat Reuters. Djokovic adalah unggulan utama Wimbledon kali ini, sedangkan Federer unggulan kedua.

1-Djokovic 2-Federer
Ace 10 25
Kesalahan ganda 9 6
Break point dimenangkan 3/8 7/13
Net point dimenangkan 24/38 51/65
Winner 54 94
Unforced error 52 61
Total poin dimenangkan 203 218
Lama bermain: Empat jam, 55 menit

Baca juga: Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah
 

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic tak menyangka bisa lima kali juara

London, Inggris (ANTARA) – Novak Djokovic mengaku tak terbayangkan bisa memegang trofi Wimbledon untuk kelima kalinya setelah menyelamatkan dua match point melawan juara Wimbledon delapan kali Roger Federer dalam final yang berakhir sampai Senin dini hari tadi.

Petenis Serbia berusia 32 tahun yang dua kali berturut-turut menjuarai Wimbledon itu berhasil melewati duel epik, final paling lama dan final pertama yang ditentukan oleh set tie-break.

Djokovic yang kalah catatan rekor dari lawannya yang berusia 37 tahun itu akhirnya menang 7-6 (7/5), 1-6, 7-6 (7/4), 4-6, 13-12 (7/3) dalam tempo 4 jam 57 menit.

“Sangat sulit dipercaya bisa bangkit setelah menghadapi dua match poin dan aneh sampai harus memainkan tie-break hingga 12-12,” kata dia seperti dikutip AFP.

Djokovic memuji petenis Swiss yang menjadi lawannya itu.

“Saya kira jika pertandingan ini bukan final yang paling menarik maka pertandingan ini sudah pasti merupakan dua atau tiga teratas dalam karir saya melawan salah satu pemain terbesar sepanjang masa, Roger, yang saya hormati,” kata Djokovic.

“Sayang pada pertandingan seperti ini harus ada orang yang kalah.”

Baca juga: Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah

Djokovic –yang menyamai rekor legenda Swedia Bjorn Borg mengangkat trofi Wimbledon lima kali– mengaku menjadi juara selalu menjadi impiannya sejak kecil.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih secara khusus kepada orang tua saya atas segalanya.”

Federer yang kecewa karena gagal menjadi juara Grand Slam tertua dan juara Wimbledon kesembilannya, melucu tentang dia menjadi bagian dari final yang epik ini.

Dia juga pernah melewati pertandingan final terlama saat menyerah kepada Rafael Nadal pada 2008.

“Saya akan berusaha melupakannya tetapi ini pertandingan terbesar,” kata dia seperti dikutip AFP. “Saya senang pada penampilan saya, selamat Novak, yang tadi itu memang gila.”

Federer berharap menjadi contoh untuk orang-orang seusianya. “Saya berharap saya memberi orang-orang berusia 37 tahun perasaan bahwa ini belum berakhir, saya merasa baik-baik saja,” kata dia.

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djokovic pertahankan gelar via final terlama dalam sejarah

London, Inggris (ANTARA) – Petenis Serbia Novac Djokovic mempertahankan gelar juara tunggal putra turnamen Wimbledon setelah menaklukkan pemegang delapan delapan gelar turnamen tersebut Roger Federer 7-6 (7/5), 1-6, 7-6 (7/4), 4-6, 13-12 (7/3) dalam final paling lama dalam sejarah yang diakhiri dengan tie-break bersejarah di London, Minggu waktu setempat.

Petenis berusia 32 tahun itu menyelamatkan dua match point ketika menyambar gelar Wimbeldon kelima sekaligus Grand Slam ke-16-nya ini yang berselisih empat gelar di bawah rekor total Federer.

Kemenangan Djokovic memperpanjang catatan kemenangannya dalam pertandingan antar-Tiga Besar (Djokovic, Federer dan Rafael Nadal) menjadi 11 kemenangan Grand Slams berturut-turut.

Dengan waktu bertanding 4 jam 57 menit, maka final kali ini adalah final Wimbledon paling lama dalam sejarah.

Stan Wawrinka adalah petenis terakhir di luar trio besar yang memenangkan Grand Slam, ketika menjuarai US Open 2016 setelah mengalahkan Djokovic.

Petenis terakhir yang menjuarai Grand Slam di bawah usia 30 tahun adalah Andy Murray yang menjuarai Wimbledon pada 2016 dalam usia 29 tahun, demikian AFP.

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Baca juga: Taiwan juarai nomor ganda campuran

Baca juga: Mochizuki cetak sejarah Grand Slam bagi Jepang di Wimbledon

Baca juga: Cabal dan Farah juara ganda putra setelah bertanding lima jam

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Taiwan juarai nomor ganda campuran

Jakarta (ANTARA) – Petenis Taiwan Latisha Chan dan Ivan Dodig dari Kroasia meraih gelar Grand Slam berturut-turut, setelah menyabet gelar ganda campuran Wimbledon setelah menaklukkan petenis Swedia Robert Lindstedt dan Jelena Ostapenko dari Latvia dengan 6-2, 6-3, Minggu.

Chan dan Dodig telah menjadi ganda campuran yang kuat pada tahun terakhir setelah menjuarai French Open dan Wimbledon.

Unggulan delapan itu selalu dalam kendali, melaju untuk memimpin 5-0 pada set pertama.

Baca juga: Pangeran Williams dan Kate Middleton saksikan final Wimbledon

Meskipun Chan — yang memenangi gelar ganda US Open 2017 bersama Martina Hingis — dipatahkan servisnya, balas mematahkan untuk merebut set ini.

Hanya satu break pada gim kedelapan set kedua yang mereka butuhkan sebelum merayakan kemenangan dengan memanjat box para pendukung mereka untuk memberi pelukan sebelum ditampilkan bersama trofinya.

Bagi keduanya, Chan yang berusia 29 tahun dan Dodig (34), ini merupakan gelar Wimbledon pertama mereka dari nomor manapun — petenis Kroasia, Dodig kalah pada final ganda putra pada 2015, demikian AFP.

Baca juga: Mochizuki cetak sejarah Grand Slam bagi Jepang di Wimbledon

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mochizuki cetak sejarah Grand Slam bagi Jepang di Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Shintaro Mochizuki membuat sejarah, Minggu, menjadi petenis Jepang pertama yang memenangi gelar tunggal putra junior Grand Slam, dengan mengalahkan Carlos Gimeno Valero dari Spanyol 6-3, 6-2 pada final Wimbledon.

Petenis berusia 16 tahun, yang baru memainkan turnamen lapangan rumput ketiganya itu, mengikuti juara tunggal putri junior 1969 Kazuko Sawamatsu dalam menjuarai Grand Slam lapangan rumput tersebut.

Mochizuki mengatakan, ia telah belajar banyak dari rekan senegaranya, finalis US Open 2014 Kei Nishikori.

“Dia sangat baik,” kata Mochizuki dikutip AFP, Minggu. “Ia memberi saya banyak saran.

“Seperti kadang-kadang saya berlatih bersama dia. Saya belajar banyak dari dia. Yeah, ia cerdas.”

Nishikori, sembilan kali perempat finalis Grand Slam, segera mengunggah pada Twitter memberi selamat rekan senegaranya.

“Selamat kepada @ShintaroMOCHIZU! Turnamen yang luar biasa,” cuit bintang asal Jepang itu, menambahkan ikon jempol, ikon lengan ditekuk serta beberapa bendera.

Namun, bukan petenis berusia 29 tahun Nishikori yang menjadi idolanya.

“Roger Federer, saya suka menyaksikannya di TV, yeah,” katanya.

“Saya tidak ingin mengkopi dia, tapi saya suka menyaksikan dia.”

Mochizuki mengatakan ia sangat sadar terhadap kekalahannya di French Open ketika ia memimpin 5-2 pada semifinal hanya untuk kalah.

Ia mengatakan, momen pentingnya adalah ketika ia unggul satu set namun dipatahkan servisnya pada awal set kedua dan berhasil bertahan.

“Pada set pertama, saya dipatahkan dua kali,” katanya.

“Saya sering ingin mempertahankan service game saya. Itu bagus. Saya bermain sangat sulit.

“Ia memperoleh beberapa break point, tapi saya hanya mengusahakan yang terbaik untuk mempertahankan service game saya.

“Ya, ini pertandingan yang sangat penting bagi saya.”

Mochizuki mengakui belum terbiasa bermain di depan begitu banyak orang di Lapangan Satu telah membuatnya enggan tampil di hadapan mereka.

“Saya malu, sehingga ini seperti, mengapa saya harus melakukannya?,” katanya.

“Tetapi itu menyenangkan. Begitu banyak orang di sana. Saya agak gugup.”

Akan tetapi, begitu berada di lapangan ia malah menikmati bermain-main dengan penontonnya, dengan satu smes lompat menjadi hiburan spesial bagi penonton.

“Ini kesempatan besar untuk melakukannya, maka saya hanya melakukannya untuk hiburan,” katanya.

“Ini bola yang mudah. Saya hanya ingin membuat orang senang menyaksikan saya.”

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena
Baca juga: Priska cetak prestasi ke perempat final junior

 

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pangeran Williams dan Kate Middleton saksikan final Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Pangeran Inggris Williams dan istrinya Kate Middleton tiba di Wimbledon, Minggu (14/7) untuk menyaksikan final tunggal putra yang akan mempertemukan juara bertahan Novak Djokovic dengan Roger Federer.

Dikutip dari Reuters, Minggu, Duke of Cambridge William dan Duchess of Cambridge Kate, bertemu dengan ball boys dan ball girls, sebelum menempati bangku mereka di royal box untuk pertandingan yang dimulai pukul 1300 GMT (sekitar 20.00 WIB).

Kate adalah pelindung All England Lawn Tennis and Croquet Club (AELTC).

Pada Sabtu (13/7), ia dan adik iparnya, Meghan, Duchess of Sussex, menyaksikan Serena Williams menghadapi petenis Rumania Simona Halep pada final tunggal putri.

Halep, unggulan ketujuh, mengalahkan Williams dalam pertandingan yang berlansung 56 menit dengan skor 6-2, 6-2 .

Baca juga: Cabal dan Farah juara ganda putra setelah bertanding lima jam

Baca juga: Lima fakta final tunggal putra Wimbledon

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cabal dan Farah juara ganda putra setelah bertanding lima jam

Jakarta (ANTARA) – Pasangan petenis Kolombia, Juan-Sebastian Cabal dan Robert Farah, memenangi gelar ganda putra Grand Slam pertama mereka pada Sabtu waktu setempat, setelah bertanding selama hampir lima jam pada final Wimbledon.

Unggulan kedua tersebut menjadi pasangan pertama dari negara mereka yang meraih gelar utama berkat kemenangan 6-7 (5/7), 7-6 (7/5), 7-6 (8/6), 6-7 (5/7), 6-3 atas pasangan unggulan ke-11 asal Prancis, Nicolas Mahut dan Edouard Roger-Vasselin, demikian dikutip dari AFP, Minggu.

Cabal dan Farah juga akan menjadi pasangan peringkat satu untuk pertama kalinya setelah kemenangan yang berlangsung selama empat jam 56 menit itu.

Baca juga: Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Baca juga: Lima fakta final tunggal putra Wimbledon
 

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lima fakta final tunggal putra Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Berikut ini adalah lima fakta final tunggal putra Wimbledon antara Novak Djokovic dan Roger Federer yang berlangsung Minggu waktu setempat, menurut catatan AFP:

Dominasi ‘Tiga Besar’
Dengan majunya Djokovic dan Federer ke final, pemenang pada pertandingan Minggu ini akan memperpanjang rangkaian gelar Grand Slam yang dimenangi oleh ‘Tiga Besar’ yakni kedua finalis dan Rafael Nadal menjadi 11 gelar utama berturut-turut.

Sejak Federer memenangi gelar Grand Slam pertamanya di Wimbledon pada 2003, hanya lima final Grand Slam yang dipertandingkan oleh dua pemain di luar ‘Tiga Besar’ tersebut.

Federer, tua perkasa
Pada usia 37 tahun 340 hari, Federer sedang berusaha menjadi pemain tertua pada era Open yang memenangi gelar tunggal putra Grand Slam.

Ken Rosewall adalah satu-satunya pemain berusia 37 tahun yang memenangi gelar tunggal turnamen utama pada waktu itu – ia menjuarai Australia Open 1972 pada usia 37 tahun 62 hari.

30 tahun ke atas masih spesial
Juara pada Wimbledon kali ini akan memperpanjang deretan gelar Grand Slam yang dimenangi oleh pemain berusia 30 tahun atau lebih tua. Sebanyak 12 gelar Grand Slam terakhir – termasuk pada Wimbledon tahun ini – telah terbagi di antara pemain berusia 30 tahun atau lebih.

Djokovic buru gelar Wimbledon kelima
Juara bertahan Djokovic sedang berusaha memenangi gelar Wimbledon kelimanya dan menyamai Bjorn Borg dan Laurie Doherty di urutan keempat dalam daftar juara sepanjang masa. Ia juga mengejar gelar utama ke-16 sepanjang karirnya.

Federer akan samai Navratilova?
Federer sedang berusaha menjadi petenis kedua dalam sejarah yang memenangi sembilan gelar tunggal Wimbledon setelah Martina Navratilova yang memenangi sembilan tunggal putri. Federer juga mengejar gelar Grand Slam ke-21.

Baca juga: Taklukkan Nadal, Federer hadapi Djokovic di final Wimbledon

Baca juga: Final Wimbledon, Djokovic menanti calon lawan

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Halep juarai Wimbledon usai tundukkan Serena

Jakarta (ANTARA) – Mantan petenis nomor satu dunia Simona Halep meraih gelar juara Grand Slam keduanya di kejuaraan Wimbledon usai menundukkan Serena Williams, pemegang 23 gelar juara.

Petenis Rumania itu mengalahkan Serena dengan dua set langsung 6-2, 6-2, menurut laporan wtatennis.com, Sabtu.

Juara French Open (Roland Garros) 2018 itu bermain di putaran final pertamanya di SW19, sebutan lokasi Wimbledon. Sementara Serena mengincar gelar Grand Slam ke-24 dan gelar kedelapan di kejuaraan ini.

Namun harapan Serena pupus setelah Halep unggulan tujuh mengamankan kemenangan hanya dalam waktu 55 menit di lapangan utama.

Halep hanya mengalahkan Serena satu kali dalam 10 pertemuan sebelumnya.

Di putaran final, Halep memberikan permainan terbaiknya sejak set pertama, langsung memimpin 4-0 melalui teknik pertahanan yang apik.

Serena pun segera mendapatkan celah untuk bangkit saat dia melakukan servis pertama yang kuat, tetapi itu tidak mempengaruhi Halep untuk menyudahi set pembuka dengan keunggulan.

Serena memulai set kedua dengan niat mengejar ketinggalan di set pertama, namun Halep yang bermain di final Grand Slam pertamanya sejak merebut mahkota Roland Garros tahun lalu tetap fokus dan banyak bermain di lini depan.

Dia memenangkan empat gim terakhir pertandingan untuk menyudahi dengan kemenangan atas Serena.

Baca juga: Nadal akui tampil tak maksimal saat hadapi Federer

Baca juga: Kembali ke nomor ganda, jadi jalan pulang Christo ke Grand Slam

Baca juga: Christo petik jerih payah 12 tahun wujudkan mimpi tampil di Grand Slam

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Impian Christopher tembus peringkat 50 dunia

ANTARA – Atlet tenis andalan Indonesia Christopher Rungkat memantapkan dirinya untuk fokus di nomor ganda. Ia baru saja berhasil menembus babak utama turnamen Grand Slam Wimbledon 2019 dan menembus peringkat 69 dunia nomor ganda. Selanjutnya, ia membidik peringkat 50-an dunia. (Deas/Subur/Monalisa/Gatot Arioso)

Ingin regenerasi, Christopher Rungkat dirikan CBR Foundation

ANTARA – Sebagai petenis andalan Indonesia, Christopher Rungkat ingin memberikan kontribusinya untuk kemajuan tenis Indonesia dengan mendirikan CBR Foundation. Menurut Christo, CBR Foundation ini memiliki visi untuk melahirkan bibit-bibit baru petenis muda Indonesia. Selengkapnya simak video berikut. (Deas/Subur/Monalisa/Gatot Arioso)

Nadal akui tampil tak maksimal saat hadapi Federer

Jakarta (ANTARA) – Rafael Nadal mengaku tidak mengeluarkan aksinya secara maksimal saat menghadapi Roger Federer dalam pertandingan perebutan posisi final Wimbledon 2019.

Baca juga: Taklukkan Nadal, Federer hadapi Djokovic di final Wimbledon

Meski mencetak 10 ace, 32 winners dengan hanya 25 kesalahan namun statistik yang mengesankan tak cukup membuat petenis Spanyol itu melampaui peringkat tiga dunia Federer.

“Sayangnya saya tidak merasa hebat seperti hari-hari sebelumnya. Ketika mulai memukul bola, saya merasa tidak bisa menguasai lapangan,” tutur peringkat dua dunia ini melalui atptour.com, Sabtu.

Meski Nadal memimpin catatan pertemuan mereka dengan 24-16, namun ia harus berbesar hati menyerahkan kursi ke final kepada Federer, yang tampil menghasilkan 51 winners hanya dengan 27 kesalahan sendiri.

Terlebih Federer tercatat telah memenangkan tiga dari empat pertandingan mereka di lapangan rumput, membuktikan kekuatan juara delapan kali Wimbledon itu tidak bisa diremehkan.

“Dia selalu mampu melakukan hal-hal yang paling sulit dengan mudah. Dia bisa bergerak di dalam lapangan lebih cepat dari siapa pun. Dia memberi tekanan pada lawan sepanjang waktu karena dia memiliki kemampuan untuk mengambil bola lebih awal dari orang lain. Itu mungkin hal yang paling sulit untuk diwujudkan dan dia mampu melakukannya dengan sangat baik,” katanya terkait performa Federer di lapangan rumput.

Meski kalah, Nadal memiliki persiapan untuk menghadapi musim lapangan keras Amerika Serikat, selain itu ia juga menjadi pemain pertama yang lolos ke Final Nitto ATP tahun ini, yang diadakan di London pada 10-17 November.

Meskipun Nadal kecewa karena gagal untuk memenangkan gelar Wimbledon ketiganya, petenis berusia 33 tahun ini akan meninggalkan “The Championships” dengan pengalaman positif selama dua minggu di London.

“Ini bukan hari untuk mencari alasan. Saya sudah bermain dengan energi yang tepat dan dengan intensitas yang tepat sepanjang turnamen. Dia memainkan pertandingan yang hebat dan berhasil dengan baik, selamat untuknya,” pungkas Nadal.

Baca juga: Final Wimbledon, Djokovic menanti calon lawan
Baca juga: Priska tersingkir di perempat final

Christopher Rungkat keluhkan fasilitas tenis di Indonesia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Taklukkan Nadal, Federer hadapi Djokovic di final Wimbledon

Jakarta (ANTARA) – Roger Federer kembali hadir ke final Wimbledon untuk ke-12 kalinya, di mana ia akan berusaha meraih gelar juara kesembilan seusai mengalahkan saingan lamanya, Rafael Nadal, di semifinal.

Petenis kawakan asal Swiss itu bermain dengan agresif dan performa terbaiknya, mengalahkan Nadal 7-6(3), 1-6, 6-3, 6-4 yang berlangsung selama tiga jam 20 menit, menurut laporan atptour.com, Jumat.

“Sangat hebat rasanya bisa bermain melawan Rafa di sini, terutama karena kami belum pernah bermain di Wimbledon di waktu yang lama. Kami berdua bermain sangat baik. Klimaksnya di akhir, dengan pertandingan yang hebat. Saya lega semuanya sudah berakhir saat ini,” ujar petenis peringkat tiga dunia itu.

Pertemuan keduanya di semifinal menjadi pertandingan pertama di lapangan rumput sejak final Wimbledon 2008 yang legendaris, yang dimenangkan Nadal 9-7 pada set kelima.

Namun hasil di pertandingan terakhir ini menunjukkan Federer unggul dalam pertemuan FedEx ATP Head2Head ke-40 kalinya melawan Nadal.

“Pasti ini akan menjadi salah satu pertandingan favorit yang akan saya kenang karena bertemu Rafa di Wimbledon, banyak yang menonton, serta cuaca yang bagus. Saya merasa seperti saya bermain bagus juga sepanjang empat set. Saya sangat bahagia,” pungkas Federer.

Petenis berusia 37 tahun itu menjadi pria tertua ketiga di Era Terbuka (sejak 1968) yang mencapai final di kejuaraan Grand Slam.

Selanjutnya ia akan menantang petenis nomor satu dunia Novak Djokovic, juara bertahan dan pemenang empat kali, pada hari Minggu dalam sebuah pertandingan besar di All England Club.

Baca juga: Final Wimbledon, Djokovic menanti calon lawan

Djokovic, maju ke final usai mengalahkan unggulan nomor 23 Roberto Bautista Agut dari Spanyol di putaran semifinal, dan memiliki catatan keunggulan 25-22 dalam pertemuan mereka termasuk kemenangan di final Wimbledon 2014 dan 2015.

Federer, yang mencatat kemenangan ke-100 pertandingan Wimbledon atas Kei Nishikori di perempat final, sedang berusaha merebut mahkota kejuaraan utama ke-21 melalui final ke-31 dalam karirnya.
Ia memenangkan gelar di Wimbledon pada 2003-2007, 2009, 2012 dan 2017.

Nadal yang berusia 33 tahun, sebelumnya menjuarai French Open (Roland Garros) ke-12 bulan lalu, termasuk gelar kesembilan di Italia Open (Internazionali BNL d’Italia).

Dia telah berusaha untuk memenangkan gelar ganda di Roland Garros dan Wimbledon ketiganya dalam dua minggu ini (sebelumnya di tahun 2008, 2010).

Nadal juga menjadi petenis pertama yang lolos ke Final Nitto ATP 2019, yang akan berlangsung di London pada 10-17 November.

“Tadi adalah pertandingan yang sulit. Saya punya peluang, tetapi dia bermain sedikit lebih baik dari saya. Mungkin saya tidak bermain sebaik di babak sebelumnya, dan dia bermain dengan baik. Jadi dia pantas mendapatkannya. Selamat untuknya,” kata Nadal.

Baca juga: Tiga pertemuan fenomenal Federer lawan Nadal

Baca juga: Federer tatap kemenangan ke-100 di arena Wimbledon

Christopher Rungkat keluhkan fasilitas tenis di Indonesia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Final Wimbledon, Djokovic menanti calon lawan

Jakarta (ANTARA) – Petenis Serbia Novak Djokovic masih menunggu calon lawan di putaran final tunggal putra Wimbledon 2019, setelah mengalahkan Roberto Bautista Agut di semifinal dengan skor 6-2, 4-6, 6-3, 6-2.

Melalui pertandingan berdurasi dua jam dan 48 menit itu, petenis peringkat satu dunia ini memastikan tampil di final Wimbledon untuk yang keenam kalinya, demikian dilansir dari atptour.com, Jumat.

Djokovic, yang telah kalah dari Bautista dalam tiga dari lima pertemuan sebelumnya, melalui set pertama dengan dua kali mematahan servis, mendapat 12 winners untuk mengawali pertandingan dengan keunggulan.

Tetapi Bautista, peringkat 23 dunia, sempat membalas di set kedua sebelum akhirnya Djokovic kembali membalikkan keadaan dan menguasai sisa pertandingan hingga set keempat usai.

Pemain berusia 32 tahun itu kini akan bersiap menghadapi unggulan kedua dan delapan kali juara Wimbledon Roger Federer dari Swiss, atau petenis Spanyol Rafael Nadal, unggulan ketiga dan dua kali juara Wimbledon.

Djokovic memimpin catatan pertemuan dengan kedua calon lawannya tersebut, dengan Federer 25-22 dan Nadal 28-26.

Baca juga: Djokovic pastikan posisi di semifinal ke-9 di Wimbledon

Baca juga: Federer, Nadal, Djokovic dominasi “Manic Monday”

Christopher Rungkat keluhkan fasilitas tenis di Indonesia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christopher Rungkat keluhkan fasilitas tenis di Indonesia

ANTARA – Petenis andalan Indonesia Christopher Rungkat mengeluhkan beralih fungsinya lapangan tenis outdoor di komplek Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, yang dibongkar dan dialihfungsikan menjadi lapangan bisbol. Menurut Christo, fasilitas yang memadai adalah salah satu syarat penting dalam upaya regenerasi cabang olahraga tersebut. Rasa sedih dan kecewa ia ungkapkan saat menyambangi redaksi Kantor Berita Antara, Jumat (12/7). (Deas/Subur/Monalisa/Gatot Arioso)

Cara petenis Christo atasi kejenuhannya sebagai atlet

Jakarta (ANTARA) – Di balik keberhasilannya sebagai petenis profesional Indonesia, Christopher Rungkat mengakui sering merasa bosan menjalani rutinitasnya sebagai atlet.

Pria yang akrab disapa Christo itu mengatakan, ia biasa berlatih hampir setiap hari, baik itu latihan tenis, fisik, dan pemulihan.

“Kalau ada pertandingan paling dua jam per hari karena kita harus fresh untuk match selanjutnya. Latihan fisik dan recovery, ya begitu sih mungkin monoton tapi namanya juga hidup,” katanya.

Apalagi dalam setahun, menurut pria berusia 29 tahun itu, ia bisa melakukan perjalanan 30 hingga 35 minggu untuk pertandingan sehingga membuat hidupnya terasa semakin monoton.

Baca juga: Christo, Jakarta dan hilangnya kompleks tenis bersejarah

Namun Christo mempunyai cara untuk mengatasi kejenuhannya karena menurutnya rasa bosan harus dikalahkan supaya ia bisa tetap ‘hidup’.

Pertama, ia senang pergi ke kedai kopi untuk menikmati kopi pahit kesukaannya. Menurut dia, dengan minum kopi pahit dapat menjadi pengingat tentang hidup yang berat tapi harus tetap dijalani dengan semangat.

Selain itu, ia juga suka menonton film streaming di Netflix untuk mengatasi rasa sepi karena ia jarang menghabiskan waktu keluar bersama teman-temannya.

Hangout paling sama teman di pertandingan karena kalau sama teman di Indonesia kan saya gak lama-lama di Indonesianya,” kata dia.

Aktivitas lain yang akhir-akhir ini mengisi waktu luang atlet keturunan Belanda-Indonesia itu adalah fotografi, memotret pemandangan alam.

“Mulai belakangan ini punya hobi fotografi dan itu cukup mengisi waktu saya kalau bosan,” tambahnya.

Baca juga: Christo sedih dan kecewa, “rumah” tempat tumbuhnya dibongkar

Kisah Christopher Rungkat tembus babak utama Wimbledon

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia perlu belajar soal dukungan petenis ke Taiwan, kata Christo

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia dinilai perlu belajar kepada Taiwan mengenai pola dukungan terhadap kiprah atlet tenisnya, demikian diungkapkan salah satu petenis nasional Christopher Rungkat.

Hal itu, berkaca pada pengetahuan pendek Christo atas perlakuan yang diterima pasangan ganda putranya asal Taiwan, Hsieh Cheng-peng, yang mendapatkan dukungan cukup fleksibel dari pemerintah negaranya.

“Kalau berkaca dari Hsieh, pasangan ganda saya, tentu saya tidak tahu persis nominal dukungan yang diperoleh, namun sisi positifnya adalah pola dukungan mereka lebih fleksibel,” kata Christo saat menyambangi redaksi Antara di Jakarta, Jumat.

“Karena dia juga bela negaranya di Asian Games, sehingga dukungannya jelas tapi lebih fleksibel di luar Asian Games,” ujarnya menambahkan.

Christo mengaku bahwa di luar ajang multicabang seperti Asian Games atau SEA Games, ia harus menempuh langkah berbelit-belit jika ingin mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Antara lain pengajuan harus dilakukan jauh-jauh hari bahkan hitungan tiga bulan atau lebih.

“Padahal tenis itu sangat dinamis. Seumpamanya, saya kan juga tidak tahu pasti bakal main di French Open kemarin sebulan sebelum turnamen dimulai,” katanya.

“Jadi card baru muncul 10 hari sebelumnya, dan kalau saya harus menunggu dukungan pemerintah, mungkin saya harus ajukan tiga bulan sebelumnya, itu sulit buat saya untuk mengikuti birokrasi semacam itu,” ujar Christo melengkapi.

Christo berpikir mungkin ada solusi yang bisa ditempuh, yakni penunjukkan atau pewajiban BUMN untuk bukan saja menjadi ayah asuh cabang olahraga tertentu tapi langsung spesifik atletnya.

“Misal BUMN mendukung untuk satu tahun penuh, dengan penjadwalan dan target tertentu, didukung 100 persen. Termasuk pelatih, timnya, pelatih fisik, fisioterapis dan sebagainya,” ujarnya.

“Dengan cara itu lebih efisien dan enak, daripada harus menunggu lewat Menteri Pemuda dan Olahraga, penganggaran dan menanti-nanti pencairan, itu ribet dan perlu waktu yang lama,” kata Christo.

Oleh karena itu, selama ini Christo jauh lebih terbiasa berjalan hampir sendirian dengan mencari sponsor jika memungkinkan ketimbang menanti dukungan pemerintah dalam perjuangannya menembus panggung tenis dunia.

Christo dan Hsieh sebagai pasangan ganda putra baru saja tampil di putaran kedua French Open 2019 pada Juni dan putaran pertama Wimbledon 2019 sebulan berselang. Christo juga merumput di Wimbledon 2019 dalam nomor ganda campuran berpasangan dengan petenis Jepang Shuko Aoyama hingga putaran kedua.

Baca juga: Christo, Jakarta dan hilangnya kompleks tenis bersejarah

Baca juga: Christo sedih dan kecewa, “rumah” tempat tumbuhnya dibongkar

Baca juga: Kembali ke nomor ganda, jadi jalan pulang Christo ke Grand Slam

Kisah Christopher Rungkat tembus babak utama Wimbledon

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah Christopher Rungkat tembus babak utama Wimbledon

ANTARA – Christopher Rungkat merupakan atlet tenis andalan Indonesia yang saat ini menembus peringkat 69 dunia nomor ganda. Christo berhasil melaju ke putaran kedua ganda campuran bersama Shuko Aoyama dan putaran pertama ganda putra dengan Hsieh Cheng-Peng di Grand Slam Wimbledon 2019. Christo menceritakan jerih payahnya selama 12 tahun untuk mewujudkan mimpinya tampil di turnamen Grand Slam level pro dalam kunjungannya ke Redaksi Kantor Berita Antara, Jumat (12/7). Ia juga mengungkapkan pilihannya untuk hijrah dari pemain tunggal menjadi pemain nomor ganda, berikut kisahnya. (Deas/Subur/Monalisa/Gatot Arioso)
 

Christo, Jakarta dan hilangnya kompleks tenis bersejarah

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Christopher Rungkat sangat menyayangkan alihfungsi yang dialami sejumlah lapangan tenis outdoor Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mengingat kompleks tersebut menjadi saksi momen-momen bersejarah bagi Indonesia di olahraga pukul bola itu.

Terlebih lagi, hal itu membuat Jakarta, ibu kota terbesar di Asia Tenggara tersebut kini terlampaui oleh sejawat jirannya seperti Bangkok, Thailand ataupun Kuala Lumpur, Malaysia, kata petenis yang akrab disebut Christo itu.

“Jakarta juga kan salah satu ibu kota terbesar ya, sangat disayangkan saja kita nggak punya kompleks lapangan tenis yang bagus,” kata Christo saat menyambangi redaksi Antara di Jakarta, Jumat.

“Kalau kita lihat di Asia Tenggara, Bangkok dan Kuala Lumpur itu punya, sedangkan kita tidak,” ujarnya menambahkan.

Di sisi lain lapangan permukaan tanah liat juga jadi salah satu yang tergusur demi membangun lapangan bisbol, dan itu membuat Christo yang tampil di French Open 2019 pada Juni tak berkesempatan lagi berlatih di lapangan yang membesarkan namanya.

Lebih jauh lagi, pengurangan drastis jumlah lapangan outdoor GBK membuat di sana kini hanya tersisa empat lapangan yang tak cukup untuk memenuhi standard penyelenggaraan turnamen internasional.

“Kalah yang saya lihat sekarang 3-4 lapangan, masih kurang dari aturan itu. Sangat disayangkan,” ujarnya.

Padahal, bukan saja melahirkan petenis-petenis berbakat seperti Christo, komplek lapangan tenis GBK juga menjadi saksi bisu atas keberhasilan meraih satu medali perak dan tiga perunggu, raihan perdana medali pertama bagi Indonesia di cabor tersebut, dalam Asian Games 1962.

Kompleks lapangan tenis GBK juga menjadi panggung yang mengantarkan Tim Piala Davis Indonesia lolos ke Grup Dunia edisi 1989, berkat kemenangan 3-2 atas Korea kala nama-nama legendaris masih berlaga seperti Suharyadi, Tintus Arianto-Wibowo dan Donald Wailan-Walalangi.

“Padahal tenis itu salah satu cabor pemburu medali di multi-event ya, baik itu SEA Games maupun Asian Games. Sayang saja,” pungkas Christo.

Baca juga: Christo sedih dan kecewa, “rumah” tempat tumbuhnya dibongkar

Baca juga: Kembali ke nomor ganda, jadi jalan pulang Christo ke Grand Slam

Baca juga: Trik Christopher Rungkat hadapi komentar warganet selepas tanding

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christo sedih dan kecewa, “rumah” tempat tumbuhnya dibongkar

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Christopher Rungkat kembali menyuarakan kesedihan dan kekecewaan yang masih dirasakan atas nasib sebagian lapangan tenis outdoor di komplek Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, yang dibongkar dan dialihfungsikan menjadi lapangan bisbol.

Perasaan serupa juga dialami rekan-rekan Christo sesama petenis Indonesia yang sempat menempa bakat di lapangan tenis GBK yang kini tak lagi sama.

“Bayangkan saja, rumah kita dibongkar terus diganti menjadi lapangan bisbol, pasti sedih,” kata Christo saat menyambangi redaksi Antara di Jakarta, Jumat.

“Kita dulu latihan di sini kok sekarang begini. Kita tumbuh di sini kok sekarang gini,” ujarnya lagi.

Baca juga: Kembali ke nomor ganda, jadi jalan pulang Christo ke Grand Slam

Rasa sedih dan kecewa Christo tak hanya berlandaskan pada romantisme yang dialaminya akan kenangan di lapangan tenis outdoor GBK, tetapi juga kesadarannya bahwa fasilitas yang memadai adalah salah satu syarat penting dalam upaya regenerasi cabang olahraga tersebut.

“Kalau kita mau bicara regenerasi, kita harus punya fasilitas dulu. Sebutlah saat pelatnas kita ada 20 orang, kemudian apakah itu cukup ditampung dengan jumlah lapangan sekarang,” kata Christo.

“Belum yang lain, untuk junior misalnya. Saya kira memang nggak cukup empat lapangan,” ujarnya melengkapi.

Baca juga: Christo petik jerih payah 12 tahun wujudkan mimpi tampil di Grand Slam

Sebelumnya, Christo sempat mengeluhkan nasib lapangan tenis outdoor GBK saat diwawancarai oleh kantor berita AFP selepas pertandingan putaran kedua nomor ganda campuran Wimbledon 2019 di London, Inggris, Selasa (8/7) setempat.

Pernyataannya itu tak ubahnya curahan hati putra bangsa Indonesia yang berusaha membagikan kebanggan lewat tenis, namun olahraga yang sama mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari pihak-pihak pemangku keputusan di negaranya sendiri.

Sejak 2016, belasan lapangan tenis outdoor GBK dibongkar demi menyediakan arena lapangan bisbol untuk Asian Games 2018, langkah yang sempat ditentang Pengurus Besar Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PB Pelti) namun tak terhenti.

Baca juga: Christopher Rungkat keluhkan fasilitas tenis

Baca juga: Keluhan dan impian petenis Christopher

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kembali ke nomor ganda, jadi jalan pulang Christo ke Grand Slam

Jakarta (ANTARA) – Pilihan petenis Indonesia Christopher Rungkat “kembali” ke nomor ganda berhasil membukakan jalannya untuk “pulang” dan tampil di turnamen kelas Grand Slam pada tahun 2019.

Christo, demikian sapaan akrab petenis berusia 29 tahun itu, pernah berjaya di nomor ganda saat merintis karier dan menjuarai turnamen Grand Slam Australia Open 2008 di level junior berpasangan dengan petenis Finlandia Henri Kontinen, sebelum kemudian menjadi runner-up US Open pada tahun yang sama.

Ketika Christo promosi ke level pro, ia menempuh jalur tunggal, sesuatu yang cuma mengantarkannya kandas di babak pertama kualifikasi Australia Open 2013 dan kerap membuatnya merenungkan pilihan-pilihan kariernya selama hampir 12 tahun terakhir.

“Setiap hari kadang saya masih berpikir apa worth it ya?” katanya saat menyambangi redaksi Antara di Jakarta, Jumat.

Kegagalan menembus babak utama Australia Open 2013, membuatnya berkontemplasi sembari masih mencoba peruntungan di nomor tunggal hingga 2016.

Sampai akhirnya, Christo tiba pada keputusan untuk mencoba jalur lain mewujudkan mimpinya tampil di Grand Slam.

“Setelah sampai 2016 sudah mencoba di nomor tunggal, saya berpikir sepertinya harus mencoba yang lain untuk mencapai mimpi itu,” katanya.

“Saya coba beralih ke profesi ganda putra dan dua tahun belakangan ini prestasi saya jauh lebih bagus dibandingkan di tunggal ya,” ujar Christo menambahkan.

Pada tahun 2018, Christo untuk pertama kalinya berhasil menembus peringkat 100 besar ranking ATP seusai menjuarai Busan Open, turnamen yang dimenanginya lagi setahun berselang dan jadi pijakan penting menuju mimpinya terwujud.

Sayangnya, peringkat ke-96 ranking ATP belum cukup untuk mengantarkannya tampil di Australia Open 2019 pada Januari lalu.

Christo bersama pasangannya petenis Taiwan Hsieh Cheng-peng kemudian mendulang poin lebih banyak dengan mencapai final turnamen level ATP 250, Sofia Open 2019, sembari menjuarai beberapa turnamen level ATP Challenger demi menembus peringkat 70-an ranking ATP.

“Nah di situlah ada chance untuk masuk ke French Open kemarin, di mana saya bisa menang di putaran pertama dan akhirnya bisa main lagi di Wimbledon,” ujar Christo.

Christo yang sudah “pulang” ke turnamen Grand Slam, tentu berharap ia akan berdiam lama di sana, termasuk kembali melantai ketika US Open 2019 digelar pada Agustus mendatang dan tahun-tahun berikutnya.

Ia mengaku berencana bertahan di nomor ganda setidaknya hingga 5-6 tahun mendatang, dan meraup prestasi apapun yang bisa diraih demi namanya pribadi dan tentunya untuk kebesaran tenis Indonesia.

Baca juga: Tiga fakta Christopher Rungkat, musik hingga minuman favorit

Baca juga: Christo petik jerih payah 12 tahun wujudkan mimpi tampil di Grand Slam

Baca juga: Trik Christopher Rungkat hadapi komentar warganet selepas tanding

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christo petik jerih payah 12 tahun wujudkan mimpi tampil di Grand Slam

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Christopher Rungkat baru saja tampil di babak utama dua turnamen kelas Grand Slam, French Open dan Wimbledon, mimpinya yang jadi kenyataan sebagai buah jerih payahnya 12 tahun berjibaku di dunia tenis profesional.

“Pasti pengalaman spesial banget buat saya, karena sebagai petenis Grand Slam itu kan kasta dan pencapaian tertinggi,” kata Christo saat berkunjung ke redaksi Antara di Jakarta, Jumat.

Christo pernah menjejaki permukaan lapangan keras di komplek Melbourne Park dan Billie Jean King National Tennis Center, lapangan tanah liat di Roland Garros maupun lapangan rumput All England Lawn Tennis and Croquet Club kala masih merintis karier di level junior, namun ia menegaskan tampil di arena-arena itu pada level pro adalah sesuatu yang sangat berbeda.

“Waktu junior saya sudah main di empat Grand Slam itu, Australia Open, French Open, Wimbledon dan US Open. Tapi bisa masuk Grand Slam di kelas profesional itu statement yang berbeda jauh dibandingkan junior,” katanya.

“Sebab terjun ke profesional itu nggak gampang, itu baru tercapai kurang lebih 12 tahun setelah keluar dari level junior baru bisa masuk lagi ke babak utama Grand Slam,” ujar Christo menambahkan.

Menjuarai nomor ganda putra Australia Open 2008 kelas junior bersama petenis Finlandia Henri Kontinen jadi raihan paling mentereng Christo, sebelum keduanya juga menjadi runner-up di kelas junir US Open tahun yang sama beberapa bulan berselang.

Akan tetapi, jalan terjal dilalui Christo ketika mulai memasuki kelas pro dan merintis karier di sektor tunggal, ia berusaha menembus Australia Open 2013 namun upayanya kandas di babak pertama kualifikasi.

Hampir 12 tahun setelah ia memasuki kelas pro sejak 2007, mimpi Christo terwujud berkat keberhasilan dua tahun beruntun menjuarai Busan Open ditambah Gwangju Open 2019, menjadi runner-up Sofia Open 2019, serta dua gelar sebelumnya di Da Nang Vietnam 2019 dan  Shenzen China 2019 di nomor ganda putra berpasangan dengan petenis Taiwan Hsieh Cheng-peng.

Christo/Hsieh berhak tampil ke babak utama French Open 2019 pada Juni dan Wimbledon 2019 sebulan kemudian nomor ganda putra berpasangan berdasarkan peringkatnya di ranking ATP.

“Hasil jerih payah dan pengorbanan saya bisa dibilang terbayar di Grand Slam kemarin itu,” ujar Christo.

Di permukaan tanah liat komplek Roland Garros, Christo/Hsieh melangkah ke putaran kedua dan memberi perlawanan sengit sebelum dihentikan pasangan Prancis Gregoire Barrere/Quentin Halys 6-7(6), 6-3, 3-6.

Sedangkan di Wimbledon, Christo/Hsieh memaksa pasangan Austria Oliver Marach/Juergen Melzer yang merupakan unggulan ke-14 melakoni pertandingan selama lebih dari tiga jam sebelum mendapati skor akhir 3-6, 4-6, 6-1, 6-2, 9-11 di putaran pertama.

Per 1 Juli 2019, Christo berada di peringkat ke-69 ranking ATP dan tentu berjuang untuk melanjutkan mimpinya agar bisa tampil juga di US Open pada akhir Agustus.

Baca juga: Petenis Christopher Rungkat ungkap rencana menikah

Baca juga: Christo sebut tantangan lolos ke Olimpiade 2020 cukup berat

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christo sebut tantangan lolos ke Olimpiade 2020 cukup berat

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Christopher Rungkat mengakui tantangan untuk lolos menuju Olimpiade 2020 Tokyo cukup berat apalagi saat ini ia masih berada di peringkat 69.

“Yang pasti cukup berat cuma kita gak pernah tahu. Contohnya tahun lalu (Asian Games 2018) kita gak ditargetkan emas tapi kita dapat emas,” kata Christo saat berkunjung ke Antara di Jakarta, Jumat.

Meskipun dirasa berat, namun ia optimistis dapat menempati posisi 10 besar ATP atau Asosiasi Tenis Internasional sehingga bisa turut bermain di kategori ganda bersama rekan satu negaranya.

“Kalau ganda kan harus dua orang jadi dari sayanya juga Aldilanya harus menaikkan rankingnya lebih bagus supaya ada chance maju ke Olimpiade,” tutur dia.

Petenis berusia 29 tahun itu mengatakan ia harus mengikuti banyak turnamen internasional untuk mengumpulkan poin hingga Juni 2020 yang merupakan batas waktu menuju Olimpiade.

“Kita punya waktu dan mungkin ini harus jadi target saya dan Aldila bagaimana kita harus mencapai goal tersebut dan memaksimalkan usaha untuk mencapainya,” katanya.

Sebelumnya Ketua Umum Persatuan Tenis Indonesia (Pelti) Rildo Anwar juga berharap petenis Christopher Rungkat dan Aldila Sutjiadi dapat lolos menuju Olimpiade 2020 Tokyo, Jepang.

Baca juga: Christopher Rungkat keluhkan fasilitas tenis

Baca juga: Christo berpeluang tampil pada nomor ganda Olimpiade 2020

Baca juga: Christo dan Aldila diharapkan tampil di Olimpiade 2020 Tokyo

Emas ke-10 yang sempurna persembahan Aldila dan Christopher

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priska tersingkir di perempat final

Jakarta (ANTARA) – Petenis Indonesia Priska Nugroho tersingkir pada perempat final Wimbledon junior setelah dikalahkan oleh petenis Amerika Serikat Alexa Noel 6-7(4), 2-6, Kamis waktu setempat.

Berdasarkan laman resmi Wimbledon, Priska menghasilkan 25 winner dibanding lawannya yang hanya 15, namun melakukan 37 kesalahan sendiri, jauh lebih banyak dibanding 21 yang dilakukan Alexa Noel.

Hasil tersebut lebih baik dibanding penampilan Priska di Australia Open ketika ia terhenti pada putaran ketiga, kalah oleh petenis Latvia Kamilla Bartone 3-6, 6-3, 3-6.

Sebelumnya, petenis berusia 16 tahun itu lolos ke perempat final setelah mengalahkan petenis Ceko Linda Fruhvirtova dalam tiga set 4-6, 6-3, 6-3.

Kemenangan di lapangan rumput ini menjadi pembalasan Priska atas kekalahan yang ia alami saat keduanya bertemu di lapangan tanah liat JA Milan bulan lalu.

Priska menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa pada babak delapan besar Grand Slam yang berlangsung di Inggris tersebut, setelah Christopher Rungkat tersingkir akibat kekalahan pada dua nomor yang ia ikuti itu.

Bersama petenis Taiwan Hsieh Cheng Peng pada nomor ganda putra, Christo tersingkir pada putaran pertama Wimbledon, sedangkan bersama petenis Jepang Shuko Aoyama, ia terhenti pada putaran kedua.

Priska bergabung dengan “Grand Slam Development Fund Team”, sebuah tim asuhan Federasi Tenis Internasional (ITF) yang mengajak petenis dari seluruh dunia ikut berkompetisi pada ajang Grand Slam.

Menurut Priska, bergabung dengan GSDF selain memberikan keuntungan berupa pengalaman bertanding di Grand Slam, juga menambah kualitas bermain berkat latihan yang sangat baik.

Meski baru bergabung selama dua bulan, bermula saat musim tanah liat, Priska sudah mendapat penilaian dan dukungan apik dari seluruh anggota tim GSDF, baik dari pelatih maupun dari sesama pemain.

Baca juga: Priska cetak prestasi ke perempat final junior
Baca juga: Priska nikmati pertandingan lapangan rumput Wimbledon

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Venus terangkan insiden “berdarah” sambil pangku anak

London, Inggris (ANTARA) – Petenis Selandia Baru Michael Venus tersingkir dari ganda putra Wimbledon, Kamis waktu setempat, sebelum menggelar jumpa media pascapertandingan sambil memangku putrinya yang masih berumur sembilan bulan. Di sini, dia juga menerangkan insiden berdarah kepala pasangan gandanya akibat tertimpa bola.

Petenis berusia 31 tahun itu membawa serta anak bayinya bernama Lila Grace ke media center untuk memberi kesempatan tunangannya Sally beristirahat setelah tersingkir dalam duel tiga jam di Centre Court. Dia sibuk menjawab pertanyaan wartawan sambil memangku anaknya itu.

Venus dan partnernya Raven Klaasen dari Afrika Selatan kalah pada babak semifinal dari pasangan Kolombia Juan Sebastian Cabal dan Robert Farah, 6-4, 6-7 (4/7), 7-6 (7/2), 6-4.

Pasangan Selandia Baru-Afrika Selatan ini adalah runner-up Wimbledon 12 bulan lalu. Klaasen memerlukan penanganan medis setelah kepalanya terpukul bola pengembalian servis Farah.

Baca juga: Ajang final jadi pertemuan kesebelas Serena dan Halep

Begitu darah mengucur, Farah bergegas menyeberangi net untuk menenangkan si petenis Afrika Selatan dan meminta maaf.

“Saya bilang dia untuk tegar,” canda Venus, sang juara French Open 2017 bersama mitranya saat itu Ryan Harrison.

Menurut Venus, Klaasen mengaku baik-baik saja setelah berdarah karena terkena bola tenis itu. Tapi dalam gaya masih berseloroh, “Dia tampaknya menyalahkan saya karena tak memukul bola.”

Cabal dan Farah akan menghadapi Nicolas Mahut dan Edouard Roger-Vasselin pada final.

Mahut dan Roger-Vasselin dari Prancis mengalahkan Ivan Dodig dan Filip Polasek 6-2, 7-6 (9/7), 7-6 (7/2) dalam semifinal.

Baca juga: Halep libas Svitolina menuju final Wimbledon pertama
 

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiga pertemuan fenomenal Federer lawan Nadal

Jakarta (ANTARA) – Para penggemar tenis menantikan sebelas tahun lamanya pertemuan kembali Roger Federer dan Rafael Nadal pada final Wimbledon ketika mereka bertemu pada final Grand Slam ini dalam edisi 2008 yang disebut sebagai salah satu pertandingan tenis terbaik sepanjang masa.

Menjelang semifinal Wimbledon 2019 yang mempertemukan kedua petenis, berikut tiga pertemuan mereka paling dikenang jagat tenis versi ATPTour.com.

Final 2006 Final, Federer menang 6-0, 7-6(5), 6-7(2), 6-3
Ketika masuk gelanggang final, kedua petenis sama-sama berbekal juara Grand Slam tahun itu. Federer adalah juara Australia Open, sedangkan Nadal juara French Open.
Federer menang mudah pada set pertama, membalikkan keadaan dari tertinggal 4-5 pada set kedua. Nadal bangkit pada set ketiga, namun Federer menggebrak sejak awal set keempat untuk mengakhiri pertandingan ini.
Federer yang sudah meraih 39 gelar selama karirnya dan delapan Grand Slam, menjadi petenis keenam yang empat kali berturut-turut menjuarai Wimbledon.
Federer menuntaskan 2006 dengan 12 kali juara level tour.

Baca juga: Serena 37 tahun terinspirasi Tiger Woods 43 tahun

Final 2007 Final, Federer kembali menang, 7-6(7) 4-6 7-6(3), 2-6 6-2
Nadal kembali mengalahkan Federer pada French Open yang tiga kali berturut-turut juara di Roland Garros. Pada final Wimbledon kedua mereka, Nadal menjadi lawang paling tangguh untuk Federer.
Nadal yang tujuh kali bermain terus-terusan akibat hujan deras yang mengganggu jadwal turnamen, memamerkan kekuatan mental dan fisik yang mengagumkan dengan memaksa sang juara bertahan empat tahun berturut-turut bermain dalam lima set.
Federer yang melepaskan 65 pukulan winner termasuk 24 ace dan sebuah backhand penentu kemenangan, menyamai rekor Bjorn Borg lima kali juara Wimbledon. Sebaliknya Nadal gagal menjadi pertama pertama setelah Borg pada 1980 yang menjuarai Frenc Open dan Wimbledon dalam tahun yang sama.

Baca juga: Serena dan Coco sama-sama terinspirasi wanita ini

Final 2008 Final, Nadal akhirnya menang 6-4 6-4 6-7(5) 6-7(8) 9-7
Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut kedua petenis bertemu pada final Wimbledon. Sang juara bertahan Wimbledon melawan juara bertahan French Open. Keduanya jago baik di lapangan hijau maupun tanah liat.
Nanal memenangkan dua set pertama, tapi kehilangan dua set berikutnya, dan menyudahi perlawanan Federer dalam pertandingan yang epik yang beberapa kali diganggu hujan
Hujan turun lagi untuk menghentikan sementara pertandingan ketika kedudukan 2-2 pada set kelima. Setelah ditangguhkan selama 30 menit laga dilanjutkan. Saat hari mulai gelap, Nadal akhirnya mengonversi peluangnya pada break point keempat untuk memimpin 8-7 setelah forehand Federer melebar.
Nadal akhirnya menang setelah melewati waktu bertanding 4 jam 48 menut. Saat itu pertandingan ini disebut laga paling lama dalam sejarah Wimbledon sejak 1877.
Pertarungan memperebutkan peringkat satu dunia akhirnya menghasilkan pertandingan tenis terbaik yang pernah ada.
Setelah itu setiap kali mereka bertarung dalam turnamen ini, pertemuan mereka selalu disebut sebagai pertandingan terbesar.

Baca juga: Ajang final jadi pertemuan kesebelas Serena dan Halep

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serena dan Coco sama-sama terinspirasi wanita ini

Jakarta (ANTARA) – Sensasi remaja Wimbledon Cori “Coco” Gauff dan Serena Williams yang beberapa saat lalu memastikan diri ke final tunggal putri Wimbledon 2019, diketahui sama-sama mengutip wanita kulit hitam yang sama sebagai inspirasi tenis mereka, tulis BBC, Jumat.

Wanita kulit hitam adalah petenis era 1950-an yang menjadi salah satu legenda tenis, Althea Gibson.

Gibson adalah pemain kulit hitam pertama yang menjuarai sebuah turnamen Grand Slam.

Pertama dia menjuarai French Open pada 1956, kemudian Wimbledon pada 1957 dan US Open pada tahun yang sama. Dia juga masing-masing dua kali menjuarai Wimbledon dan US Open.

Gibson lahir pada 25 Agustus 1927 dan meninggal dunia pada 28 September 2003).

Baca juga: Ajang final jadi pertemuan kesebelas Serena dan Halep

Dia juga pegolf professional, serta petenis kulit berwarna pertama yang menembus dominasi petenis kulit putih dalam tenis internasional.

Total dia telah 11 kali menjuarai turnamen seri Grand Slam, meliputi lima gelar tunggal, lima gelar ganda putri, dan satu gelar juara ganda campuran.

Gibson dimasukkan ke International Tennis Hall of Fame dan International Women’s Sports Hall of Fame.

“Dia adalah salah satu petenis terbesar yang pernah hidup,” kata Bob Ryland, mantan pelatih Venus dan Serena Williams.

Baca juga: Halep libas Svitolina menuju final Wimbledon pertama

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serena 37 tahun terinspirasi Tiger Woods 43 tahun

London, Inggris (ANTARA) – Kemenangan luar biasa Tiger Woods pada Masters tahun ini yang dicapai dalam usia 43 tahun telah menginspirasi Serena Williams yang tiga tahun lagi menjejak usia 40 tahun, kata Serena setelah mencapai final kesebelas Wimbledon-nya, Kamis.

Serena yang seandainya mengalahkan Simona Halep akhir pekan ini bisa menyamai rekor Margaret Court juara tunggal Grand Slam 24 kali, yakin teknologi telah membantunya terus sukses sekalipun harus jeda karena melahirkan anak.

Superstar tenis AS ini hanya kehilangan tiga gim dari lawannya dalam semifinal, Barbora Strycova yang berusia 33 tahun, dengan menang mudah 6-1, 6-2 dalam tempo kurang dari satu jam Kamis malam tadi.

“Saya kira teknologi telah sungguh mengubah,” kata Serena yang pada usia 37 tahun 291 hari menjadi finalis Grand Slam tertua dalam era modern.

“Itulah satu-satunya alasan saya bisa bersaing. Saya merasa, seandainya kita sudah memiliki teknologi ini 20 tahun lalu, mungkin (legenda NBA) Michael Jordan masih bermain basket,” sambung dia seperti dikutip AFP.

Baca juga: Ajang final jadi pertemuan kesebelas Serena dan Halep

“Saya cuma merasa kita tahu banyak sekali tentang tubuh kita. Hal yang saya lakukan sekarang berbeda dari pada ketika saya pertama kali di tour, teknologi memperpanjang karir saya.”

Serena yang awal musim ini terkena cedera lutut menyatakan bukan hanya dia dan Woods yang menikmati karir merentang panjang.

“Bukan cuma saya, ada Roger (Federer, 37 tahun), Tom Brady (atlet baseball terkenal AS berusia 41 tahun), Peyton (Manning, pemain liga profesional NFL), bermain selamanya. Ada begitu banyak atlet yang kini bisa lebih baik dan bermain lebih lama, bahkan menampilkan puncak permainan setelah usia 30-an.”

“Atlet-atlet itu, khususnya Tiger, apa yang dia capai pada Masters, telah mengilhami saya. Atlet-atlet itu luar biasa inspiratif. Itu satu hal yang membuat saya terus maju.”

Baca juga: Halep libas Svitolina menuju final Wimbledon pertama
 

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terkam Strycova, Serena tantang Halep di final

London, Inggris (ANTARA) – Juara tunggal putri Wimbledon tujuh kali Serena Williams menghentikan perlawanan petenis non unggulan asal Ceko, Barbora Strycova, dengan 6-1, 6-2 pada babak semifinal dalam tempo satu jam.

Serena ditantang Simona Halep pada final Wimbledon edisi tahun ini setelah perempuan Rumania pertama yang lolos ke Wimbledon itu menyingkirkan petenis Ukraina Elina Svitolina 6-1, 6-3.

Serena sudah dua kali kehilangan peluang menyamai rekor legenda Australia Margareth Court, setelah kembali ke lapangan usai melahirkan. Dia kalah pada final Wimbledon tahun lalu dan kemudian final US Open tahun yang sama.

“Rasanya menyenangkan berada lagi di final setelah setahun saya lewatkan,” kata petenis berusia 37 tahun itu seperti dikutip AFP.

Serena tampil dominan pada pertandingan semifinal Kamis ini, namun dia berjanji untuk tidak memandang ringan unggul ketujuh Halep.

Baca juga: Halep libas Svitolina menuju final Wimbledon pertama

“Dia lawan yang tangguh. Kami selalu melewati pertandingan yang hebat. Saya menantikan hal itu,” sambung Serena.

Strycova yang tak berkutik melawan Serena paling tidak dapat menghibur diri dengan berkesempatan juara pada nomor ganda putri.

Sedangkan Halep yang merupakan juara French Open 2018 akan tampil pada final Grand Slam kelimanya.

Halep sesumbar bahwa dia sekarang pemain yang berbeda dari sebelumnya dan sudah bisa menguasai lapangan rumput. “Saya sudah bayak pengalaman, saya tidak lagi menyerah,” kata dia. “Saya berencana menjadi versi terbaik dari diri saya dan berjuang sampai akhir.”

Baca juga: Tundukkan Querrey, Nadal hadapi Federer keempat kalinya di Wimbledon

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ajang final jadi pertemuan kesebelas Serena dan Halep

Jakarta (ANTARA) – Petenis Amerika Serikat Serena Williams akan memperebutkan gelar Grand Slam ke-24 dengan petenis Rumania Simona Halep pada final Wimbledon Sabtu pekan ini.

Serena Williams lolos ke final setelah menaklukkan Barbora Strycova 6-1, 6-2 untuk mencapai final Grand Slam ketiganya dalam satu tahun terakhir selain Wimbledon 2018 dan US Open 2018.

“Sekarang saya berada dalam situasi yang berbeda, sepertinya saya lebih tenang. Saya merasa tidak ada yang dirugikan, karena saya tidak bermain satu bulan lalu. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana saya menerimanya,” tutur Serena saat diwawancarai wtatennis.com, Jumat.

Pemenang Grand Slam 23 kali sudah memiliki Grand Slam lebih banyak daripada siapa pun pada Era Open setelah melampaui 22 gelar Stefanie Graf dua tahun lalu, dan sekarang Serena akan berupaya untuk menyamai 24 gelar yang dimiliki Margaret Court.

“Saya sebenarnya tidak memikirkannya karena itu benar-benar bukan tentang jumlah. Ini soal bertanding pada final dan memberikan upaya terbaik saya, tidak peduli apa pun kondisinya. Apa pun yang saya lakukan, saya akan selalu memiliki karier yang hebat,” pungkas Serena.

Baca juga: Halep libas Svitolina menuju final Wimbledon pertama

Strycova yang berusia 33 tahun menjadi semifinalis Slam pertama kali tertua pada Era Open melampaui Roberta Vinci yang berusia 32 tahun pada US Open 2015.

Servis permainan Serena yang sulit ditangkal dan pukulan yang kuat memastikan dia sama sekali tidak dipatahkan selama pertandingan, menyelamatkan ketiga break point yang dihadapi dan mengakhiri set pertama 6-1.

Serena terus mendominasi permainan pada set kedua dan memastikan kemenangan hanya dalam 59 menit.

“Aku berjanji, ketika aku memukul voli, aku seperti, apakah aku akan melakukannya jika aku tidak bermain ganda? Saya kira tidak, ”kata Serena. “Saya benar-benar merasa seperti itu membantu saya, tidak hanya untuk hari ini dan acara ini, tetapi mudah-mudahan itu akan membantu saya hanya di masa depan.”

Final besok akan menjadi pertemuan kesebelas Serena dan Halep, dengan keunggulan bagi Serena 9-1.

“Saya pikir kunci terbesar dengan pertandingan kami adalah kekalahan yang saya alami, saya tidak pernah melupakannya. Dia bermain luar biasa. Itu membuat saya sadar bahwa tingkat yang dia mainkan luar biasa. Jadi saya harus lebih baik dari itu,” tutur Serena merujuk kekalahan WTA Finals 0-6, 2-6 di 2015. 

Baca juga: Tundukkan Querrey, Nadal hadapi Federer keempat kalinya di Wimbledon

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Halep libas Svitolina menuju final Wimbledon pertama

Jakarta (ANTARA) – Mantan petenis putri nomor satu dunia Simona Halep bertahan dalam persaingan Wimbledon dengan berhasil menuju final untuk pertama kalinya di kejuaraan tersebut.

Halep melibas Elina Svitolina dengan dua set langsung 6-1, 6-3, menurut laporan wtatennis.com, Kamis.

Petenis Rumania itu bermain di semifinal pertamanya di Wimbledon sejak tahun 2014, sementara Svitolina melakukan debut pada tingkat Grand Slam.

Svitolina memimpin catatan pertemuan dengan Halep, memenangi tiga dari empat pertemuan terakhir mereka untuk maju.

Namun Halep, yang memenangi pertandingan terakhir mereka di Qatar Total Open, bangkit dari kekalahan lima poin untuk menghentikan kekalahan beruntunnya dari mantan pemain nomor tiga dunia itu.

Untuk putaran final, peringkat tujuh dunia ini masih menanti calon lawannya antara juara Grand Slam 23 kali Serena Williams dan Barbora Strycova, yang masih berebut posisi final di lapangan utama.

Baca juga: Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Halep lolos ke semifinal

Baca juga: Halep sudahi sensasi Gauff pada putaran keempat

Baca juga: Svitolina ke putaran tiga dengan mudah akibat Gasparyan cedera

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Federer cetak kemenangan Wimbledon ke-100, selanjutnya hadapi Nadal

Jakarta (ANTARA) – Petenis Swiss Roger Federer mengalahkan petenis Jepang Kei Nishikori dalam perempat final Wimbledon 2019, yang membuatnya membukukan kemenangan ke-100 di kejuaraan tersebut dan selanjutnya akan menghadapi Rafael Nadal di babak semifinal.

Federer mengalahkan Nishikori dalam empat set 4-6, 6-1, 6-4, 6-4 di All England Lawn Tennis and Croquet Club, London, Inggris, Rabu (10/7) setempat demi melaju ke semifinal Wimbledon ke-13 kalinya.

“Ini istimewa setelah bertahun-tahun bertanding di sini. Sebenarnya saya sama sekali tidak memikirkan hal itu saat bertanding, lalu ketika selesai ada yang mengucapkan ‘selamat atas kemenangan ke-100 anda,” kata Federer melansir atptour.com.

Federer, pemegang gelar juara delapan kali, adalah pemain pertama dalam sejarah yang meraih 100 kemenangan di kejuaraan Grand Slam.

Untuk rekor itu, di bawahnya ada mantan pemain nomor satu dunia Jimmy Connors yang memenangkan 98 pertandingan di Amerika Open.

Di awal tahun ini petenis Swiss berusia 37 tahun itu juga meraih gelar tur ke-100 di Dubai.

Baca juga: Djokovic pastikan posisi di semifinal ke-9 di Wimbledon

Kemenangan Federer yang merupakan unggulan kedua memastikan pertemuannya kembali dengan Nadal, setelah terakhir kali bertemu di final Wimbledon 2008 legendaris yang mereka jalani.

Nadal mengalahkan petenis Amerika Serikat Sam Querrey untuk maju ke semi final.

“Dia telah meningkat selama bertahun-tahun di permukaan (rumput) ini. Cara bermainnya juga sangat berbeda dari dulu. Saya senang bisa bermain dengan lagi,” katanya.

Federer akan bertemu Nadal di Wimbledon untuk keempat kalinya, dengan kemenangan bagi Federer pada dua kesempatan pertama untuk mengangkat piala dan Nadal mengklaim mahkota perdananya di The Championships pada 2008.

Namun Nadal masih memimpin catatan persaingan mereka dengan skor 24-15.

Baca juga: Priska cetak prestasi ke perempat final junior

Baca juga: Murray dan Williams terhenti pada babak ketiga

Baca juga: Murray belum akan main tunggal di US Open

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tundukkan Querrey, Nadal hadapi Federer keempat kalinya di Wimbledon

Saya tahu harus bermain sebaik mungkin jika ingin maju di final

Jakarta (ANTARA) – Petenis Spanyol Rafael Nadal menundukkan petenis Amerika Serikat Sam Querrey 7-5, 6-2, 6-2 untuk mencapai semifinal Wimbledon ketujuh dan ke-32 di tingkat Grand Slam.

Selanjutnya, Nadal akan bertemu dengan Roger Federer di semifinal, dengan pertemuan terakhir mereka di French Open (Roland Garros) berbuah kemenangan.

“Sungguh perasaan yang hebat untuk kembali ke semifinal. Bermain melawan Roger selalu merupakan situasi yang unik. Saya bersemangat untuk kembali ke lapangan ini, melawannya setelah 11 tahun,” tutur Nadal melansir atptour.com, Kamis.

Keduanya telah bertemu tiga kali di Wimbledon, final 2006 (Federer menang), final 2007 (Federer) dan final klasik 2008 (Nadal) yang dianggap sebagai pertandingan tenis terbesar sepanjang masa, dengan kemenangan 6-4, 6-4, 6-7 (5), 6-7 (8), 9-7 bagi Nadal.

“Saya hanya berharap hasil terbaik saat melawan seorang petenis yang mungkin terbaik dalam sejarah di permukaan rumput. Saya tahu harus bermain sebaik mungkin jika ingin maju di final,” kata Nadal.

Pada pertandingan delapan besar, Querrey menitikberatkan pada servis.

Namun unggulan ketiga Nadal mematahkan servis Querrey sebanyak enam kali sebagai balasan atas kekalahannya saat terakhir bertemu di Acapulco 2017.

Nadal menyelamatkan enam dari tujuh break point, mencetak 43 winners dengan hanya 12 kesalahan sendiri.

Sementara Querrey harus berbangga dengan 38 winners dan 22 penghitungan kesalahan sendiri.

Baca juga: Federer cetak kemenangan Wimbledon ke-100, selanjutnya hadapi Nadal

Baca juga: Federer, Nadal, Djokovic dominasi “Manic Monday”

Baca juga: Nomor tunggal putra Wimbledon masih dikuasai “Top Three”

Serunya bermain tenis meja di dalam Pasar Grogol

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019